Slide item 1

Faktor keselamatan terhadap para pekerjanya selalu menjadi prioritas utama sehingga setiap pekerja wajib menggunakan dosimeter film atau dosimeter termoluminisensi (TLD) saat bertugas

Slide item 2

Faktor manusia serta budaya keamanan adalah faktor yang sangat penting dalam menjamin keamanan di fasilitas tersebut dan keselamatan personil itu sendiri.

Slide item 3

Faktor keselamatan lingkungan dan daerah kerja juga tak luput menjadi fokus penelitian di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi.

Slide item 4

Faktor keselamatan lingkungan dan daerah kerja juga tak luput menjadi fokus penelitian di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi.

Slide item 5

PTKMR berupaya untuk meningkatkan pelayanan dengan mengadakan Temu Pelanggan setiap tahunnya.

Slide item 6

PTKMR menyatakan "STOP" dan "TIDAK" untuk GRATIFIKASI, SUAP, dan KORUPSI.

Indonesia merupakan salah satu negara penandatangan Konvensi Bersama tentang Keamanan Manajemen Sisa Bahan Bakar Nuklir dan Keamanan Manajemen Keselamatan Limbah Radioaktif, Konvensi Keamanan Nuklir dan Konvensi Proteksi Fisik terhadap Material Nuklir.

BATAN saat ini mengoperasikan dan menjaga keamanan tiga reaktor riset di tiga lokasi berbeda yaitu kompleks nuklir Bandung dengan reaktor TRIGA Mark II berkapasitas 2MW, kompleks nuklir Yogyakarta dengan reaktor TRIGA Mark II Kartini berkapasitas 100kW serta kompleks nuklir Serpong di Tangerang dengan Reaktor Serba Guna GA Siwabessy berkapasitas 30MW.

Pengamanan di fasilitas reaktor riset tersebut maupun kantor BATAN dilangsungkan dengan ketat. Pengunjung harus mengirim terlebih dulu surat permohonan kunjungan resmi dan menyerahkan surat identitas. Sebelum masuk di kompleks nuklir, pengunjung mengisi buku tamu kemudian diambil fotonya serta diberi kartu pengunjung yang selalu harus dipakai.

Pengamanan di reaktor memakai sistem keselamatan berlapis untuk meminimalisir dampak kerusakan ke manusia dan lingkungan sekitar. BATAN juga peduli terhadap keamanan dan keselamatan pemanfaatan radiasi di bidang kedokteran yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap paparan radiasi yang diterima oleh manusia. Sekitar 15% sumber radiasi yang diterima oleh manusia saat ini diperoleh dari aktivitas pemanfaatan radiasi di bidang kesehatan yang meliputi radiodiagnostik, radioterapi dan kedokteran nuklir.

Karena itulah BATAN mendirikan Laboratorium Fisika Medik yang menguji akurasi alat medis pengguna radiasi, dosis yang diterima pasien dan lainnya. Ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 33 tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif serta rekomendasi BS115. Aturan tadi menyatakan pengguna sumber radiasi di bidang kesehatan wajib menjalankan sistem proteksi yang meliputi justifikasi pemanfaatan tenaga nuklir, limitasi dosis, optimasi proteksi dan keselamatan radiasi.