Slide item 2
Slide item 1
Slide item 3
Slide item 4
Slide item 5
Slide item 6

(Jakarta, 24/11/2017). Melanjutkan kegiatan FGD Dosimetri yang dibentuk tahun 2016, FGD Dosimetri Radiofarmaka Medik tahun 2017 mengambil tema Sharing Knowledge pada uji klinis radiofarmaka baru, dengan mengundang narasumber dari BAPETEN dan Badan POM untuk mengetahui prosedur dan regulasi pada proses litbang medik klinis yang menggunakan radiofarmaka. 

FGD Dosimetri Radiofarmaka Medik ini diselenggarakan dengan tujuan sharing knowledge antara peneliti di bidang Fisika Medis, peneliti produksi radiofarmaka, dan klinisi Kedokteran Nuklir, sehingga diharapkan dapat terbentuk satu tim diskusi penelitian yang bersifat multidisiplin untuk mengembangkan litbang radiofarmaka beserta komponen teknologi keselamatan sebagai pendukungnya. Saat ini PTKMR telah memiliki kompetensi untuk mengembangkan metode estimasi dosis manusia berdasarkan hasil uji biodistribusi hewan coba. Sayangnya kompetensi ini masih belum banyak dimanfaatkan oleh para peneliti radiofarmaka. Sehingga diharapkan dengan adanya FGD ini akan terjalin komunikasi yang lebih baik diantara peneliti produksi radifoarmaka, peneliti FIsika Medis dan juga klinisi kedokteran nuklir yang nantinya akan menjadi pemanfaat radiofarmaka.


FGD ini terselenggara atas kerjasama Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) , Pusat Sains dan Teknologi NUklir Terapan (PSTNT) dan Pusat Teknologi Radiosiotop dan Radiofarmaka (PTRR) . Dengan dihadiri 40 peserta yang terdiri dari klinisi kedokteran nuklir dari RS Hasan Sadikin sebagai mitra litbang PTKMR, klinisi perwakilan dari Persatuan Kedokteran Nuklir Indonesia, peneliti dari PTRR dan PSTNT, dan juga dihadiri oleh mahasiswa FMIPA UI Peminatan Fisika Medik.


Dalam sambutannya, kepala PTKMR menyampaikan pesan bahwa diharapkan FGD Dosimetri Radiofarmaka Medik ini akan memberikan pengembangan wawasan dan kompetensi kepada para peneliti Fisika Medik, produksi radiofarmaka dan klinisi kedokteran nuklir, sehingga dapat terbentuk satu forum diskusi yang dapat melakukan koordinasi litbang radiofarmaka yang harmonis dan menghasilkan produk radiofarmaka baru yang dapat disertifikasi sebagai obat baru. Selain itu, sebagai tindak lanjut dari FGD ini, diharapkan dapat menghasilkan publikasi karya ilmiah yang bersifat multidisiplin dalam pengembangan radiofarmaka di Indonesia.