Slide item 1

Faktor keselamatan terhadap para pekerjanya selalu menjadi prioritas utama sehingga setiap pekerja wajib menggunakan dosimeter film atau dosimeter termoluminisensi (TLD) saat bertugas

Slide item 2

Faktor manusia serta budaya keamanan adalah faktor yang sangat penting dalam menjamin keamanan di fasilitas tersebut dan keselamatan personil itu sendiri.

Slide item 3

Faktor keselamatan lingkungan dan daerah kerja juga tak luput menjadi fokus penelitian di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi.

Slide item 4

Faktor keselamatan lingkungan dan daerah kerja juga tak luput menjadi fokus penelitian di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi.

Slide item 5

PTKMR berupaya untuk meningkatkan pelayanan dengan mengadakan Temu Pelanggan setiap tahunnya.

(Yogyakarta, 16/07/2019). Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), menggelar Workshop Petugas Proteksi Radiasi (PPR). Workshop ini merupakan ke - 5 kalinya yang rutin diselenggarakan PTKMR sejak tahun 2015. Workshop ini menjadi ajang komunikasi serta saling bertukar ilmu dan pengalaman terkait keselamatan kerja dan proteksi radiasi di BATAN. 

Merujuk pada Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Nomor 16 Tahun 2014, tentang Surat Izin Bekerja Petugas Tertentu yang Bekerja di Instalasi yang Memanfaatkan Sumber Radiasi Pengion, PPR didefinisikan sebagai petugas yang ditunjuk oleh Pemegang Izin dan oleh BAPETEN dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi radiasi.

“Semua sumber radiasi pengion dan sumber radioaktif diawasi oleh BAPETEN. PPR menjadi wajib ada ketika Pemegang Izin, dalam hal ini BATAN, memanfaatkan sumber radiasi pengion dan sumber radioaktif. PPR inilah yang menjadi 'kepanjangan tangan' BAPETEN dalam pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir agar manfaatnya diambil semaksimal mungkin dan risikonya dapat ditekan seminimal mungkin," ujar Ketua Panitia Penyelenggara Workshop, Nur Rahmah Hidayati,  saat diwawancara di sela - sela acara, di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN, Yogyakarta, Selasa (16/07).

Materi yang menjadi pembahasan pada workshop ini antara lain terkait standar keselamatan dasar yang baru dari Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), yakni IAEA GSR Part 3 sebagai panduan keselamatan radiasi, dan dokumen seri standar keselamatan nomor GSG 7 tentang panduan proteksi radiasi pekerja.

"Ajang ini menjadi media komunikasi bagi PPR agar mereka mengetahui pedoman terkait keselamatan dan proteksi radiasi terbaru baik nasional maupun internasional, dan menjaring masukan maupun permasalahan yang terjadi di lapangan untuk kita carikan solusinya bersama," tambah Nur.

Sesuai dengan amanat UU No. 10 tahun 1997, lanjut Nur, semua penggunaan tenaga nuklir harus memberikan manfaat sebesar - besarnya bagi kesejahteraan pekerja, masyarakat, dan lingkungan hidup dan mengurangi risiko sekecil – kecilnya. Dalam menjalankan tugasnya, seorang PPR  wajib memiliki Surat Izin Bekerja (SIB) dari BAPETEN dalam jangka waktu 3 tahun. PPR sendiri dibagi menjadi 3 bidang, yakni bidang medik, bidang industri, dan bidang instalasi nuklir. "Jangka waktu SIB - nya 3 tahun sekali untuk medik I dan Industri I. Bidang instalasi nuklir juga 3 tahun, sedangkan untuk Medik 2 dan Industri 2 jangka waktunya 4 tahun sekali. Sebelum masa berlakunya habis, PPR wajib mengikuti diklat penyegaran PPR dan wajib lulus diklat sebagai syarat memperoleh perpanjangan masa SIB dari BAPETEN," ungkapnya.

Pada workshop ini juga akan dibahas materi terkait penanganan masalah sumber dan efek radiasi pengion yang menjadi kajian salah satu komite Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB), yakni United Nation Scientific Commitee of Effect of Atomic Radiation (UNSCEAR). Indonesia menjadi 1 dari 27 negara anggota UNSCEAR yang aktif berpartisipasi. “Saya berkesempatan hadir pada sidang beberapa waktu lalu. Disana (Wina) dibahas bagaimana paparan radiasi yang ditimbulkan baik radiasi alam maupun buatan dari setiap negara anggota, agar menjadi kajian terkait keselamatan dan proteksi radiasi," lanjut Nur.

Worskhop ini dihadiri oleh 68 peserta dari 15 unit kerja di lingkungan BATAN, yang terdiri dari perwakilan PPR dan perwakilan bidang keselamatan. Mengusung topik “Meningkatkan Kompetensi PPR BATAN untuk Kerja Selamat, Sehat, dan Berkualitas”, Workshop akan berlangsung hingga esok hari, Rabu (17/07). Deputi Kepala BATAN bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN), Efrizon Umar berharap agar ada rangkuman hasil dari workshop ini untuk disampaikan ke pimpinan BATAN. "Berkurangnya SDM di BATAN, termasuk PPR, akibat banyak SDM yang pensiun jangan sampai mengurangi kualitas PPR. Oleh karena itu diharapkan para PPR dapat menjadi SDM yang multitasking saling bekerja sama antar unit kerja, dan harus saling berbagi informasi," tandasnya. (tnt).