Slide item 1

Faktor keselamatan terhadap para pekerjanya selalu menjadi prioritas utama sehingga setiap pekerja wajib menggunakan dosimeter film atau dosimeter termoluminisensi (TLD) saat bertugas

Slide item 2

Faktor manusia serta budaya keamanan adalah faktor yang sangat penting dalam menjamin keamanan di fasilitas tersebut dan keselamatan personil itu sendiri.

Slide item 3

Faktor keselamatan lingkungan dan daerah kerja juga tak luput menjadi fokus penelitian di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi.

Slide item 4

Faktor keselamatan lingkungan dan daerah kerja juga tak luput menjadi fokus penelitian di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi.

Slide item 5

PTKMR berupaya untuk meningkatkan pelayanan dengan mengadakan Temu Pelanggan setiap tahunnya.

(Jakarta, 12/11/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) menyelenggarakan Workshop Proteksi dan Keselamatan Radiasi Fasilitas Kedokteran Nuklir Terapi, di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, BATAN, Jakarta, Selasa, (12/11).

“Workshop ini sebagai media komunikasi dan saling berbagi pengetahuan dari berbagai profesi yang menangani kedokteran nuklir, mulai dari dokter spesialis kedokteran nuklir, fisika medis, radiofarmasis, radiografer, kepala departemen, sampai staf rumah sakit lainnya pun terlibat pada workshop ini,” jelas Ketua Penyelenggara, Nur Rahmah Hidayati.

Menurutnya, tanggung jawab keselamatan radiasi bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas proteksi radiasi atau fisika medis saja, melainkan menjadi tanggung jawab tugas semua profesi yang terlibat di dalam fasilitas kedokteran nuklir terapi.

Saat ini, lanjut Nur, di Indonesia terdapat 15 rumah sakit yang telah memiliki fasilitas kedokteran nuklir yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sembilan rumah sakit berada di luar Jakarta, yakni R.S Hasan Sadikin (Bandung), R. S Santosa (Bandung), R.S Adam Malik (Medan), R.S M. Djamil (Padang), R.S Abdul Wahab Sjahranie (Samarinda), R.S Ulin (Banjarmasin), R.S Dr. Sutomo (Surabaya), R.S Dr. Kariadi (Semarang), dan R.S Dr. Sardjito (Yogyakarta). Sedangkan 6 rumah sakit lainnya berada di Jakarta, yakni R.S Pusat Pertamina, R.S MRCCC Siloam, R.S Gading Pluit, R.S Cipto Mangunkusumo, R.S Kanker Dharmais, dan R.S Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto.

Adapun beberapa rumah sakit yang akan mendirikan fasilitas kedokteran nuklir terapi, antara lain R.S Bhakti Dharma Husada (Surabaya), R.S Adi Husada Cancer Center (Surabaya), R.S Moewardi (Surakarta), R.S Harapan Bunda (Lampung), R.S Bali Mandara (Denpasar), dan R.S Sandi Karsa (Makassar).

“Pada workshop inilah kita saling berbagi pengalaman, yang sudah advanced bisa berbagi pengalamannya mengelola kedokteran nuklir terapi, yang belum pengalaman bisa membangun jejaring komunikasi dengan rumah sakit lainnya,” imbuh Nur.

Workshop ini juga lanjut Nur, sebagai ajang dalam memperkenalkan PTKMR BATAN sebagai Technical Support Organization (TSO) di bidang proteksi radiasi bidang kesehatan. Menurutnya, PTKMR berperan penting dalam memberikan pelayanan seperti jasa kalibrasi berbagai peralatan kedokteran nuklir, mulai dari kalibrasi dose callibrator, Thermoluminescent Dosimeter (TLD), surveimeter, hingga uji kesesuaian alat-alat radiologi.

“Selain kalibrasi alat, kami juga menjalankan fungsi litbang dengan menggandeng Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia. Sebagai contoh kerja sama dengan RS Hasan Sadikin yang memiliki fasilitas kedokteran nuklir terapi. Karena, PTKMR  tidak memiliki pasien terapi, sedangkan peneliti dari PTKMR mengetahui ada teknologi baru, ada metode baru, ada protokol internasional baru, sehingga kita bersama-sama dengan klinisi dari rumah sakit melakukan riset yang belum dilakukan, dengan tujuan mendukung  keselamatan pasien yang lebih baik,” jelas Nur.

Deputi Kepala BATAN bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN, Efrizon Umar mengatakan, terkait masalah radiasi, dianalogikan sebagai pisau bermata dua, yaitu radiasi memiliki banyak manfaatnya tetapi juga memiliki efek merugikan jika tidak diperlakukan dengan baik. Untuk itu, ia menghimbau agar BATAN melalui PTKMR dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dapat membantu stakeholders rumah sakit dalam pengelolaan kedokteran nuklir terapi.

“Saat ini banyak peralatan baru di bidang medis, tentunya BATAN sebagai TSO harus memberikan respons cepat jika ada rumah sakit yang menghadapi permasalahan terkait proteksi radiasi, dan BAPETEN dalam pengawasannya, sehingga dalam workshop ini nantinya akan berlangsung diskusi bagaimana memaksimalkan kemampuan yang ada, agar maksimal dalam membantu masyarakat terkait kedokteran nuklir atau radioterapi,” pungkasnya.

Workshop ini diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan Coordinated Research Activities – International Atomic Energy Agency (CRP - IAEA) E23005 berjudul Dosimetry in Radiopharmaceutical Therapy for Personalized Patient Treatment, yang telah dilaksanakan sejak tahun 2017 atas kerja sama PTKMR BATAN dengan Departemen Kedokteran Nuklir dan Molekular Imaging R.S Hasan Sadikin Bandung.

Workshop ini diikuti oleh 95 peserta yang berasal dari 22 rumah sakit - baik  yang telah memiliki maupun yang akan membangun fasilitas kedokteran nuklir terapi, serta peserta dari internal BATAN (tnt).