RDE atau Reaktor Daya Eksperimental
Pilihan Teknologi RDE
Roadmap Pembangunan RDE
Lokasi RDE
RDE

(Jakarta, 18/09/2018) Indonesia melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berperan aktif dalam memperkuat upaya kolaborasi di komunitas negara-negara pengembang High Temperature Reactor (HTR). Peran ini oleh BATAN diwujudkan dengan menyampaikan status terkini pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Indonesia pada salah satu side event yang merupakan rangkaian kegiatan Sidang Umum – General Conference (GC), International Atomic Energy Agency (IAEA) ke-62 di Vienna, Austria, Selasa (18/09).

Wakil Dubes Indonesia untuk Austria, Witjaksono Adji dalam sambutan pembukaannya menyampaikan, maksud dan tujuan digelarnya side event. “Acara ini diselenggarakan merupakan bagian dari misi kami untuk memromosikan  dan mendiskusikan tentang isu-isu di bidang iptek nuklir dan pemanfaatannya,” kata Witjaksono.

Ia menambahkan, side event ini juga bertujuan meningkatkan upaya kolaborasi  antar negara yang tergabung dalam komunitas HTR yang dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama. Keberhasilan menerapkan teknologi HTR di Indonesia dan negara-negara pendatang baru lainnya, membutuhkan upaya kolaboratif sehingga menumbuhkan keterlibatan dari negara pendatang baru dan pemegang teknologi.

Menurut Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, RDE yang akan dibangun di BATAN merupakan reaktor dengan teknologi yang mengedepankan faktor keselamatan dan sangat bermanfaat bagi dunia industri. “Kita menganggap bahwa teknologi HTGR selain merupakan reaktor generasi ke-4 yang aman sebagai reaktor penghasil listrik juga menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan di dunia industri,” ujar Djarot.

Djarot menambahkan, BATAN telah menggagas program pembangunan RDE dengan menggunakan teknologi HTGR sejak tahun 2014 dan tahap pembuatan Basic Engineering Design telah dirampungkan pada tahun 2017 yang lalu. Saat ini telah memasuki tahapan penyusunan Detail Engineering Design (DED) dan pada bulan Juni 2018 telah direview oleh pihak IAEA.

Perkembangan teknologi HTGR di dunia semakin populer, dan beberapa negara mulai tertarik untuk mengembangkannya. “Trend ke depan HTGR akan semakin populer mengingat Arab Saudi, Polandia, Jordania sudah tertarik untuk menerapkan teknologi ini. Kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia mampu mendesain sendiri reaktor tersebut, dan kelak akan menjadi salah satu cikal bakal Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merah putih,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Kepala Pusat Teknologi Keselamatan Reaktor, BATAN, Geni Rina Sunaryo, pertemuan ini akan dimanfaatkan untuk menyampaikan kemampuan BATAN  dalam medesain reaktor sendiri. “Yang ingin kita sampaikan adalah kemampuan kita mendesain sendiri reaktor. Dengan cara inilah akan dapat menarik negara lain untuk terlibat dan melakukan kerja sama dalam program RDE. Yang pada akhirnya mampu menyakinkan pemerintah bahwa program ini menjanjikan,” ujar Geni.

Untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam mendisain, membangun, dan mengoperasikan reactor dengan teknologi HTGR, BATAN telah bekerja sama dengan Tsinghua University, Tiongkok. Ke depan menurut Geni, akan dilakukan kerja sama dengan Amerika Serikat dan negara lainnya, sehingga terdapat konsorsium besar HTGR, sekaligus mendapatkan pengakuan dari negara lain terhadap kemampuan BATAN. (Pur)