hut ri ke 76
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

Batan ikut peduli terhadap masalah sumber daya alam dan lingkungan yang terjadi di Tanah air. Sejumlah penelitian dan kegiatan iptek nuklir di Batan lalu difokuskan untuk mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan sumber daya alam dan lingkungan.

"Masalah Air"
persediaan air tanah sebagai sumber air bersih di Indonesia yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah adalah jumlahnya yang terbatas. padahal air tanah juga berfungsi sebagai penopang beban permukaan lapisan bumi.

Teknologi nuklir, khususnya pemakaian radioisotop untuk hidrologi, hadir sebagai solusi eksplorasi air tanah di daerah yang dilanda kekeringan. dengan teknologi tersebut, bisa diidentifikasi kawasan mana saja yang berpotensi memiliki air lebih banyak dibanding kawasan lain di daerah yang sama.

Radioisotop yang dipakai telah memenuhi persyaratan seper ti tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungan, harus larut dalam air, tidak akan diserap oleh tanah, tanaman dan organisme hidup lainnya. Jumlah radioisotop yang dilepas kelingkungan juga tidak boleh berlebihan.

Pada daerah-daerah kering, eksplorasi ditujukan pada pencarian sumber-sumber air yang letaknya jauh di dalam tanah. Caranya antara lain menggunakan isotop dalam metode pengukuran radioaktivitas lapisan tanah atau batuan ser ta memakai metode survei gas radon.

Gas radon dari dalam rekahan tanah itu akan berisi uap air sekaligus memancarkan radiasi dan bergerak vertikal melalui celah dalam lapisan tanah. pengukuran gas radon dapat menggambarkan ada tidaknya celah di bawah permukaan tanah yang kemungkinan berisi air.

"Teknologi nuklir melalui pemakaian radioisotop untuk hidrologi memungkinkan eksplorasi air tanah di daerah yang dilanda kekeringan."

BATAN sejak 2002 misalnya telah melakukan riset di kawasan Goa bribin, Gunung kidul, Yogyakar ta. para peneliti menggunakan zat radioaktif untuk mengetahui interkoneksi aliran air di dalam goa bawah tanah. Hasilnya terwujud sebuah bendungan bawah tanah per tama di Indonesia. air waduk itu dimanfaatkan untuk puluhan ribu penduduk sekitar, keperluan irigasi dan pembangkit tenaga listrik.

Menggunakan teknik analisis aktivasi Neutron (aaN), peneliti baTaN juga menguji kelayakan air di bawah tanah tadi. uji kelayakan dengan teknologi nuklir ini juga telah dilakukan pada sungai bawah tanah Ngobaran dan air tanah di Wonosari, Gunung kidul. Tim peneliti berhasil mengevaluasi unsur mineral Fe, Cd, Ca, Mn, dan Mg dengan tingkat akurasi tinggi. Hasil pengujian menunjukkan air tanah di Gunung kidul mempunyai kualitas yang baik.

Kemudian dilakukan juga penelitian daerah resapan air di bontang tahun 2004 ser ta pasuruan tahun 2005 dengan tujuan mengevaluasi cadangan air tanah yang tersedia di daerah-daerah tersebut. Terakhir pada 2013 telah dilakukan eksplorasi sumber air tanah di kabupaten Manggarai barat di Nusa Tenggara barat dengan hasil memuaskan sehingga kebutuhan air akan terpenuhi.

"Selain menentukan daerah resapan, pemakaian isotop juga dapat menentukan asal-usul air tanah."

Selain menentukan daerah resapan air tanah, teknik pemakaian isotop juga dapat menentukan asal-usul air tanah, meneliti sejauh mana intrusi air laut ke perkotaan, hingga menentukan gerak permukaan air tanah. untuk sumber mata air misalnya, penelitian dengan teknik nuklir bisa mengetahui asal air dari mana sehingga pemerintah bisa menjaga hutan yang tepat sebagai sumber air.

Sedangkan untuk mengetahui usia air tanah digunakan isotop hidrogen yang bersifat radioaktif seper ti Tritium. dengan metode tersebut, diketahui pula soal peta air tanah, apakah kandungan air itu sudah kritis atau belum, masih ada cadangan air atau tidak. Jika air hujan sudah masuk berar ti cadangan air sudah kritis.

Penelitian BATAN soal air lainnya terkait air di permukaan tanah. Caranya dengan memakai isotop untuk mempelajari karakteristik air tanah di permukaan seper ti debit sungai hingga interaksi air danau dengan sumber air lainnya.

Penanganan masalah rembesan atau kebocoran pada waduk atau bendungan juga penting dalam menjaga persediaan air di suatu daerah. Salah satu teknik yang telah terbukti dengan baik dapat digunakan dalam penanganan masalah kebocoran waduk atau bendungan air lainnya adalah teknik perunut isotop. Ini dilakukan misalnya pada penelitian di bendungan Sengguruh di Malang tahun 2005 dan reservoir lain seper ti Waduk dharma, Waduk Sempor ser ta Waduk Selorejo.

Sementara itu, penelitian kebocoran bendungan dilakukan dengan melepas radioisotop seper ti aurum-198 di titik tertentu yang diduga sebagai lokasi kebocoran. Radioisotop itu kemudian larut di dalam air sehingga jika terjadi kebocoran maka air berisi radioisotop dapat diketahui dan diukur jumlahnya. 

Air yang diinjeksi kemudian akan masuk dan mengikuti arah bocoran. dengan mengikuti atau mencacah air yang keluardari mata air atau sumur pengamatan yang terdapat di daerah hilir maka akan dapat diketahui ada tidaknya bocoran dan arah dari bocoran dam tersebut.

Teknik serupa yaitu melepaskan larutan isotop juga berlaku dalam penelitian dan pengukuran debit sungai. Isotop seper ti Iodium-131 dilepas dan diukur di bagian hilir sungai memakai peralatan berbasis teknik analisis aktivasi Neutron.
persyaratan radioisotop yang dipakai sebagai perunut sendiri ada beberapa macam misalnya tidak berbahaya bagi manusia atau mahluk hidup lain di sekelilingnya, aktivitasnya rendah, waktu paronya pendek, larut dalam air, tidak diserap oleh tanah atau fisik bendungan ser ta oleh tumbuhan.

Kemudian masih ada teknik lain yaitu gauging di mana radioisotop digunakan sebagai sumber ter tutup. efek radiasi terhadap sistem dapat mengetahui keadaan sistem tersebut. pemakaian teknik gauging ini antara lain untuk mengukur kandungan air dalam tanah, kepadatan tanah atau aspal dan beton. Teknik tersebut sering dipakai dalam teknik sipil misalnya untuk pembuatan pondasi bangunan, jalan raya, pembuatan tanggul dan lainnya.

"Mengatasi Polusi"
Masalah lainnya yang terkait dengan air adalah soal polusi. di bidang industri misalnya, pengolahan limbah cair masih terus berkembang. baTaN memanfaatkan teknologi magnet untuk pengolahan limbah tersebut. Sampel air dianalisa kemudian bahan yang mengandung magnet dimasukkan ke dalamnya. air lalu menjadi bersih sehingga bisa dibuang ke sungai.

Cara magnetik ini lebih cepat bekerja dibanding proses pengendapan yang biasa ditempuh pihak industri. keuntungan lainnya adalah ramah lingkungan karena tidak menimbulkan residu atau bahan sisa, dapat digunakan berulang-ulang, dan tidak membutuhkan bahan kimia tambahan.

BATAN juga meneliti penggunaan hidrogel atau penyerap air dari polimer untuk aplikasi penyerapan logam berat di air. Misalnya menyerap cemaran industri yang mengganggu lingkungan. dapat juga untuk menanggulangi masalah
tingginya frekuensi penggunaan pupuk anorganik yang merusak tanah.

Polimer itu dibuat dari bahan lokal seper ti misalnya ampas tebu atau tepung tapioka ser ta sodium akrilat. Tambahan lain berupa mineral alam zeolit yang mudah didapat di Tanah air.

Teknik analisis aktivasi Neutron (aaN) juga telah digunakan oleh BATAN dalam mendata unsur polutan logam berat di daerah aliran Sungai Ciujung, banten. Selama ini sungai tersebut dijadikan tempat pembuangan limbah industri sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat.

Data kualitas sungai itu dapat menjadi masukan dalam pengelolaan aktivitas yang berisiko mencemari lingkungan perairan. Masyarakat juga diharap menjadi lebih sadar dan aktif menjaga lingkungan.

Kemudian teknik AAN digunakan pula untuk menguji tingkat pencemaran logam berat di sejumlah sungai di dI Yogyakar ta, di antaranya Sungai Code dan Sungai Gajah Wong. Target lainnya adalah sungai-sungai kecil yang menampung aliran limbah industri kulit dan karet.

Bahaya lainnya adalah terhirupnya gas radon yang merupakan gas radioaktif alam. Sebagian kecil radon akan tertinggal dalam paru-paru sehingga dapat kemungkinan menimbulkan kanker paru-paru. Jadi diperlukan adanya alat yang dapat mendeteksi tingkat radiasi radon di udara.

BATAN telah mengembangkan prototipe perangkat pemantau radon di udara. Sistem dilengkapi dengan perangkat lunak untuk mencatat besarnya cacah dan spektrum energi radon. diharapkan nantinya hasil rekayasa perangkat pemantau radioaktivitas radon ini dapat dipakai sebagai alat keselamatan pekerja di lingkungan laboratorium, industri dan pertambangan.

PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Aplikasi teknik nuklir dalam hidrologi juga berguna dalam penentuan gerakan sedimen di pelabuhan atau daerah pantai. Selama ini masalah pendangkalan pelabuhan dan alur pelayaran yang menyangkut kelangsungan pelayanan perhubungan laut sudah cukup serius. Meski merupakan peristiwa alam namun pergerakan dan pengendapan lumpur tanah ini harus dikendalikan. Terjadinya pendangkalan mengakibatkan kapal-kapal besar tidak dapat merapat kedermaga sehingga mengganggu proses bongkar-muat barang. pengerukan lumpur itu juga membutuhkan biaya besar.

Salah satu usaha memperkecil kecepatan terjadinya pendangkalan atau endapan lumpur itu adalah dengan mengetahui dari mana asal lumpur dan ke mana arah gerakan se
dimen lumpur. Teknik nuklir digunakan untuk mengestimasi laju pendangkalan dengan perantaraan perunut radioisotop.

Radioisotop yang dipakai adalah pasir tiruan yang bentuk dan ukurannya menyerupai pasir di pelabuhan yang akan diteliti. Radioisotop yang sering dipakai adalah Iridium-192, aurum-198 dan Scandium-46.

Radioisotop lalu akan diinjeksikan ke dasar laut dan radiasi yang dipancarkannya akan dilacak dengan detektor. Respon dicatat memakai mesin pencatat radiasi. pemantauan terhadap radioisotop yang dilepas ke dasar laut ini dilakukan beberapa kali dalam jangka waktu ter tentu.


Dari hasil pemantauan itu secara kumulatif dapat ditentukan arah gerakan sedimen, tebal lapisan sedimen dan kecepatan rata-rata lapisan sedimen. data tersebut juga dapat dipakai untuk menentukan pembangunan pelabuhan baru yang sesuai dan tidak memerlukan biaya tinggi.

BATAN pada tahun 2012 juga telah berhasil menyusun peta tingkat radiasi dan radioaktivitas lingkungan di Indonesia. Melalui penelitian sejak 2005, peta tersebut menggambarkan tingkat radiasi gamma dan radioaktivitas beberapa radionuklida melalui pengukuran dari mulai barat Sumatera hingga kalimantan dan papua. pengukuran laju dosis radiasi gamma dilakukan langsung di lapangan dengan mengukur sampel tanah memakai surveimeter exploranium Model GR-130.

Kegunaan peta tersebut antara lain sebagai data dasar radiasi dan radioaktivitas alam di Tanah air. Jadi misalkan ada kenaikan data radiasi karena faktor lain dapat diketahui dengan cepat. Manfaat lainnya untuk meneliti tingkat kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah radiasi tinggi sekaligus peta ini menjadi indikasi ada tidaknya bahan tambang uranium dan lainnya.

Kegiatan penelitian lain yang tengah berlangsung adalahanalisa gas radon. Ini terkait kehidupan modern yang semakin banyak memanfaatkan pendingin ruangan atau aC sehinggi memper tinggi kandungan radon di udara. Gas itu kemudianakan terhirup oleh manusia. padahal kombinasi radon yang makin tinggi dengan radikal bekas di udara memper tinggi kemungkinan kanker paru-paru.

Kepedulian BATAN terhadap masalah pencemaran lingkungan ikut diwujudkan dengan penelitian teknik bioremediasi untuk memperbaiki lahan. Contohnya lahan tercemar minyak di Cepu yang sempat tidak produktif. Selama tiga bulan dilakukan bioremediasi memakai biokompos dan mikroba. akhirnya lahan itu dapat ditanami kembali dengan rumput gajah dan pohon jati.

Bioremediasi juga telah diterapkan pada lahan pasir di kawasan Jonggol, Jawa barat. bakteri dalam pupuk mampu merangsang per tumbuhan akar sehingga lahan pasir dapat ditanami dengan jagung. bioremediasi kini tengah diuji coba di kawasan tercemar logam timah di bangka. Ini untuk menjawab permintaan masyarakat setempat yang ingin lahannya dapat ditanami dengan tanaman lada.

Sementara itu, onggok atau limbah tapioka yang sebelumnya tidak bermanfaat ser ta mengotori lingkungan kini telah dapat diubah oleh peneliti baTaN menjadi barang berguna yang ramah lingkungan. Stok onggok sendiri mudah didapat dari daerah penghasil singkong seper ti lampung, klaten, kebumen, kuningan dan di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Persoalan plastik memang banyak terkait dengan perubahan iklim di bumi. pasalnya, plastik sulit terurai di alam karena sulit dimakan oleh jasad renik. agar terurai secara sempurna, plastik memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun. Sulitnya penguraian ini, menyebabkan limbah plastik yang tak terpakai akan menumpuk dan mencemari lingkungan. Sementara tren gaya hidup sekarang semakin banyak memakai produk dari plastik.

Melalui penelitian di baTaN oleh Sudrajat Iskandar sejak 2002, onggok yang sudah diradiasi itu diolah menjadi bijih plastik yang ramah lingkungan karena dapat terurai hanya dalam jangka waktu satu sampai dua bulan. awalnya Sudrajat Iskandar telah banyak mencoba beragam sari pati tanaman, seperti sari pati jagung, sagu hingga akhirnya mengolah sisa tapioka.

Selanjutnya bijih plastik ramah lingkungan yang sudah melalui uji kementerian per tanian ini dapat dikembangkan menjadi bahan aneka produksi seper ti untuk pot bunga hingga kantong belanja. baTaN bekerjasama dalam hal ini dengan PT Sarana Tunggal Optima ser ta pabrik plastik di Surakarta.

Bisa juga bijih plastik dibuat menjadi gantungan baju yang ramah lingkungan dan lebih lentur sehingga lebih disukai konsumen. bijih plastik ramah lingkungan ini juga bisa digunakan pada mesin cetak injeksi (injection moulding), injeksi hidrolik, maupun cetak tiup ( blow moulding). bahan dasarnya masih bisa dikembangkan menggunakan bahan lain seper ti limbah serbuk gergaji, sekam padi, ampas padi dan sebagainya.

Harapannya, inovasi pembuatan plastik tersebut akan diarahkan kepada para pengguna plastik dari masyarakat menengah kebawah sebab limbah plastik yang banyak memenuhi tempat pembuangan sampah adalah plastik- plastik biasa yang dipakai oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.

Penelitian lainnya terkait dengan masalah bahan bakar bioetanol. Sumbernya dari tandan kosong kelapa sawit yang dihaluskan dan diradiasi. biasanya limbah tandan kosong kelapa sawit yang kaya lignoselulosa itu dibuang begitu saja. dapat pula memakai limbah serbuk kayu dari industri yang belum dimanfaatkan secara optimal.