PZI dan WBK

Pembangunan Zona Integritas di PSTA

Pembangunan Zona Integritas di PSTA Jogja untuk mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani

Keamanan Nuklir PSTA

Keamanan Nuklir PSTA

Menguji kemampuan masing-masing personel dalam melaksanakan tugas agar siap menghadapi kedaruratan nuklir

Keamanan Nuklir PSTA

Keamanan Nuklir PSTA

Latihan ini diharapkan akan lahir sejumlah lesson learn yang berharga yang akan selalu bisa meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan

Keamanan Nuklir PSTA

Keamanan Nuklir PSTA

Latihan ini sangat penting dan strategis karena melibatkan sejumlah instansi terkait yang paling bertanggungjawab sekiranya terjadi kedaruratan nuklir

Keamanan Nuklir PSTA

Keamanan Nuklir PSTA

Meningkatkan kemampuan taktis semua komponen penanggulangan bencana di DI Yogyakarta dalam menjalankan operasi kedaruratan

Reaktor riset Kartini Yogyakarta

Reaktor riset Kartini Yogyakarta

Reaktor riset Kartini Yogyakarta adalah reaktor nuklir kedua milik Indonesia

Reaktor riset Kartini Yogyakarta

Reaktor riset Kartini Yogyakarta

Selain untuk tugas akhir di perguruan tinggi, reaktor Kartini juga bisa dikunjungi oleh masyarakat.

Mineral strategis

Mineral strategis

Mineral strategis milik Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi

Mineral strategis

Mineral strategis

Logam tanah jarang mempunyai fungsi vital dalam industri teknologi tinggi, mulai dari memori komputer, hybrid car, magnet, sampai cat anti radar.

Mineral strategis

Mineral strategis

Logam strategis yang memiliki potensi menjadi unggulan masa depan Indonesia

Mineral strategis

Mineral strategis

Logam tanah jarang, Zirkon, Titanium merupakan unsur logam strategik untuk aplikasi teknologi maju dan teknologi nuklir

Slide item 11

Pemisahan Uranium dan Thorium dari monasit bisa dilakukan di PSTA

Keamanan Nuklir PSTA

Keamanan Nuklir PSTA

Dekontaminasi oleh petugas proteksi radiasi untuk memastikan keadaan sudah benar-benar aman

(Yogyakarta, 8/11/2019).  Sekelompok mahasiswa STTN sedang praktikum di salah satu gedung menggunakan alat radiografi mobile berisi sumber radiasi Co-60. Aktivitas sumber yang digunakan sebesar 1 Curie. Tiba-tiba terdengar bunyi alarm bahaya kebakaran. Terjadi kebakaran di kampus STTN lantai 3 sebelah Utara, disebabkan terjadinya hubungan arus pendek. Kelompok mahasiswa yang sedang praktikum tadi, segera menghentikan kegiatannya, bersama dengan mahasiswa lain bergegas menuju ke titik kumpul. Sumber radiasi yang digunakan untuk praktikum ditempatkan di lokasi aman, jauh dari kebakaran.

Ketika proses evakuasi sedang dilakukan, seorang intruder (pengacau) melihat alat radiografi di pinggir lapangan, lalu mencoba mengambilnya untuk dibawa keluar. Sampai di pintu keluar, pengamanan mendatanginya, intruder panik dan segera melarikan diri. Karena panik intruder menjatuhkan alat radiografi dan mengakibatkan sumber radiasi keluar dari pelindungnya. Petugas Pengamanan berhasil menangkap pengacau untuk diinterogasi selajutnya diserahkan ke Polsek Depok Barat.

Di tempat lain saat evakuasi, seorang mahasiswa penderita asma di lantai 4 pingsan karena terkena asap kebakaran dan satu pegawai dari lantai 2 terpeleset di tangga karena turun tangga dengan terburu-buru. Demikian sekelumit alur yang disekenariokan pada latihan Kedaruratan Nuklir di Kawasan Nuklir Yogyakarta (7/11/2019)

Kawasan Nuklir Yogyakarta secara rutin melakukan latihan kedaruratan nuklir. Hal itu tertuang dalam peraturan bahwa Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) wajib melaksanakan latihan kedaruratan nuklir. Latihan ini sangat bermanfaat untuk tim Pelaksana Penanggulangan Kedaruratan Nuklir (P2KR) dalam merespon segala bentuk bahaya yang terkait dengan radiasi.

Plt. Kepala PSTA Ir. Gede Sutresna Wijaya, M.Eng mengatakan bahwa di kawasan ada fasilitas nuklir, salah satunya adalah reaktor Kartini, dan fasilitas iradiator yang ada di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN). Beberapa laboratorium juga menggunakan sumber radioaktif, baik tertutup dan terbuka. Radioaktif ini berpotensi bahaya apabila tidak ditangani dengan baik. Hal itu disampaikan Gede di depan peserta dan undangan acara Latihan Kedaruratan Nuklir.

Dalam beberapa hari ini panas matahari di Jogja terasa menyengat, sehingga saat pelaksanaan latihan, terjadi kejadian di luar sekenario yaitu dua petugas mengalami kelelahan, bahkan pingsan di lapangan. “Itulah yang memang harus dihadapi dalam latihan, jadi tidak melulu harus dengan pakem yang sudah disekenariokan. Kadang hal-hal di luar sekenario bisa saja terjadi. Ini menjadi pelajaran berharga untuk kita bersama,” tutur Gede yang mengakui bahwa tim di lapangan sudah sangat solid sehingga kejadian di luar sekenario bisa ditanggulangi dengan baik.

Dalam latihan seperti ini diperlukan koordinasi melalui satuan-satuan yang selama ini sudah terbentuk di PSTA, seperti satuan pengamanan dan PPG, pemadam kebakaran, SAR dan evakuasi, petugas proteksi radiasi, dan satuan bantuan medis. Karena PSTA BATAN adalah lembaga yang berurusan dengan radiasi, maka sangat diperlukan satuan petugas proteksi radiasi yang tugasnya adalah mengamankan sumber radiasi, menanggulangi personil termasuk tempat kejadian dan peralatan yang mungkin saja terkontaminasi.

Untuk menangani sumber radiasi yang tercecer saat terjadi kepanikan bahaya kebakaran, satuan petugas proteksi membagi menjadi 3 gugus. Gugus satu membuat safety perimeter. Setelah itu gugus tiga masuk menentukan titik akses dan menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Selanjutnya gugus dua masuk hotzone menyisir sumber yang tercecer dan memberikan tanda untuk melokalisir sumber radiasi.

Setelah itu gugus satu kembali masuk untuk mengamankan sumber, anggota lainnya menyiapkan kontainer di dekat tanda yang sudah dilokalisir. Lalu anggota yang lain mengambil sumber kemudian memasukkan ke dalam container. Kontainer diamankan di luar safety perimeter, anggota lainnya mengukur paparan di area tanda lokalisir sumber untuk memastikan sumber radiasi telah diamankan. Gugus lainnya kembali masuk untuk menyisir adakah sumber radiasi lain yang tercecer dan memastikan area bebas kontaminasi. Setiap petugas yang keluar dari hotzone dilakukan pemantauan personil tingkat kontaminasi oleh gugus tiga. Setelah dinyatakan bebas kontaminasi, seluruh peralatan dirapikan.

Saat dilakukan evauasi setelah latihan selesai, Mahrus Salam selaku Radiological Assessor (RA) pada tim proteksi radiasi membantah jika timnya dikatakan tidak mentaati SOP dalam latihan ini. Dijelaskan Mahrus bahwa semua yang dilakukan bersama timnya sudah sesuai prosedur. Saat dilakukan penyisiran, potensi radiasinya hanya eksterna.  

Lebih lanjut dikatakan Mahrus bahwa pengukuran level radiasi pada posisi 20 cm disisi sumber sebesar 20 milisivert per jam, sedangkan pada safety perimeter sebesar 100 mikrosivert per jam. “Ini jauh lebih kecil dari posisi dekat sumber. Jadi petugas Radiological Assessor (RA) dan Pengendali Operasi tidak perlu menggunakan pakaian overall untuk melakukan koordinasi yang cepat dan terarah dalam menanggulangi bahaya kedaruratan radiasi,” tutur Mahrus saat dikonfirmasi. Selain itu kedua petugas itu melakukan koordinasi di luar safety perimeter. Tindakan penanggulangan dilakukan untuk memastikan bahwa kondisi yang terjadi tidak memberikan dosis radiasi yang berlebih kepada pekerja maupun masyarakat.

Perlu diketahui bahwa tindakan pengendalian proteksi radiasi menerapkan 3 prinsip proteksi radiasi eksterna yaitu jarak, waktu dan shielding (perisai). Fungsi jarak artinya petugas menggunakan long tang maupun telesurveymeter dalam penanganan sumber, untuk mengoptimasi jarak. Fungsi waktu untuk pembatasan waktu petugas menangani sumber radiasi. Berikutnya menggunakan fungsi shielding, yaitu sumber radiasi dimasukkan kembali ke dalam kontainer terbuat dari Pb (timbal), sekaligus memastikan laju dosis radiasi setelah sumber dimasukkan ke dalam kontainer berada pada level yang diizinkan. Latihan penanggulangan kedaruratan ini menggunakan sumber radiasi sungguhan yaitu Co-60.

Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) selaku observer memberikan penilaian baik terhadap pelaksanaan kegiatan latihan ini. Dalam tugasnya Bapeten juga melakukan inspeksi rutin ke PSTA setahun dua kali, yaitu satu kali sesuai jadwal dan satu lagi melakukan inspeksi secara mendadak. (biw)