Slide item 1

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

WTP

Opini WTP

BATAN telah 6 X sejak tahun 2009 menerima opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK

Pemerintah dituntut untuk mampu mengelola keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel serta pengamanan aset dan mematuhi peraturan perundang-undangan.

Oleh karena itu pimpinan wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Penerapan SPIP di BATAN adalah sebagai wujud pelaksanaan salah satu agenda Reformasi Birokrasi BATAN untuk mendorong terciptanya iklim yang kondusif dalam mencegah KKN dan memperkuat akuntabilitas penyelenggaraan tugas dan fungsi BATAN yang bermuara pada tata kelola pemerintahan yang baik. Hal ini dikarenakan SPIP mempunyai 4 tujuan yang ingin dicapai yaitu :

  1. Kegiatan yang efektif dan efisien,
  2. Laporan keuangan yang dapat diandalkan,
  3. Pengamanan aset negara, dan
  4. Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 bahwa SPIP terdiri dari lima unsur, salah satu unsur mengharuskan BATAN untuk melakukan penilaian risiko (risk assessment), mengingat setiap aktivitas yang dilakukan tidak terlepas dari adanya risiko, baik pada tingkat strategis, organisasional maupun operasional. BATAN dalam mengimplementasikan SPIP, pada tahun 2015 akan melanjutkan penilaian risiko pada unit kerja dikedeputian Bidang PTN dan Sekretriat Utama. Dalam melakukan penilaian risiko tersebut difasilitasi oleh Inspektorat dan bimbingan teknis dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangnan (BPKP) sebagai instansi pembina SPIP. Mengingat penilaian risiko adalah unsur yang sangat penting dalam SPIP maka apabila risiko yang dihadapi oleh setiap unit kerja BATAN tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu pencapaian tujuan, oleh karena itu pimpinan perlu untuk mengenali dan melakukan pengelolaan risiko.

Metoda yang digunakan dalam penilaian risiko adalah Control Self Assessment (CSA) yaitu metode penilaian resiko yang dilakukan secara mandiri oleh setiap unit kerja BATAN. Teknik yang digunakan dalam CSA adalah kelompok diskusi terbatas atau

focus group discussion (FGD) yang difasilitasi oleh fasilitator. Hasil dari penilaian risiko adalah diperolehnya daftar risiko, peta risiko, status risiko dan rencana tindak pengendaliannya sebagai saran masukan kepada pimpinan mengenai manajemen risiko di setiap unit kerja BATAN. Dengan demikian diharapkan seluruh unit kerja BATAN nantinya akan mampu melaksanakan penilaian risiko pada setiap kegiatan sehingga tugas dan fungsi dapat tercapai dengan baik.

Tugas, Fungsi dan Kebijakan
Dalam mengimplementsikan SPIP di BATAN setiap tahun dibentuk Satgas SPIP yang mempunyai tugas dan fungsi membangun SPIP di unit kerjanya masing-masing. Kebijakan dalam mengimplementasikan SPIP tersebut tercantum dalam Peraturan Kepala BATAN Nomor 214/KA/XI/2012 tentang Pedoman Penyelenggaraan SPIP BATAN. Terkait dengan penilaian risiko sangat diharapkan peran Satgas SPIP dan komitmen dari pimpinan dan pemilik risiko disetiap unit kerja untuk melaksanakan hasil yang diperoleh dari penilaian risiko yaitu melaksanakan Rencana Tindakan Pengendalian (RTP) sehingga tujuan dapat dicapai. Peran Inspektorat dalam hal ini adalah memfasilitasi pelaksanaan penilaian risiko dan secara umum melakukan pembinaan dan menilai efektifitas pelaksanaan SPIP di seluruh unit kerja BATAN.

BATAN adalah salah satu Lembaga Non Kementerian yang mempunyai tugas melaksanakan pemerintahan dibidang penelitian, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sesuai dengan agenda Reformasi Birokrasi BATAN salah satu kegiatannya adalah penerapan SPIP di BATAN. Penerapan SPIP di BATAN adalah untuk mendorong terciptanya iklim yang kondusif dalam mencegah KKN dan memperkuat akuntabilitas penyelenggaraan tugas dan fungsi BATAN yang bermuara pada tata kelola pemerintahan yang baik. Dalam menerapkan SPIP, BATAN telah membangun infrastruktur yaitu dengan diterbitkannya beberapa Peraturan Kepala BATAN terkait dengan penerapan SPIP. Dalam implementasinya, pada tahun 2013 telah dilakukan Pemetaan/Diagnostic Assessment (DA) Lingkungan Pengendalian pada unit kerja

di lingkungan Deputi Bidang Penelitian Dasar dan Terapan dengan bimbingan teknis dari Tim SPIP BPKP. Dari hasil pemetaan tersebut diperoleh output berupa Disain Penyelenggaraan SPIP di Lingkungan Deputi Bidang PDT.

Pada tahun 2014 Inspektorat dengan bimbingan teknis dari BPKP bersama-sama dengan Satgas SPIP unit kerja dilingkungan Deputi Bidang SATN telah melaksanakan penilaian risiko. Hal tersebut sebagai tindak lanjut dari rencana kerja yang tercantum dalam Disain Penyelenggaraan SPIP dilingkungan Deputi Bidang PDT. Disamping itu juga sebagai pelaksanaan amanat yang tercantum dalam PP No. 60 Tahun 2008 pasal 13 ayat (1) yang menyebutkan bahwa pimpinan instansi wajib melakukan penilaian risiko.

Pada tahun 2015 akan dilanjutkan penilaian risiko pada unit kerja di kedeputian Bidang PTN dan Sekretariat Utama. Dalam penilaian risiko tersebut Inspektorat berperan sebagai fasilitator dan dibimbing oleh Tim SPIP BPKP. Sebagaimana kita ketahui bahwa penilaian risiko adalah salah satu unsur SPIP yang sangat penting karena setiap business process dalam suatu kegiatan melekat risiko yang dapat menghambat tujuan. Dengan melakukan penilaian risiko dapat diidentifikasi risiko-risiko yang dapat menghambat tujuan serta upaya tindakan pengendaliannya. Tujuan penilaian risiko adalah:

  1. Mengindentifikasi semua risiko potensial yang berasal dari faktor internal dan eksternal.
  2. Memeringkat risiko untuk perhatian manajemen unit kerja serta penanganannya.
  3. Memberikan masukan atau rekomendasi untuk menyakinkan bahwa terdapat risiko yang menjadi perioritas paling tinggi untuk dikelola secara efektif.

Metodologi yang akan digunakan dalam penilaian risiko tersebut adalah dengan Control Selft Assessment (CSA) yaitu metode penilaian resiko yang dilakukan secara mandiri oleh setiap unit kerja BATAN. Teknik yang digunakan dalam CSA adalah kelompok diskusi terbatas atau focus group discussion (FGD) yang difasilitasi oleh fasilitator. Hasil dari penilaian risiko adalah diperolehnya daftar risiko, peta risiko, status risiko dan rencana tindakan pengendaliannya. Dengan adanya usulan kegiatan ini nantinya diharapkan seluruh unit kerja dapat melakukan penilaian risiko pada setiap kegiatan sehingga tujuan unit kerja serta visi dan misi BATAN dapat tercapai.