Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Jakarta, 08/12/2020) Sejak tahun 2015 Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mendapat kepercayaan dari Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai Collaborating Center (CC) on Nondestructive Diagnostic, Testing and Inspection Technologies dengan menggunakan teknologi nuklir. BATAN melalui Biro Hukum, Humas dan Kerja Sama (BHHK) menyelenggarakan seminar daring  dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Uji Tak Rusak Berbasis Nuklir” yang disiarkan live melalui konferensi video Zoom dan Youtube Humas BATAN, Selasa (08/12).

Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN, Efrizon Umar dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan ditunjuknya BATAN sebagai CC oleh IAEA berarti menunjukkan bahwa kemampuan BATAN di bidang nondestructive test tentu tidak diragukan lagi.

“Yang perlu kita sadari bersama, sebagai CC yang berarti sebagai pusat kolaborasi adalah bagaimana kita berkolaborasi dengan pihak-pihak lain dalam memanfaatkan dan mengimplementasikan aplikasi teknologi nuklir, khususnya terkait dengan nondestructive test atau uji tak rusak untuk kesejahteraan masyarakat. Jadi kita tidak hanya menyatakan bahwa “kita bisa”, tapi seberapa jauh kita dapat memberikan manfaat untuk masyarakat, itu yang penting,” ungkap Efrizon.

Disampaikan pula oleh Efrizon agar kegiatan CC nondestructive test ini ke depan sudah lebih terukur, seberapa jauh stakeholders di luar BATAN memanfaatkan kemampuan BATAN dalam bidang nondestructive test ini. “Yang perlu saya garis bawahi adalah bagaimana kita memanfaatkan kemampuan kita dalam bidang ini untuk berkolaborasi dengan pihak-pihak luar, karena dalam masa sekarang ini  kolaborasi sangat penting,” katanya.

(Jakarta, 02/12/2020) Kegiatan penelitian, pengembangan dan pengaplikasian Iptek nuklir di Indonesia dimulai sejak tahun 1954, dimana pemerintah Indonesia membentuk Komite Penilaian Radioaktivitas yang bertujuan untuk melakukan penyelidikan adanya radioaktivitas di wilayah Indonesia dan apa dampaknya kepada masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada gelaran simposium bersama antara Pemerintah Indonesia dengan Jepang secara daring, Rabu (2/12).

Selang 4 tahun kemudian dibentuklah Lembaga Tenaga Atom yang kemudian berubah nama menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional pada tahun 1964, kegiatan penelitian dan pengembangan Iptek nuklir terus berlanjut dengan dibangunnya 3 reaktor nuklir riset dalam kurun waktu 25 tahun.

“Upaya pengembangan teknologi nuklir ditandai dengan pembangunan reaktor nuklir pertama pada tahun 1961 dan diresmikan pada tahun 1965, reaktor tipe TRIGA dengan daya 250 Kw, yang bertujuan untuk mendukung perkembangan produksi radioisotop, menyusul pembangunan reaktor riset tersebut, Indonesia memutuskan untuk membangun lagi 2 reaktor lainnya, yaitu reaktor riset Kartini dengan daya 100 Kw di Jogjakarta serta reaktor riset multiguna GA Siwabessy dengan daya 30 Mw di Serpong pada tahun 1987,” ujar Anhar.

(Jakarta, 25/11/2020) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) kembali meraih predikat sebagai lembaga informatif dari Komisi Informasi (KI) Pusat. Penganugerahan predikat ini disampaikan Wakil Presiden, KH. Ma’ruf Amin secara daring, Rabu (25/11).

Bagi BATAN, predikat sebagai lembaga Informatif tahun 2020 ini merupakan predikat yang ketiga kalinya yang dicapai sejak tahun 2018. Predikat ini dicapai atas keberhasilan BATAN dalam melaksanakan amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Ketua KI Pusat, Gede Narayana dalam laporannya menyampaikan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan keterbukaan informasi publik di Badan Publik (BP) pada tahun 2020 menunjukkan dari 348 BP terdapat 72,99 persen atau 254 BP masih sangat rendah kepatuhan dalam melaksanakan keterbukaan informasi publik. “Sebanyak 17,53 persen (61 BP) hanya masuk kategori Cukup Informatif, 13,51 persen (47 BP) Kurang Informatif dan 41,95 persen (146 BP) Tidak Informatif,” ujar Gede.

Gede menjelaskan, pelaksanaan penilaian monitoring dan evaluasi BP tahun 2020 melibatkan delapan juri dari kalangan akademisi, peneliti, penggiat keterbukaan informasi dan media massa. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, BP yang masuk dalam kategori Informatif hanya 17,43 persen (60 BP) dan Menuju Informatif sebanyak 9,77 persen (34 BP).

(Jakarta, 15/10/2020) Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan menerima kunjungan Duta Besar Polandia melalui daring, Kamis (15/10). Duta Besar Polandia, Beata Stoczyńska dalam kunjungan via daring bermaksud ingin mengetahui perkembangan teknologi nuklir di Indonesia khususnya di bidang energi dan menjajaki peluang kerja sama antara Polandia dan BATAN di bidang pengembangan teknologi nuklir.

Mengawali diskusinya, Anhar menjelaskan kepada Beata tentang kegiatan raung lingkup kegiatan BATAN. “Sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai tugas melakukan penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan iptek nuklir, BATAN mempunyai kegiatan di bidang pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan,” ujar Anhar.

Dijelaskan Anhar, terdapat 5 kawasan nuklir di Indonesia yakni di Kantor Pusat, Pasar Jumat, Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Selain itu, BATAN mengelola 3 reaktor riset yakni di Reaktor Kartini, Yogyakarta yang difungsikan sebagai sarana pelatihan, Triga 2000 di Bandung yang berfungsi memproduksi radioisotop dan memberikan layanan dengan metode analisis aktivasi neutron, serta Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy di Serpong yang berkapasitas 30MW.

“Selain reaktor dan beberapa laboratorium, BATAN juga memiliki fasilitas iradiator yang diberi nama Iradiator Gama Merah Putih (IGMP) yang diresmikan pada akhri 2017 oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla. IGMP ini dapat difungsikan sebagai fasilitas pengawetan bahan makan, obat herbal, dan sterilisasi alat kedokteran,” jelas Anhar.

(Jakarta, 24/09/2020) Indonesia dan Badan Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) menandatangani dokumen Kerangka Program Negara/Country Program Framework (CPF)  periode tahun 2021-2025 di Markas Besar IAEA, Wina, Austria, Rabu (23/09). Penandatanganan ini dilakukan di sela-sela Sidang Umum/General Conference IAEA ke-64, dimana Wakil Tetap RI (Watapri) di Wina, Dubes Dr. Darmansjah Djumala bertindak sebagai Vice President Konferensi.

Penandatanganan ini dilakukan oleh Watapri, Dubes Dr. Darmansjah Djumalah dengan Deputi Direktur Jenderal IAEA Bidang Kerjasama Teknis, Dazhu Yang. Penandatanganan ini juga disaksikan secara virtual oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan dan tim teknis BATAN.

Dr. Darmansjah Djumala dalam keterangan tertulisnya mengatakan, dokumen CPF merupakan dokumen rencana strategis jangka menengah yang akan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kerjasama teknis (Technical Cooperation) pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Dokumen CPF tahun 2021-205 ini mencakup 6 bidang kerjasama yakni keselamatan dan keamanan radiasi, pangan dan pertanian, kesehatan dan nutrisi, sumber daya air dan lingkungan, energi dan industri, serta pengembangan kapasitas.