Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Austria, 18/09/2019) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berpartisipasi dalam pameran yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan General Conference (GC) ke-63, International Atomic Energy Agency (IAEA) di Wina, Austria. Pameran yang rutin digelar sebagai side event dalam GC 63 ini bertujuan memberikan kesempatan kepada Negara Anggota untuk menunjukkan capaian perkembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di negara masing-masing.

Berbagai produk dan program, serta kegiatan pengembangan dan pemanfaatan nuklir di Indonesia digelar pada pameran tersebut. Kali ini, BATAN sebagai wakil Indonesia memfokuskan tema pamerannya  pada program Nuclear Capacity Buliding (NuCAB).

Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama, Eko Madi Parmanto yang menjadi salah satu anggota delegasi dari Indonesia menjelaskan, program NuCaB merupakan program pelatihan dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM nuklir. "Program NuCAB akan ditawarkan kepada Negara-negara di kawasan Asia Pasific dan Afrika dalam kerangka kerja sama selatan-selatan," kata Eko Madi melalui pesan tertulisnya.

Selain itu, tambah Eko, pada pameran ini juga menampilkan hasil inovasi yang dilakukan BATAN terkait  Internet Reactor Laboratory (IRL). IRL merupakan sarana pemanfaatan Reaktor Kartini yang berlokasi di Yogyakarta sebagai sarana praktikum dari jarak jauh. Produk lain yang dipamerkan adalah bahan pangan yang diawetkan dengan radiasi, kit radioisotop radiofarmaka, dan logam tanah jarang.

Pameran secara resmi dibuka pada hari Senin, pukul 15.30 oleh Acting Dubes RI untuk Austria, TBH Witjaksono Adji dan dihadiri oleh Direktur Technical Cooperation Asia Pasific, Geraldo Abaya, para anggota Delegasi RI dan tamu undangan dari Delegasi Negara Anggota. Pada sambutannya Witjaksono Adji mengatakan, capain Indonesia dalam pengetahuan Iptek nuklir sudah cukup tinggi.

"Ini dibuktikan bahwa sudah banyak produk yang dihasilkan dari pengembangan Iptek nuklir untuk kesehatan, pertanian, industri dan lingkungan," ujar Witjaksono.

Dengan capaian ini IAEA juga memberikan apresiasi dengan menetapkan Indonesia sebagai IAEA Collaborating Centre untuk pengujian tidak merusak dan pemuliaan tanaman. Selain itu, pada tahun 2014 Indonesia juga menerima penghargaan Outstanding Achievement Award dari IAEA-FAO karena keberhasilan Indonesia, yang tidak hanya menghasilkan varietas tanaman unggul menggunakan teknik radiasi tetapi juga mendiseminasikan kepada petani di berbagai wilayah Indonesia.

Pada kesempatan pembukaan pameran ini Witjaksono Adji mengucapkan terima kasih atas komitmen IAEA yang secara inten dan berkelanjutan membantu Indonesia dalam meningkatkan kapasitas pembangunan manusia di bidang nuklir.

Hal senada disampaikan Geraldo Abaya, bahwa Indonesia adalah salah satu Negara yang sangat serius mengembangkan dan memanfaatkan teknologi nuklir di berbagai bidang. Bahkan IAEA telah mempercayai Indonesia untuk menjadi Negara tujuan bagi Negara Anggota IAEA di kawasan Afrika dan Asia Pasific untuk belajar Iptek nuklir di berbagai bidang.

Pada faktanya Indonesia sudah banyak menerima peserta pelatihan dari Negara lain untuk belajar tentang teknik pemuliaan tanaman, produksi radioistop dan radiofarmaka, pengelolaan limbah radioaktif, edging management system, dll. Melalui program kerja sama selatan-selatan yang sudah ditandatangani Direktur Jenderal IAEA dengan Menteri RistekDikti pada awal tahun 2018 diharapkan akan semakin banyak kontribusi Indonesia untuk membantu Negara Negara berkembang lainnya dalam bidang nuklir.

Selama penyelenggaraan pameran Tim Indonesia yang diwakili dari Pusat Sains Teknologi Akselerator dan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir - BATAN Yogyakarta akan mendemonstrasikan program Internet Reactor Laboratory secara langsung. Dengan menggelar demonstrasi ini diharapkan Negara-negara anggota akan tertarik untuk memanfaatkan sesuai dengan kepentingannya. Pameran akan digelar hingga Sidang Umum IAEA ditutup pada tanggal 21 September 2019. (Humas)