Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Serpong, 10/12/2019). Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan menyampaikan bahwa untuk 5 tahun ke depan BATAN ingin lebih membumikan nuklir, nuklir untuk Indonesia berdaya saing dan sejahtera. Demikian disampaikan Anhar saat melakukan internalisasi Renstra BATAN tahun 2020-2024 kepada seluruh pegawai BATAN dan dihadiri pula oleh para mitranya di Graha Widya Bhakti Puspiptek, Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan pada Selasa (10/12).

“Untuk tahun 2020 - 2024, BATAN akan melaksanakan penugasan dari pemerintah sebagai koordinator dalam 3 bidang Prioritas Riset Nasional (PRN), yaitu bidang energi khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir, bidang pembangunan sistem pemantau radiasi lingkungan, serta bidang radioisotop dan radiofarmaka," tuturnya.

Anhar menjelaskan terkait PRN bidang energi, khususnya tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), BATAN akan mulai dengan melakukan tahap pre project. “Kita akan melakukan studi visibility atau kelayakan yang komprehensif terlebih dahulu, termasuk di dalamnya akan ada studi ekonomi, mempelajari teknologi apa yang paling cocok jika PLTN akan dibangun di Indonesia,” tuturnya.

“Juga untuk Kalimantan Barat yang sudah menyampaikan hasratnya untuk memiliki PLTN, kita akan melakukan studi kelayakan terlebih dahulu sebelum akhirnya diputuskan dibangun atau tidak,” lanjut Anhar.

Sementara itu terkait PRN bidang pembangunan sistem pemantau radiasi lingkungan atau sistem pemantau radiasi untuk keselamatan dan keamanan, Anhar menyampaikan bahwa BATAN akan  bekerjasama dengan beberapa lembaga lain seperti dengan P.T. Len Industri (Persero) dan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

“Kita akan mengembangkan beberapa sistem pemantau radiasi lingkungan yang nantinya akan dirangkai dalam satu sistem terintegrasi berbasis jaringan internet,” katanya. “Sistem tersebut akan terhubung dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir  (Bapeten) sebagai lembaga yang memiliki tanggung jawab untuk menilai bagaimana radiasi lingkungan di seluruh Indonesia. Apakah akan dinyatakan sebagai keadaan darurat atau tidak, jika terjadi sesuatu,” kata Anhar.

Selanjutnya untuk PRN di bidang radioisotop dan radiofarmaka, menurut Anhar, Indonesia dalam hal ini BATAN memiliki potensi yang besar. “Kita punya reaktor 30 mega watt, kita punya fasilitas pendukung lainnya, mengapa tidak bisa kita jadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.

Ekosistem di bidang radioisotop dan radiofarmaka memang melibatkan banyak pihak, oleh karena itu BATAN akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan ekosistem industri radioisotop dan radiofarmaka.  “Karena hanya dengan itulah kita akan bisa melakukan substitusi impor radioisotop dan radiofarmaka yang saat ini masih terlalu besar,” lanjut Anhar.

Anhar mengatakan, ketiga penugasan tersebut tidak akan berjalan dengan baik bila tidak didukung oleh sistem manajemen yang baik dan sumber daya manusia yang handal. Selain itu diperlukan juga inovasi, baik dari segi produk yang dihasilkan maupun dari cara bagaimana penelitian itu dilakukan sehingga produk litbangnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan membawa nilai tambah.

“Selanjutnya kita lakukan program hilirisasi dan komersialisasi. Kita akan bangun technology transfer office dan juga inkubator, sehingga banyak dihasilkan start up, Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi,” katanya. “Selain itu kuncinya adalah, organisasi ke depan, organisasi modern yang tidak bisa bekerja sendiri, harus mau berkolaborasi, kita harus bekerja bersama, kita juga harus bersinergi,”ujarnya.

Anhar menyadari, saat ini kita dalam era dengan perubahan yang sangat cepat, dengan persaingan yang ketat baik di tingkat nasional maupun internasional. Untuk itu BATAN akan melakukan pendekatan yang berbeda melalui misinya yaitu, pertama, menghadirkan iptek nuklir yang unggul secara kompetitif untuk meningkatkan kapasitas iptek dan memperkuat landasan sosio ekonomi nasional. Kedua, mewujudkan sistem manajemen yang efektif, efisien, akuntabel, dan melayani sebagai implementasi dari reformasi birokrasi secara berkelanjutan untuk Indonesia yang berdaya saing.

Dalam kesempatan ini dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara BATAN dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), BATAN dengan PT LEN Industri (Persero) serta BATAN dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Selain itu juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama  antara Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN dengan P.T. Kimia Farma dan Perjanjian Kerja Sama antara Pusat Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir (PPIKSN) dengan Balai Sertifikasi Elektronik (BSrE) BSSN. (my)