Slide item 2

Pertemuan Tingkat Menteri ke-13 FNCA (13th Ministerial Level Meeting) diselenggarakan di Hotel LeMeredien Jakarta, Indonesia pada tanggal 24 November 2012

Slide item 4

BATAN telah mendapatkan puluhan hak PATEN sebagai pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam berbagai karya dan inovasi para penelitinya

Slide item 5

Dirjen IAEA, Yukiya Amano mengunjungi fasilitas laboratorium Non Destructive Investigation (NDI) PAIR - BATAN

Slide item 5

Penyimpangan? Awasi, Amati, Laporkan

Jangan tunda, Lapor jika anda mengetahui Korupsi, Gratifikasi, Fraud dan Pelanggaran Kode Etik. Laporkan ke inspektorat@batan.go.id

Slide item 6

Dengan kerja nyata, bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri dan berbudaya

(Jakarta, 15/01/2020) Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto bersama Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan membahas perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia. Pembahasan ini dilaksanakan di ruang kerja Menkes, Jl. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (13/01).

Anhar mengatakan, pertemuan ini merupakan upaya tindak lanjut dari pertemuannya dengan Wapres RI pada tanggal 10 Januari lalu. “Sebalumnya kami telah bertemu dengan Wapres yang hasilnya meminta BATAN untuk meningkatkan kerja samanya dengan kementerian dan lembaga. Dan sekarang kami bisa bertemu dengan Pak Meteri Kesehatan,” kata Anhar.

Pada pertemuan ini, Anhar menyampaikan capaian BATAN di bidang kesehatan, khususnya terkait produksi radioisotop dan radiofarmaka. Selama ini BATAN telah memproduksi radiositop dan radiofarmaka bekerja sama dengan pihak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT. Inuki dan Kimia Farma.

Menurut Anhar, 96% kebutuhan terhadap radioisotop dan radiofarmaka di Indonesia dipasok oleh luar negari, sedangkan sisanya 4% yang diproduksi di dalam negeri. “Pemanfaatan radioisotop dan radiofarmaka di dalam negeri relatif sedikit bila dibandingkan dengan luar negeri. Jumlah rumah sakit yang memiliki fasilitas kedokteran nuklirpun juga terbatas,” tambahnya.

Melalui pertemuan ini Anhar berharap ada dorongan dari Kementerian Kesehatan agar kedokteran nuklir di Indonesia berkembang dengan baik. BATAN membutuhkan kolaborasi dengan dengan lembaga lain untuk bersama memajukan kedokteran nuklir di Indonesia.

“BATAN tidak akan bisa bekerja sendiri di bidang kesehatan tanpa bantuan dari kementerian atau lembaga lain yang terkait. Salah satu contohnya, bekerja sama dengan Balitbangkes untuk melakukan proses pengurusan izin edar penggunaan alat kesehatan,” jelasnya.

Terkait pasokan radioisotop dan radiofarmaka dari luar negeri, Terawan mengatakan, pihaknya bersedia memberikan dorongan penuh kepada BATAN khususnya dalam memproduksi radioisotop dan radiofarmaka yang sangat dibutuhkan di dunia kesehatan. Langkah pertama yang harus dilakukan menurut Terawan, BATAN harus meningkatkan kerja sama dengan semua pihak yang terkait dengan perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia.

Selain itu, Terawan mengaskan, perlunya meninjau kembali regulasi yang selama ini dianggap dapat memperlambat proses kemajuan kedokteran nuklir. Dengan pengaturan yang baik diharapkan pemenuhan kebutuhan radioisotop dan radiofarmaka dari dalam negeri dapat meningkat. (Pur)