Tata Naskah BATAN

Salah satu misi BSDMO adalah melaksanakan pengelolaan dan penyajian data dan informasi SDM BATAN secara cepat, tepat, akurat dan pemanfaatannya secara optimal

Penerimaan CPNS 2019

Penerimaan CPNS 2019

BATAN berhasil mendapatkan CPNS sebanyak 173 pegawai pada tahun 2019

Team Building Tahun 2019

Team Building Tahun 2019

BSDMO BATAN melaksanakan Team Building sebagai salah satu cara untuk memperat kerjasama dan kebersamaan dalam organisasi

(Jakarta, 27/12/2018). Dua orang peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), yakni Anhar Riza Antariksawan dan Mukh Syaifudin dikukuhkan sebagai professor riset oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset. Pengukuhan ini menambah daftar jumlah profesor riset di BATAN, yang semula berjumlah 17 orang pegawai aktif menjadi 19 orang. Orasi dan pengukuhan dilaksanakan di Gedung Pertemuan Utama, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Jakarta, Kamis (27/12).

Anhar dikukuhkan sebagai professor riset bidang keselamatan reaktor nuklir, sedangkan Mukh Syaifudin dikukuhkan sebagai profesor riset bidang biologi radiasi.

Dalam orasinya, Anhar yang pernah menjabat sebagai Deputi Kepala BATAN pada tahun 2008 hingga 2016 ini menyampaikan penelitiannya tentang peran simulasi eksperimental dan numerik dilihat aspek termohidraulika dalam peningkatan keselamatan reaktor nuklir.

Menurutnya, simulasi keselamatan reaktor nuklir, baik dengan simulasi eksperimental - yakni simulasi yang dilakukan di fasilitas laboratorium, maupun simulasi numerik dengan menggunakan program komputer, harus saling melengkapi dalam analisis teknologi keselamatan reaktor yang saat ini telah berkembang dari sistem sederhana menjadi lebih kompleks, dengan belajar dari kecelakaan yang pernah terjadi pada beberapa reaktor di dunia, seperti kecelakaan PLTN Chernobyl dan PLTN Fukushima Dai-ichi.

“Beberapa pendapat mengatakan bahwa simulasi keselamatan reaktor perlu dilakukan dengan eksperimen. Tentu saja tidak semua penelitian terkait analisis keselamatan bisa dieksperimenkan dengan menggunakan fasilitas yang dimiliki BATAN, karena kita belum punya PLTN. Maka saya juga menggunakan analisis numerik dengan program komputer. Hasilnya antara lain bisa mengetahui parameter yang memperlihatkan jika teras reaktor meleleh dan tindakan apa yang harus dilakukan agar teras reaktor tidak cepat meleleh sehingga operator punya waktu untuk melakukan tindakan tertentu,” jelas Anhar saat diwawancara sebelum orasi berlangung.

 “Penelitian ini untuk memahami fenomena yang terjadi pada saat terjadi kecelakaan PLTN dilihat dari aspek termohidraulika, sehingga kita paham betul apa yang harus kita lakukan,” tambahnya.

Hasil riset ini menurut Anhar dapat digunakan untuk mengembangkan teknologi keselamatan yang tepat. Walaupun hingga saat ini Indonesia belum membangun PLTN, Anhar berharap penelitiannya dapat berkontribusi untuk BATAN sebagai technical supporting organization (TSO) dalam hal mengembangkan aspek keselamatan PLTN. Ia menambahkan lingkup penelitiannya mencakup kategori  kecelakaan dasar desain, yakni kecelakaan yang dapat terjadi pada masa hidup reaktor dan dijadikan dasar untuk desain sistem keselamatan, serta kecelakaan parah, yakni kecelakaan yang melibatkan kerusakan pada bahan bakar.  

Dijelaskan pula oleh Anhar bahwa penelitiannya berfokus pada jenis PLTN Pressurized Water Reactors (PWR), dimana 70 persen PLTN di dunia menggunakan jenis PLTN ini.

Untuk itu, Anhar berharap, riset melalui simulasi eksperimental dan numerik perlu saling bersinergi sehingga diperoleh riset lebih komprehensif, mendukung BATAN sebagai TSO di bidang energi nuklir, sehingga mendukung pengembangan kemampuan SDM anak bangsa dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan membangun PLTN di Indonesia. (tnt).