Tata Naskah BATAN

Salah satu misi BSDMO adalah melaksanakan pengelolaan dan penyajian data dan informasi SDM BATAN secara cepat, tepat, akurat dan pemanfaatannya secara optimal

Penerimaan CPNS 2019

Penerimaan CPNS 2019

BATAN berhasil mendapatkan CPNS sebanyak 173 pegawai pada tahun 2019

Team Building Tahun 2019

Team Building Tahun 2019

BSDMO BATAN melaksanakan Team Building sebagai salah satu cara untuk memperat kerjasama dan kebersamaan dalam organisasi

(Jakarta, 27/12/2018). Mukh Syaifudin, salah satu peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) resmi bergelar profesor setelah melaksanakan orasi pengukuhan profesor riset hari ini, Kamis (27/12). Pidato pengukuhan profesor riset dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nomor 27/A/2018 tanggal 6 Desember 2018. Orasi dan pengukuhan dilaksanakan di Gedung Pertemuan Utama, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Jakarta.

Syaifudin meraih gelar profesor lewat penelitiannya di bidang biologi radiasi, yakni biomarker pajanan radiasi pengion untuk pengkajian dosis radiasi.

Biomarker radiasi adalah materi biologi yang berubah setelah terkena pajanan (exposure) radiasi, yang dapat digunakan sebagai indikator efek dari radiasi. Syaifudin menjelaskan, sampel materi biologi yang  digunakan antara lain berasal dari kuku, gigi, saliva (air liur), rambut, kulit, urin dan darah pada pasien.

Biomarker ini, menurut Syaifudin dapat digunakan dalam kondisi kedaruratan nuklir yang melibatkan masyarakat. Jika dalam keadaan normal misalnya, para pekerja radiasi seperti di rumah sakit atau industri secara rutin dipantau paparan radiasinya dengan menggunakan thermoluminescence dosimeter (TLD). Namun TLD menjadi tidak berguna saat kondisi kedaruratan seperti terorisme atau terjadi kecelakaan saat bekerja dengan radiasi.

“Misalnya saat kecelaan PLTN Chernobyl atau PLTN Fukushima Dai-ichi, biomarker dapat digunakan untuk menentukan dosis radiasi yang diterima oleh pasien, sehingga dapat dilakukan tindakan pengobatan yang tepat kepada pasien, dan sampel biologisnya dapat diambil berulang-ulang,” jelas Syaifudin saat diwawancara sebelum orasi berlangsung.

Disamping untuk pengkajian dosis radiasi, biomarker juga dapat digunakan untuk  penelitian kerentanan seseorang terhadap radiasi dan deteksi awal efek kesehatan akibat radiasi. Penelitian yang dilakukan Syaifudin dan timnya antara lain pada penduduk Mamuju, Sulawesi Barat. Daerah ini diketahui memiliki kandungan radiasi alam yang tinggi yang berasal dari udara, tanah, dan air dengan konsentrasi uranium dan torium yang anomali. Penelitian ini telah dilakukan sejak tahun 2011.

“Kami melakukan pemeriksaan sitogenetik  (kromosom) untuk mengetahui seberapa jauh efek radiasi alam terhadap penduduk setempat”, tambahnya.

Analisis ini dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan penduduk dengan tujuan untuk melindungi masyarakat dan mendorong perumusan mitigasi yang tepat agar dampak negatif dari radiasi dapat terhindarkan.

“Sejauh ini, masyarakat disana aman dari dampak negatif radiasi, karena tubuh mereka juga menyesuaikan dengan kondisi alam disekitarnya,” ujar Syaifudin.

Radiasi untuk vaksin tuberkolusis dan malaria

Di bidang kesehatan, radiasi juga digunakan untuk membantu pengendalian penyakit tuberkolusis (TB) dan malaria. Syaifudin mengatakan, pada penyakit TB, permasalahan besar yang dihadapi Indonesia dan negara berkembang adalah merebaknya bakteri yang kebal terhadap obat TB.

“Pada penelitian ini, saya menentukan dosis radiasi optimal yang bisa melemahkan parasit pada bahan vaksin, yang justru digunakan untuk memicu respon imun atau antibodi di dalam tubuh,” jelas Syaifudin.

Walaupun hasil penelitiannya belum dipatenkan, namun ia mengatakan penelitian serupa telah diaplikasikan untuk membuat vaksin yang dibuat dengan iradiasi parasit di negara – negara Afrika. Ia juga menambahkan, radiasi yang diberikan pada vaksin tidak berbahaya bagi kesehatan.

“Radiasinya akan meluruh sepersekian detik, jadi aman,” tambahnya.

Ia berharap kedepan, rumah sakit - rumah sakit di Indonesia semakin maju dan dilengkapi dengan fasilitas kedokteran nuklir, sehingga manfaat nuklir dapat lebih berperan untuk kesehatan manusia.

Mukh Syaifudin dan Anhar Riza Antariksawan resmi menyandang gelar profesor setelah dikukuhkan oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset.

Baca juga: Dua Peneliti BATAN Dikukuhkan Sebagai Profesor Riset

Pengukuhan 2 profesor riset BATAN menambah jumlah profesor riset di BATAN, yang semula berjumlah 50 orang menjadi 52 orang, diantaranya 19 orang saat ini masih berstatus sebagai pegawai aktif (tnt).