HUT RI tahun 2020
Corona-19
SDM Nuklir
SDM Nuklir BATAN
Tomo Graphy
korupsi
kedelai
Radiofarmaka
Anti Narkoba 1
Anti Narkoba 2

(Serpong, 16 Desember 2014). Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek berharap teknologi nuklir di Indonesia banyak membantu bidang ketahanan pangan (food security). Hal ini terkait masalah kesehatan masyarakat Indonesia dengan populasi penduduk yang meningkat 4,5 - 5 juta/tahun.

“Populasi kita terus meningkat pesat. Kalau kita lihat permasalahan kesehatan dimulai dari bayi, anak-anak dan remaja, serta lansia”, ungkap Nila saat mengunjungi Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG) BATAN.

Menurut Nila, ibu hamil kurang gizi akan melahirkan anak yang kurang gizi dengan aspek kognitif (IQ) rendah. 37% anak Indonesia lahir dengan kekurangan gizi yang menyebabkan stunting (pertumbuhan berat badan dan tinggi badan tidak sesuai). “Ibu hamil berkorelasi dengan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, atau kanker paru-paru. Karena ibu tidak sehat, akan melahirkan anak yang tidak sehat. Mayoritas anak kita adalah IQ yang tidak cukup”, katanya.

(Jakarta, 16/12/2014); "Bukan berarti menunggu sumber-sumber energi yang lain habis, baru kita membangun PLTN. Itu sangat terlambat, Indonesia akan gelap gulita". Hal tersebut disampaikan Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto saat konferensi pers "Hasil Jajak Pendapat Penerimaan PLTN di Indonesia Tahun 2014" di BATAN Kantor Pusat. Menurut Djarot perlu dicermati lebih dalam terkait Kebijakan Energi Nasional yang disusun oleh Dewan Energi Nasional (DEN) yang mencantumkan penggunaan energi nuklir sebagai sumber energi listrik merupakan pilihan terakhir.

Dihadiri 42 awak media nasional baik cetak maupun online, PT. Media Cipta Pesona selaku lembaga survei independen memaparkan telah melakukan jajak pendapat selama Oktober-November 2014 dengan teknis pengumpulan data lewat wawancara tatap muka menggunakan questioner kepada 5000 responden, dengan rincian 3000 responden tingkat nasional, 1000 responden wilayah Provinsi Bangka Belitung dan 1000 responden wilayah Jawa Madura Bali.

(Jakarta,12/12/2014) Bertempat di Istana WakilPresiden RI, Jl. Merdeka Selatan Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto menerima penghargaan dari Komisi Informasi Pusat (KIP) atas prestasinya dalam memberikan layanan informasi kepada publik pada tahun 2014. BATAN menduduki peringkat kelima dari 135 Lembaga Pemerintah Non Kementerian. Ada 6 kelompok Badan Publik yang dinilai oleh KIP, yaitu kementerian 34, pemerintah daerah setingkat propinsi 34, BUMN 138, Partai Politik 12 dan Perguruan Tinggi 161. Penghargaan serupa juga pernah diperoleh BATAN pada tahun 2012 yang menduduki pada peringkat ketiga.

(Jakarta, 12/12/2014); Keterbukaan Informasi Publik mempunyai makna yang luas, karena semua pengelolaan badan publik harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Badan publik baik legislatif, eksekutif, yudikatif dan organisasi masyarakat yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari dana publik, terkena kewajiban untuk menyampaikan informasi secara terbuka. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik telah diundangkan pada tanggal 30 April 2008 dan telah berlaku efektif tanggal 30 April 2010.

Lahirnya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik merupakan prestasi bangsa dalam rangka mewujudkan demokrasi bangsa, dimana salah satu ciri kehidupan demokrasi adalah keterbukaan.

Bertempat di Auditorium Adhiyana Wisma Antara telah diselenggarakan Diskusi Publik dengan tema "Membangun Sistem Transparansi dan Akuntabilitas Penyelenggaraan Pemerintah Desa Melalui UU KIP" dan dihadiri segenap PPID dari berbagai Kementerian, LPNK dan Provinsi.

(Jakarta, 12/12/2014). Di usianya yang lebih dari setengah abad, BATAN peduli dan berbagi dengan warga sekitar dalam acara Bakti Sosial dengan Warga di Lingkungan Kantor Pusat. “Menginjak usia ke – 56, kami ingin memberikan perhatian kepada warga Kuningan Barat, sekaligus tanda kasih kami menjadi salah satu warga di sini. Janganlah dilihat dari jumlahnya, tapi ini bentuk perhatian kami”, kata Sekretaris Utama BATAN, Falconi Margono saat mengunjungi Kantor Kelurahan Kuningan Barat, Jakarta bersama pegawai BATAN lainnya.

Falconi mengaku beras nuklir yang diberikan kepada warga sekitar sebagai tanda perkenalan hasil litbang iptek nuklir, sekaligus kenangan untuk para warga bahwa nuklir itu tidak seram. “Mungkin warga di sekitar sini mendengar nuklir itu seram. Tapi lihat pegawai BATAN yang datang disini tersenyum semua. Begitu juga dengan nuklir. Nuklir itu senyum, ramah lingkungan”, katanya.