PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

Batan.go.id – Tangerang Selatan. (20/05/2015). – Didalam kurikulum pendidikan tingkat SMA, materi nuklir masuk di dalam pembelajaran. Karenanya cara penyampaian kepada para siswa juga tidak boleh keliru. Terlebih selama ini masih banyak orang beranggapan bahwa nuklir sesuatu hal yang sangat menakutkan. Namun ketika mengetahui manfaat besar dari nuklir setidaknya anggapan negatif itu bisa terkikis dengan sendirinya.

Melihat hal tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama International Atomic Energy Agency (IAEA) membuat program yang diberi nama compendium. Compendium sendiri bersifat seperti ensiklopedia, yaitu kumpulan modul pembelajaran nuklir untuk level SMA yang terbukti sahih, aman dan populer.

Dimas Irawan selaku Kepala Subbid Edukasi Publik mengungkapkan bahwa secara prinsip memang sama seperti yang pernah dirintis BATAN sebelumnya. “Bedanya cuma di modul praktek, dulu nggak bisa dijalankan oleh sekolah sendiri, tapi sekarang bisa”.  Sejak tahun 2014 kita didikung IAEA untuk menerapkan program compendium tersebut, isinya adalah program pembelajaran nuklir yang lebih menyenangkan, bukan hanya teori namun juga praktikum.

Dengan kurikulum 2013, pembelajaran nuklir ada di pelajaran Biologi kelas 12 semester 2 tentang mutasi, kelas 10 semester 2 tentang Lingkungan, pelajaran fisika kelas 12 semester 2 tentang Fisika Inti,  kemudian pelajaran kimia kelas 10 semester 1 tentang Struktur Atom.

BATAN dan expert IAEA Lynne Matthews mengajak guru bidang science dari Filipina yaitu Digna Paningbatan dari Quezon Science High School, Micah Pacheco dan Judy Miranda dari San Fransisco High School untuk studi banding ke SMAN 1 dan 2 Tangerang Selatan selama satu minggu pada tanggal 18 - 22 Mei 2015. IAEA dan guru Filipina selama di SMAN 1 dan 2 Tangerang Selatan menjadi observe selama pembelajaran tentang iptek nuklir berlangsung dan  diharapkan bisa bertukar pengalaman tentang pembelajaran iptek nuklir. Secara umum, kedua negara ingin melihat bagaimana dan apakah efektif compendium diterapkan.

Dalam kunjungan kemarin guru-guru dari Filipina mencoba mempelajari kurikulum pendidikan Indonesia dan ingin mencoba menerapkan di kelas IPA dengan kurikulum tahun ajaran ini. Dengan kunjungan ke SMAN 1 dan 2 Tangsel, mereka membawa oleh-oleh berupa kurikulum dan contoh rencana pembelajaran untuk dicoba di sekolah tempat mereka mengajar.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan Drs. H. Mathodah S., M.Si menyatakan hal yang sama pada sambutannya di SMAN 2 Kota Tangerang Selatan, beliau juga menyampaikan apresiasi kepada BATAN dan berharap bukan hanya SMAN 1 dan 2 Tangerang Selatan yang dijadikan pilot project kegiatan compendium tersebut, akan tetapi sekolah lain di Tangerang Selatan juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama. (nf)