Putra-putri Indonesia Mampu Mengoperasikan PLTN

Putra-putri Indonesia Mampu Mengoperasikan PLTN

Sebenarnya Indonesia sudah mengoperasikan tiga unit reaktor nuklir untuk keperluan penelitian serta beberapa fasilitas nuklir yang meliputi fabrikasi elemen bakar.

Ratusan Generasi Muda Nuklir 7 Negara Ikuti NYS 2014

Ratusan Generasi Muda Nuklir 7 Negara Ikuti NYS 2014

Jakarta (22/11/14); Sebanyak 142 generasi muda nuklir yang berasal dari 7 negara mengikuti Nuclear Youth Summit (NYS) 2014. 24 peserta berasal dari Australia, Vietnam, Thailand, Philipina, Malaysia dan Bangladesh, sementara 118 peserta

Temui JK, Utusan Rusia Ingin Bangun Pembangkit Listrik Nuklir di Batam

Temui JK, Utusan Rusia Ingin Bangun Pembangkit Listrik Nuklir di Batam

Jakarta -Hari ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bertemu dengan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Matviyenko. Sejumlah rencana kerjasama ekonomi dibicarakan

Teknik Serangga Mandul Pada Nyamuk

Teknik Serangga Mandul Pada Nyamuk

Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan suatu cara pengendalian vektor yang ramah lingkungan, efektif, dan potensial.

(Cilacap, 03/10/2019). Pusat Diseminasi dan Kemitraan (PDK) menyelenggarakan kegiatan Temu Mitra BATAN dengan mengangkat tema “Pengenalan Agen Hayati Inoculant Microba Rhizosfer (IMR)” di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, kamis (03/10). Kegiatan temu mitra ini merupakan kerjasama kali pertama dengan mitra baru binaan BATAN yang bernama UMK Rumah Kompos “Fajry Berkah Tani”.

Sekitar 50 Peserta dari beberapa kelompok tani, pihak Kecamatan Sampang, dan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, turut serta dalam kegiatan Temu Mitra ini. Dalam sambutannya, Ruslan selaku Kepala PDK memaparkan produk-produk litbang unggulan apa saja yang telah dihasilkan oleh BATAN, utamanya di bidang pertanian.

“Untuk saat ini kami telah menghasilkan 23 varietas padi unggul salah satunya Sidenuk, sedangkan varietas kedelai yang terkenal adalah Mutiara dengan biji yang berukuran lebih besar, ada pula kacang hijau, sorgum atau yang lebih dikenal dengan cantel. Pada acara ini, kami akan memperkenalkan produk IMR BATAN sebagai agen pupuk hayati yang sebelumnya telah berhasil diuji coba pada tanaman padi maupun sayuran. Kami memiliki harapan, teknologi nuklir bisa berkontribusi dalam peningkatan produktivitas tanaman pangan sehingga pendapatan petani dapat bertambah,” ujarnya.

Peneliti IMR BATAN, Nana Mulyana mengatakan,  produk IMR BATAN adalah agen hayati yang dapat memperbaiki struktur tanah yang rusak. IMR juga dapat membantu penyediaan hara bagi tanaman, mempermudah penyerapan hara, dekomposisi bahan organik, dan menyediakan lingkungan rhizosfer yang lebih baik, sehingga mendukung pertumbuhan dan meningkatkan produksi tanaman.

Selain itu, jelas Nana, IMR juga dapat berfungsi sebagai dekomposer dalam pembuatan kompos organik, yang nantinya bisa dijadikan sebagai pupuk organik bagi petani. ”Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, subur dan menghasilkan, perlu diperhatikan 3 unsur yaitu air, nutrisi dan udara. Air dan udara bisa diperoleh dari pupuk organik yang berasal dari kompos, tetapi yang sering dilupakan oleh pengusaha kompos adalah keberadaan agen pengurai (dekomposer) nutrisi berupa mikroba. Mikroba ini dapat diperoleh dari Inoculant Microba Rhizosfer (IMR), dimana mikroba yang digunakan adalah mikroba lokal khusus yang berasal dari daerah Wonosobo, Cianjur, Cepu, Bandung, Bogor, Jawa Timur termasuk Nganjuk, Aceh, Medan, Sumatera Barat, dan Lampung,” jelas Nana.  

Peserta sangat antusias dengan adanya inovasi yang dapat menambah penghasilan dari pembuatan kompos limbah kotoran ternak, limbah serabut kelapa dan bahan lainnya disekitar mereka. Kabupaten Cilacap sendiri diketahui memiliki banyak limbah kotoran hewan ternak dan limbah serabut kelapa yang belum dimanfaatkan, sehingga perlu solusi yang tepat untuk menangani limbah tersebut.

Limbah kotoran hewan dan serabut kelapa, dapat dijadikan kompos dengan memanfaatkan IMR sebagai dekomposer dalam pembuatan kompos hayati. Salah satu keunggulan IMR ini yaitu  menggunakan mikroba lokal yang mudah ditemukan. Imam Fajri, pemilik UMK Rumah Kompos Fajry Berkah Tani mengatakan, “dengan menggunakan IMR sebagai dekomposer dalam pembuatan kompos, waktu yang dibutuhkan menjadi lebih cepat yaitu 15 hari, sementara dengan produk lain, waktunya menjadi satu bulan hingga satu setengah bulan” tuturnya.

Dalam pembuatan kompos hayati menggunakan IMR, tidak diperlukan lagi tenaga tambahan untuk membolak-balikkan bahan kompos, yang tentunya dapat mengurangi tenaga kerja. Waktu yang dibutuhkan pun lebih singkat dari pembuatan kompos dengan menggunakan dekomposer jenis lainnya. Untuk menghasilkan 1 ton kompos, hanya diperlukan 5 liter IMR. Uji coba kompos dengan IMR yang dilakukan oleh Imam Fajri pada tanaman sayuran dan padi telah menunjukkan hasil yang sangat sigfinikan.

Mei Ary Praptiwi, wakil dari Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap menyampaikan harapannya agar kerjasama antara pihak Dinas Pertanian dengan Pihak BATAN dapat berlanjut dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU). “Sebenarnya selama ini sudah ada pertanian organik yang dimulai dari Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), namun kegiatannya sudah lama sekali tidak berlanjut. Semoga acara ini dapat dihidupkan kembali dan kami berharap tidak berhenti sebatas didemplotkan saja, tetapi setidaknya dapat menambah pendapatan dan bermanfaat bagi anggota kelompok tani maupun warga sekitar. Kami juga memiliki harapan, kedepannya beberapa Unit Pengolah Pupuk Organik sebisa mungkin dapat melakukan uji laboratorium terhadap produk pupuk yang dihasilkan, sehingga diperoleh merk dagang sendiri dan mendapat nilai jual tinggi,” ungkap Mei.

Saat ditanya pendapatnya terhadap kegiatan temu mitra ini, Wakil Camat Sampang, Suprapto mengatakan, acara ini sangat baik dan beguna bagi masyarakat luas, khususnya para petani. "Kami menyambut baik kegiatan ini, apalagi terkait dengan kegiatan pemupukan yang kembali ke alam. Untuk saat ini banyak sekali petani yang bergantung pada pupuk buatan sementara ketersediaanya terbatas. Dengan adanya sistem penggunaan pupuk secara organik ini, petani dapat mengubah pola pikir dan cara bercocok tanam mereka, sehingga memudahkan dalam mengolah lahan dan memperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan," pungkasnya. (esw)