Putra-putri Indonesia Mampu Mengoperasikan PLTN

Putra-putri Indonesia Mampu Mengoperasikan PLTN

Sebenarnya Indonesia sudah mengoperasikan tiga unit reaktor nuklir untuk keperluan penelitian serta beberapa fasilitas nuklir yang meliputi fabrikasi elemen bakar.

Ratusan Generasi Muda Nuklir 7 Negara Ikuti NYS 2014

Ratusan Generasi Muda Nuklir 7 Negara Ikuti NYS 2014

Jakarta (22/11/14); Sebanyak 142 generasi muda nuklir yang berasal dari 7 negara mengikuti Nuclear Youth Summit (NYS) 2014. 24 peserta berasal dari Australia, Vietnam, Thailand, Philipina, Malaysia dan Bangladesh, sementara 118 peserta

Temui JK, Utusan Rusia Ingin Bangun Pembangkit Listrik Nuklir di Batam

Temui JK, Utusan Rusia Ingin Bangun Pembangkit Listrik Nuklir di Batam

Jakarta -Hari ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bertemu dengan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Matviyenko. Sejumlah rencana kerjasama ekonomi dibicarakan

Teknik Serangga Mandul Pada Nyamuk

Teknik Serangga Mandul Pada Nyamuk

Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan suatu cara pengendalian vektor yang ramah lingkungan, efektif, dan potensial.

(Depok, 13/11/2019). Ikatan Alumni Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (ILUNI FMIPA) Universitas Indonesia (UI) mendesak pemerintah untuk segera mewujudkan pemanfaatan energi nuklir yang handal dan aman untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional. Hal ini disampaikan Ketua Umum ILUNI FMIPA UI, Pamela Cardinale, pada acara Seminar Sehari “Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Sebuah Keniscayaan”, Rabu (13/11) di Gedung Riset Multidisiplin, Universitas Indonesia, Depok.

Menurut Pamela, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu kunci bagi keberhasilan proses pembangunan nasional yang berkelanjutan. Teknologi juga semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan kebutuhan inovasi teknologi tidak dapat lepas dari ketersediaan energi terutama listrik.

Energi menjadi kebutuhan nasional yang akan terus meningkat baik dari segi permintaan maupun pemenuhan kebutuhan dasar, namun ketersediaannya berbanding terbalik dengan peningkatan jumlah penduduk. Indonesia diproyeksikan tidak akan dapat bertahan jika hanya mengandalkan sumber energi fosil yang selama ini menjadi tumpuan. Diperlukan energi alternatif yang siap untuk memenuhi beban kelistrikan nasional dan sustain di saat yang bersamaan. Nuklir, menjadi salah satu alternatif sumber energi yang memiliki potensi mengatasi kebutuhan tersebut.

Sebagai institusi akademik yang memiliki peran penelitian serta pengabdian kepada masyarakat, civitas akademika FMIPA UI merasa perlu untuk ikut mengawal pengembangan teknologi, salah satunya adalah teknologi nuklir. “Sudah banyak sekali kajian-kajian dari civitas akademik seperti UI yang disampaikan sebagai masukan kepada pemerintah, namun kenapa sampai saat ini PLTN tidak pernah terwujud? Untuk itulah ILUNI FMIPA UI ingin perperan dalam mendorong pemerintah untuk segera mewujudkan PLTN, salah satunya melalui kegiatan Seminar Sehari ini,” imbuh Pamela

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro yang hadir sebagai keynote speakers mengatakan, Indonesia memiliki kemampuan untuk mengelola nuklir demi kepentingan pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat termasuk dalam mengembangkan energi listrik melalui pemanfaatan teknologi nuklir.”Percayalah bahwa bangsa Indonesia sudah punya kemampuan untuk mengelola nuklir untuk kepentingan masyarakat,” kata Bambang usai memberikan paparannya.

Menurutnya, sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan nuklir dan keamanan nuklir harus dilakukan kepada seluruh masyarakat Indonesia sehingga memberikan wawasan bagi yang belum memahami bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir aman dan dapat menghasilkan listrik untuk kebutuhan nasional.

Bambang mengungkapkan masih ada beberapa kalangan yang belum percaya Indonesia sudah menguasai teknologi nuklir untuk maksud damai,  menjalankan operasional teknologi nuklir, dan menjaga reaktor nuklir untuk penelitian dan pengembangan tersebut, sehingga dapat dikatakan Indonesia sudah sangat siap  mempunyai PLTN. "Bagaimanapun masyarakat awam itu pada umumnya bertindak atau bereaksi karena persepsi, belum tentu mereka memahami kondisi yang real. Mungkin mereka belum pernah lihat kondisi di reaktor nuklir untuk litbang yang dipunyai oleh BATAN sebenarnya seperti apa," ungkapnya.

Menristek juga menegaskan setelah menguasai teknologi nuklir, maka harus juga dikuasai aspek pemeliharaan PLTN dan keamanan PLTN dengan pemanfaatan komponen dalam negeri yang lebih tinggi. Untuk itu, Menristek mendorong agar Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus memperbarui kecanggihan teknologi dengan mengadopsi teknologi yang terbaru. Indonesia juga bisa belajar dari pengembang PLTN di luar negeri dalam rangka penguatan persiapan diri jika sewaktu-waktu PLTN harus segera dibangun.

Sementara itu, Kepala BATAN Anhar Riza Antariksawan menuturkan bahwa pihaknya siap dan terus berupaya menyebarluaskan informasi mengenai keamanan dan keselamatan dalam pemanfaatan teknologi nuklir kepada masyarakat, terutama masyarakat awam dan yang anti nuklir.

“Sebetulnya kalau bicara mengenai PLTN atau energi nuklir dalam setiap forum-forum diskusi bahkan perdebatan, isu-isu yang muncul masih hampir mirip dengan 30 tahun yang lalu. Namun ada satu yang mengembirakan bagi saya, saat ini yang bicara PLTN tidak hanya dari BATAN, tetapi dari banyak pihak lain,” kata Anhar.

Ini menjadi hal yang baik, lanjut Anhar lagi, karena masalah PLTN atau energi nuklir bukan hanya urusan BATAN saja tetapi menjadi urusan kita semua, sehingga kita semua patut untuk memikirkan bersama-sama. BATAN hanya diberi tugas sebagai lembaga litbangjirap, dimana penerapannya atau pemanfaatannya hanya sebatas yang non komersial, kalaupun komersial hanya bersifat jasa dan harus bekerja sama dengan pihak ketiga.

“Apalagi untuk pembangunan PLTN, jelas BATAN tidak akan membangun yang untuk komersial,” jelas Anhar lagi. Apalagi saati ini belum ada keputusan untuk membangun PLTN atau tidak sehingga menjadi tantangan dalam pengembangan PLTN di Tanah Air.

Seminar yang terbuka untuk umum ini bertujuan untuk menetapkan langkah para pengambil kebijakan agar dapat segera mengambil sikap atas polemik pro-kontra PLTN di Indonesia, serta menyerap aspirasi masyarakat yang mendukung ataupun ragu akan keselamatan PLTN yang selama ini menjadi pusat kekhawatiran.

Seminar terselenggara atas kerja sama ILUNI FMIPA UI, FMIPA UI dan BATAN, dibagi menjadi dua sesi, dibuka oleh Dekan FMIPA UI, Abdul Haris. Selain menghadirkan Meristek/Kepala BRIN dan Kepala BATAN sebagai keynote speakers, seminar juga menghadirkan beberapa narasumber yang berasal dari BATAN, Kementerian ESDM, PLN, Pengamat Energi, dan Pokja Energi.

Diharapkan dengan kegiatan seminar ini akan menghasilkan keluaran akhir berupa peningkatan pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan risiko PLTN, sehingga masyarakat dapat memiliki pengetahuan yang cukup untuk menentukan pilihan, yang selama ini menjadi acuan pemerintah dalam menentukan kebijakan opsi nuklir. (arial)