PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

Gunung Kidul. Batan.go.id – Kepala Dukuh Siji, Playen, Gunung Kidul, Harjono merasa kebingungan ketika pihaknya didatangi oleh beberapa pengusana dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya pengusaha asal Kalimantan yang ingin megajak kerja sama dalam hal budidaya sorgum. Pasalnya, sorgum yang ditanam di Playen, Gunung Kidul adalah sorgum hasil riset iptek nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sorgum tersebut mampu tumbuh dengan baik dilahan kering dan marginal. Seperti diketahui banyak lahan di Gunung Kidul adalah lahan mengandung kapur.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Sarasehan Mitra Komersial Pemuliaan Tanaman Pangan di kantor desa Playen, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu 29 April 2015. Harjono mengatakan bahwa pengusaha tani Kalimantan tersebut mengajak kerja sama untuk mengolah lahan dengan menanam sorgum di bekas penambangan, mengingat sorgum tersebut mampu tumbuh baik dilahan masrginal. Namun sayangnya kerja sama tersebut belum bisa dilaksanakan karena pihaknya kesulitan dalam pengadaan benihnya.

Pada kesempatan sarasehan tersebut Harjono menyampaikan ke pihak BATAN agar sudi membantu dalam penyediaan benih. “Kami tau, sorgum BATAN ini, selain hasilnya tinggi, batang dan buahnya pun besar, oleh karena itu, mohon agar BATAN melakukan pedampingan dan penyuluhan untuk keberhasilan budidaya sorgum ini”, lanjut Harjono.

Sarasehan ini dipimpin oleh komedian kondang asal Yogyakarta Den Baguse Ngarso didampingi MC Ditha Metamorf. Dihadiri oleh para lurah dan kepala desa se kecamatan Playen, Dinas Pertanian Gunung Kidul, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) DIY, para kepala desa, kalangan perguruan tinggi, dan para kelompok tani. Sebagian besar petani mengeluhkan sulitnya mengusir burung yang memakan sorgum saat berbuah menjelang panen.

Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, Dr. Hendig Winarno mengatakan bahwa sorgum hasil riset iptek nuklir ini memiliki rasa manis, sehingga memang sangat disukai oleh burung. Agar hasil panennya tidak menurun karena dimakan burung, disarankan untuk menggunakan jaring sebagai penutup. Namun jika menggunakan jaring petani mengeluhkan akan menambah biaya yang cukup tinggi.

Untuk mengatasi hama burung, peneliti Universitas Gunung Kidul, Padmajiono menyarankan untuk menggunakan pestisida organik yaitu bahan yang dibuat sendiri dengan merendam tembakau atau buah mahoni, dicampur dengan lidah buaya yang fungsinya sebagai perekat. Setelah dicampur lagi dengan air secukupnya, kemudian disemprotkan ke biji sorgum. “Walaupun hujan, bahan ini tidak akan cepat larut karena perekat dari lidah buaya ini cukup kuat untuk jangka waktu satu bulan, setelah itu dilakukan semprot ulang”, demikian lanjut Pad penuh semangat. (biw).