PUSAT DISEMINASI DAN KEMITRAAN
LAYANAN KUNJUNGAN
BEBAS BIAYA TANPA SUAP,PUNGLI DAN NO GRATIFIKASI

Batan.go.id - Klaten, Jawa Tengah. - Sepuluh varietas padi hasil riset nuklir BATAN yang ditanam awal Mei lalu, berhasil dipanen pada lahan seluas 6 hektar di Desa Sentono, kecamatan Karangdowo, Klaten, Jawa Tengah (29/07/2015). Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama antara BATAN dengan Pemda Klaten dalam mengembangkan program Agro Techno Park (ATP). ATP merupakan salah satu visi misi Presiden Jokowi yang tertuang dalam Nawacita 6 butir 7 tentang pembangunan Science Park dan Techno Park.

Hasil produksi panen program ATP ini sangat membanggakan. Perolehan produksi panen tersebut dari hasil ubinan yang diambil dari sampel 3 titik, terbilang tinggi yaitu varietas Diah Suci 9,72 ton per hektar, Woyla 9,44 ton, Sidenuk 9,23 ton, Cilosari 8,8 ton, Mugibat 7,95 ton, Unsrat1 7,5 ton, Mira 7,27 ton, Unsrat2 6,77 ton, Bestari 6,65 ton, dan Meraoke 4,64 ton.

Polewali Mandar (BATAN); Bupati Polewali Mandar Andi Ibrahim Masdar menegaskan dengan adanya 10 varietas padi unggul BATAN di Polman, dan dilihat hasil yang dicapai cukup baik, BATAN bisa membantu Polman untuk meneruskan tradisi surplus beras yang selama ini berlangsung. Hal ini disampaikan pada Panen Perdana 10 varietas padi BATAN di desa Mapilli Barat kecamatan Luyo kabupaten Polman Sabtu (25/07/2015)

Bupati menyatakan selama ini Polman tidak pernah mengimpor beras, karena tiap tahun produksi beras surplus, menurutnya hanya beras ketan saja yang masuk dari luar Polman, malahan Polman yang menjadi penyuplai beras bagi daerah-daerah lain seperti Sulawesi Tengah bahkan hingga ke Kalimantan timur.

Polewali Mandar (BATAN); Varietas Padi BATAN Diah Suci mencapai hasil tertinggi mengungguli 9 varietas padi BATAN lainnya pada panen perdana Agro Techno Park (ATP) di Desa Mapilli Barat Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Sabtu (25/07/2015).

Hasil ubinan Diah Suci mencapai 10,13 ton/ha gkg tertinggi diantara 10 varietas padi unggul BATAN yang di tanam di area demplot seluas 5 ha di ATP Polman, disusul oleh varietas Cilosari 9.33 ton/ha gkg dan Woyla 8.9 ton/ha gkg. Namun demikian, 7 varietas lain hasilnya masih diats 8 ton/ha gkg dimana hasil ini masih diatas rata-rata hasil provinsi Sulbar.

Batan.go.id. Lubuk Linggau (08/07/2015) – Varietas padi lokal Dayang Rindu dari kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan yang nyaris punah, kembali akan dinikmati masyarakat sekitar wilayah tersebut. Pasalnya, sejak tahun 2012 pemerintah kabupaten Musirawas bekerja sama dengan BATAN telah berusaha mengembangkan kembali varietas Dayang Rindu.

Sekretaris Utama BATAN, Ir. Falconi Margono, MM mengatakan, perbaikan kualitas varietas lokal Dayang Rindu meliputi antara lain memperpendek umur tanam yang semula 5 bulan lebih, diperbaiki menjadi sekitar 3 bulan saja. Selain itu juga tinggi tanaman yang semula dua meter, diperbaiki menjadi lebih pendek.

Perbaikan lainnya juga pada rasa nasi agar tidak berubah.  “Dayang Rindu juga akan dibuat tahan terhadap hama dan penyakit tanaman”, lanjut Falconi di sela-sela acara talkshow di radio Citra FM Musirawas, dalam kegiatan Agro Techno Park, Pemagangan Pertanian Terpadu di Lubuk Linggau, Musirawas.

Batan.go.id. Lubuk Linggau (08/07/2015) – Disela kegiatan Agro Techno Park (ATP), dilakukan pula penandatangan kerja sama antara BATAN dengan Universitas Musirawas (Unmura). Pihak BATAN ditandatangani oleh Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Dr. Hendig Winarno, pihak Unmura dilakukan oleh Dekan Fakultas Pertanian.

Rektor Unmura, Ir. John Bimasri, M.Si. dalam sambutannya mengatakan bahwa ada inspirasi di kalangan Fakultas Pertanian agar lebih memperdalam mempelajari dan mengembangkan teknologi nuklir untuk lebih memajukan pertanian yaitu melalui kerja sama dengan BATAN.

“Bila dilihat dari pengadaan laboratorium, dananya bukan main besarnya, itu kami belum bisa, karena itulah perlu kerja sama dengan BATAN”, jelas John. Kerja sama dengan BATAN diawali dengan penelitian varietas lokal Dayang Rindu. Melalui kerja sama ini diharapkan BATAN bisa memberikan “asupan energi”. Hal ini dikarenakan para pengajarnya masih baru dan perlu banyak belajar dari BATAN.