Menuju Wilayah Bebas Korupsi
Slide item 1

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 2

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 3

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 4
Slide item 5

Teknologi Aktivasi Netron adalah proses aktivasi suatu isotop melalui iradiasi netron dengan menggunakan reaktor nuklir. Proses aktivasi dapat digunakan untuk beberapa tujuan, diantaranya adalah produksi radioisotop dan analisis material. Analisis material menggunakan teknologi aktivasi neutron dinamakan analisis aktivasi netron (neutron activation analysis). PTRR-BATAN mengembangkan teknologi aktivasi netron untuk produksi radioisotop.

Proses aktivasi netron untuk produksi radioisotop dapat dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahapan tahapan tersebut meliputi proses pemilihan target, proses penyiapan target, proses iradiasi netron dan proses pasca iradiasi.

Penyiapan bahan target

Pada tahap penyiapan bahan target untuk diiradiasi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan reaksi inti atom atau reaksi nuklir yang digunakan. Berbagai langkah selanjutnya dalam penyiapan bahan target ditentukan dari reaksi inti yang digunakan. Ada beberapa jenis reaksi inti pembuatan radioisotop yaitu reaksi inti penangkapan netron disertai pelapasan radiasi gamma, reaksi penangkapan netron disertai dengan pelepasan partikel dan reaksi inti diikuti dengan peluruhan radioaktif.

Pada reaksi penangkapan netron disertai pelepasan radiasi gamma yang dinyatakan dengan reaksi (n,g), radioisotop yang dihasilkan merupakan isotop yang sama dengan isotop sasaran, hanya berat atom isotop hasil iradiasi bertambah satu akibat dari penangkapan netron. Misalnya adalah reaksi pembentukan Mo-99 yaitu 98Mo(n,g)99Mo, reaksi pembentukan Sm-153 yaitu 152Sm(n,g)153Sm, reaksi pembentukan Ir-192 yaitu 191Ir(n,g)192Ir dan reaksi pembentukan kobal-60 yaitu 59Co(n,g)60Co. Pada reaksi nuklir penangkapan netron disertai dengan pelepasan partikel bermuatan, radioisotop yang dihasilkan berbeda dengan unsur dari isotop sasaran. Misalnya adalah reaksi pembuatan belerang-35 (S-35) melalui reaksi inti 35Cl(n,p)35S. Bahan sasaran adalah isotop unsur Cl sedang radioisotop yang dihasilkan dari unsur belerang. Proses pembuatan dengan reaksi inti dilanjutkan dengan peluruhan juga menghasilkan radioisotop dengan unsur yang berbeda dengan unsur target. Pada proses produksi menggunakan reaksi inti jenis ini, proses selanjutnya perlu memperhitungkan waktu paruh radioisotop pendek hasil iradiasi langsung. Misalnya proses produksi iodium-131 dengan reaksi inti 130Te(n,g)131Te dilanjutkan dengan peluruhan beta dari Te-131 menjadi I-131. Sasaran berupa unsur telurium dan radioisotop yang dihasilan berupa radioisotop iodium-131. Proses paska iradiasi perlu memperhitungan waktu paruh radioisotop Te-131 yang sebesar 25 menit. Pada proses iradiasi di dalam reaktor nuklir, bahan sasaran akan mendapatkan paparan netron dan paparan radiasi gamma dengan intensitas yang tinggi. Reaksi inti yang terbentuk dan paparan radiasi gamma dengan intensitas yang tinggi tersebut melahirkan panas sehingga meningkatkan suhu bahan target. Oleh sebab itu, bahan target harus dipilih dalam bentuk kimia yang tahan suhu tinggi. Secara umum, bahan target yang digunakan adalah dalam bentuk logam atau dalam bentuk oksida. Ketika unsur sasaran tidak tersedia dalam bentuk logam atau bentuk oksida, maka dapat dipilih bentuk bentuk kimia lainnya dengan mengkaji lebih dulu reaksi reaksi inti lain yang terbentuk dari unsur lain yang ada di dalamnya.

Proses penyiapan target

Pada penyiapan target, bahan target dikemas secara berlapis agar tidak bocor atau lepas ke lingkungan sekitarnya selama proses iradiasi. Bahan target dikemas di dalam ampul dari kwarsa dan ditutup melalui pengelasan. Ampul kwarsa berisi bahan target tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam kapsul aluminium (inner capsule) dan ditutup dengan pengelasan. Setelah itu kapsul tersebut diuji kebocoran untuk memastikan bahwa pengelasan telah benar benar rapat serta tidak ada kebocoran lainnya. Kapsul aluminium tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam kapsul aluminum luar (outer capsule) dan siap diiradiasi di dalam reaktor nuklir.

Proses Iradiasi Netron

Proses iradiasi netron dilakukan di dalam reaktor nuklir. Saat ini di Indonesia ada 3 buah raktor nuklir, yaitu reactor G.A. Siwabessy di Serpong, Reaktor Triga di Bandung dan reactor Kartini di Yogyakarta. Ketiga reactor tersebut memiliki daya masing masing sebesar 30 MW, 2 MW dan 250 kW. Posisi iradiasi di dalam reaktor berbeda beda berdasarkan desain reactor.

Reaktor G.A. Siwabessy memiliki 3 posisi utama untuk produksi radioisotop, yaitu posisi central irradiation position (CIP), ada posisi irradiation position (IP) dan ada pneumatic rabbit system (PRS). Fluks netron di tiap posisi tersebu berbeda beda. Fluks netron tertinggi berada di posisi CIP, disusul oleh IP dan PRS. Posisi iradiasi ini perlu ditentukan pada saat penyiapan sasaran sehingga dapat disiapkan berat bahan sasaran yang sesuai dengan besaran radioaktivitas radioisotop yang diharapkan.

Sebelum proses iradiasi telah disusun laporan analisis keselamatan (LAK) terhadap proses iradiasi tersebut. Oleh sebab itu, hal hal yang terjadi selama proses iradiasi telah diprediksi sebelumnya dan telah disusun dalam laporan analisis keselamatan. Aspek netronik dan aspek termohidrolik selama proses iradiasi telah diperhitungkan dan disusun di dalam laporan analisis keselamatan.

 Proses Paska Iradiasi

Setelah iradiasi, radioaktivitas radioisotop yang terbentuk di dalamnya telah diprediksi pada saat pemilihan bahan target. Oleh sebab itu, proses paska iradiasi dilakukan dengan mempertimbangkan besaran radioaktivitas radioisotop radioisotop yang terbentuk, baik radioisotop yang diharapkan maupun radioisotop radioisotop pengotor yang terbentuk. Nilai ini sangat diperlukan untuk menentukan fasilitas yang diperlukan. Jika radioisotop yang terbentuk memiliki radioaktivitas yang sangat tinggi, maka diperlukan fasilitas dengan sistem proteksi radiasi yang tinggi, sehingga proses paska iradiasi dilakukan di dalam hotcell. Untuk radioisotop dengan radioaktivitas lebih rendah, proses penanganan paska iradiasi memungkinkan dilakukan di dalam mini cell dengan ketebalan perisai radiasi yang lebih rendah. Sedang untuk radioaktivitas yang kecil memungkinkan dilakukan di dalam glove box yang dilengkapi dengan perisai penahan radiasi.

Kapsul iradiasi dibongkar di dalam fasiltas yang telah disiapkan dan bahan target yang telah diiradiasi dikeluarkan dari dalam kapsul. Ampul kwarsa selanjutnya dipotong dan bahan target dikeluarkan dari dalam ampul. Proses selanjutnya tergantung jenis produk yang diharapkan. Untuk radioisotop yang digunakan untuk sumber radiasi tertutup, misalnya Ir-192, target dipindahkan ke dalam proses pembuatan kapsul untuk pengelasan menjadi sumber radiasi terbungkus. Sedang untuk bahan sasaran yang selanjutnya digunakan dalam bentuk larutan, bahan sasaran dilarutkan menggunakan pelarut yang sesuai, dapat menggunakan larutan asam atau menggunakan larutan basa. Untuk beberapa jenis radioisotop, proses selesai dengan proses pelarutan. Proses selanjutnya adalah proses pengukuran radioisotop yang diperoleh. Sedang untuk beberapa jenis radioisotop, diperlukan proses pemisahan untuk memisahkan radioisotop yang diharapkan dengan radioisotop pengotor. Proses pemisahan dapat dilakukan dengan penukar ion, destilasi maupun ekstraksi pelarut sesuai dengan jenis radioisotop yang dihasilkan.

 PROSPEK

Radioisotop memiliki pemanfaatan di berbagai bidang, baik di bidang kesehatan, industri, pengelolaan sumber daya alam serta penelitian dan pengembangan. Kebutuhan radioisotop di tanah air untuk berbagai tujuan terus mengalami peningkatan, khususnya di bidang kesehatan.

Peningkatan kebutuhan radioisotop di tanah air ini merupakan peluang bagi industri untuk memenuhinya. Beberapa radioisotop saat ini masih diimpor dari luar negeri. Radioisotop memiliki waktu paro sehingga secara alamiah terus mengalami penuruhan. Radioisotop radioisotop dengan waktu paro pendek cepat habis dalam waktu singkat. Industri dalam negeri memiliki kelebihan untuk bersaing dengan produk impor yang memerlukan waktu dalam proses transportasi dari fasilitas produksi menuju ke fasilitas pengguna di tanah air.

Bentuk bentuk pemanfaatan radioisotop pun terus mengalami perkembangan yang pesat. Radioisotop memiliki peluang yang besar dalam berbagai pemanfaatan. Oleh sebab itu, penelitian dan pengembangan berbasis radioisotop di berbagai belahan dunia terus mengalami perkembangan yang pesat. Di tanah air pun pengembangan pemanfaatan radioisotop dapat lebih luas dengan memanfaatkan teknologi aktivasi netron untuk produksi radioisotop. Radioisotop radioisotop yang dapat diproduksi melalui proses aktivasi netron telah dapat diproduksi di tanah air. Sehingga penelitian penelitian menggunakan radioisotop dengan waktu paro yang pendek pun dapat dilakukan di tanah air.



Visitor Counter

 

Kontak PTRR

Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Gedung 11, Setu, Tangerang Selatan 15314

Telp: (021) 756-3141, 758-72031
Fax: (021) 756-3141

http//: www.batan.go.id
http//:www.batan.go.id/ptrr

Email : prr[at]batan.go.id