Menuju Wilayah Bebas Korupsi
Slide item 1

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 2

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 3

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 4
Slide item 5

(Tangsel, 24/03/2021).  Kit radiofarmaka etambutol atau TB Scan adalah produk radiofarmaka yang dihasilkan oleh Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Produk TB Scan digunakan untuk diagnosis penyakit tuberkulosis (TB) baik di paru-paru maupun selain di paru-paru.

”Ini sekali lagi membuktikan bahwa produk iptek nuklir bisa bermanfaat bagi masyarakat,”demikian disampaikan oleh Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan pada acara launching produk TB Scan di Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (24/03).

”Kalau selama ini masyarakat masih ragu terhadap iptek nuklir, mudah-mudahan dengan adanya satu produk baru ini, akan lebih meyakinkan masyarakat, membuat masyarakat percaya bahwa iptek nuklir memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Anhar.

“TB Scan ini merupakan produk radiofarmaka hasil riset dan inovasi BATAN ke-6 yang sudah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk dimanfaatkan di masyarakat,” lanjutnya.

Produk TB Scan ini menurut Anhar telah melalui proses penelitian yang panjang dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan di luar BATAN seperti RS Hasan Sadikin, Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI), PT. Kimia Farma, dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Kata kuncinya ada di kolaborasi. Kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam melakukan penelitian dan inovasi yang kita kenal dengan triple helix, sangat dibutuhkan agar hasil penelitian dan inovasi tersebut dapat dihilirkan kepada masyarakat,” lanjutnya.

Anhar mengatakan, produk ini diharapkan bisa membantu pemerintah dalam menangani penyakit TB di Indonesia sebagai alat diagnosis yang efektif digunakan di rumah sakit-rumah sakit dengan fasilitas kedokteran nuklir. "Tahun 2020 Indonesia merupakan negara ke-3 di dunia, di bawah Cina dan India, dalam jumlah penderita penyakit TB, maka kehadiran radiofarmaka etambutol TB scan ini akan sangat membantu pemerintah dalam menangani penyakit tersebut di Indonesia," ujarnya.

Dalam kesempatan ini Kepala PTRR, Rohadi Awaludin mendeskripsikan kit radiofarmaka etambutol/ TB scan yaitu berupa sediaan farmasi kering steril yang di dalamnya terkandung ethambutol hydrochloride dan beberapa zat tambahan. Zat tambahan ini berguna untuk membantu proses penandaan atau pengikatan radioisotop Tc-99m ke dalam senyawa etambutol.

Kit radiofarmaka etambutol digunakan di rumah sakit-rumah sakit yang memiliki fasilitas kedokteran nuklir dengan cara menambahkan larutan yang mengandung zat radioaktif Tc-99m.  Larutan tersebut kemudian diberikan kepada pasien dengan cara disuntikkan melalui pembuluh darah balik (intravena). "Etambutol bertanda Tc-99m akan terakumulasi di dalam jaringan yang terinfeksi bakteri TB pada tubuh pasien sehingga keberadaan infeksi tersebut dapat diketahui melalui pemindaian/scanning menggunakan kamera gamma," kata Rohadi.

Menurut Rohadi pengembangan kit etambutol diawali dengan penelitian dasar yang dilakukan di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT)-BATAN Bandung  sejak awal tahun 2000 an. Kemudian pada tahun 2015 hasil penelitian PSTNT tersebut dilanjutkan di PTRR, dikembangkan lebih lanjut sistem produksinya serta dilakukan modifikasi-modifikasi, khususnya terkait dengan proses produksi berdasarkan pada sistem Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sesuai kaidah CPOB yang ditetapkan BPOM.

Selama proses pengembangan produk ini, tim peneliti BATAN dipandu oleh tim pengembangan produk P.T. Kimia Farma dalam penyiapan dokumen dan data yang diperlukan untuk proses registrasi produk ke BPOM. Selain itu juga dilakukan serangkaian pengujian klinik yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung hingga diperoleh data hasil uji klinik yang sangat dibutuhkan.

"Data hasil uji klinis ini sangat diperlukan dalam proses registrasi di Badan POM selain data proses produksi dan kendali kualitas produk,“ ujar Rohadi. “Dan kami bersyukur, akhirnya pada tanggal 22 Februari 2021 kit radiofarmaka etambutol mendapatkan izin edar dengan nomor DKL 2112432144A1," pungkas Rohadi. (my)



Visitor Counter

 

Kontak PTRR

Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Gedung 11, Setu, Tangerang Selatan 15314

Telp: (021) 756-3141, 758-72031
Fax: (021) 756-3141

http//: www.batan.go.id
http//:www.batan.go.id/ptrr

Email : prr[at]batan.go.id