Slide item 3
Slide item 4
Slide item 5
Slide item 4
Slide item 5

(Jakarta, 09/03/2020). Pemanfaatan teknologi nuklir, khususnya bahan radioaktif sudah dimanfaatkan secara luas, diantaranya di bidang industri dan kesehatan. Penanganan bahan radioaktif dan bahan nuklir secara selamat dan aman membutuhkan kerja sama yang baik antara pemegang izin dengan stakeholders, termasuk Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Karena itulah, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama dengan POLRI menggelar Pelatihan Proteksi Radiasi bagi anggota satuan Kimia, Biologi, dan Radioaktif (KBR) Pasukan Gegana Brimob POLRI.

Dalam penanganan ancaman zat radioaktif, Unit KBR perlu memahami ketentuan keselamatan kerja dengan radiasi, termasuk didalamnya memahami tentang sumber radiasi dan bahan nuklir, efek radiasi pada manusia, alat ukur, proteksi radiasi, serta prosedur penanggulangan  sumber radiasi.

“Tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja para personel KBR POLRI dalam penanganan sumber radioaktif dan bahan nuklir sesuai dengan prosedur yang berlaku secara aman, selamat, dan handal,” jelas Kepala Puat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BATAN, Fatmuanis Basuki, saat menyampaikan laporan kesiapan pelatihan, di Pusdiklat BATAN, Jakarta, Senin (03/09).

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan, mengatakan, pemanfaatan bahan radioaktif sudah banyak digunakan di luar BATAN, seperti industri maupun rumah sakit. Untuk itulah, pengetahuan proteksi radiasi sangat diperlukan oleh semua stakeholders.

“Pengetahuan terkait proteksi radiasi sangat diperlukan baik oleh pemegang izin, badan regulasi yakni Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), maupun stakeholders lainnya terkait pengawasan, termasuk POLRI,” ujar Anhar.

Aspek keselamatan dan keamanan, tambah Anhar, adalah 2 hal yang sangat menjadi perhatian BATAN. Hal ini juga berlaku ketika menyinggung soal temuan zat radioaktif di Perumahan BATAN Indah, Tangerang Selatan.

“Penanganan temuan zat radioaktif di Batan Indah tidak terlepas dari kerja sama yang baik dengan stakeholders, termasuk pihak kepolisian untuk melindungi masyarakat. Dari sisi keselamatan, kita ingin melindungi masyarakat dari potensi bahaya radioaktif. Sedangkan, dari sisi keamanan, kita ingin melindungi bahan radioaktif supaya tidak bisa diakses oleh pihak yang tidak berwenang,” tambahnya.

Ia mengatakan, penerapan aspek keselamatan dan keamanan sangat bergantung kepada manusia.

“Tidak cukup hanya memiliki standar operasional prosedur dan sistem proteksi fisik, tetapi juga ada unsur budaya (keselamatan dan keamanan). Ini adalah upaya terus-menerus yang tidak ada akhirnya,” tutur Anhar.

Baca juga: Pengolahan Limbah Radioaktif di BATAN Terapkan Standar Keamanan dan Keselamatan yang Tinggi

Komandan Satuan KBR, Kombes Pol Desman Sujaya Tarigan, mengatakan, Unit KBR merupakan satuan kerja POLRI yang bertugas menangani segala bentuk ancaman kejahatan, khususnya yang berkaitan dengan kimia, biologi, dan radioaktif.

“Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, kejahatan mulai berkembang. Tidak hanya kejahatan, tetapi juga berbagai kerawanan penanganan dari bahan-bahan materiil radioaktif. Seperti kasus di BATAN Indah, kita perlu bertindak cepat dan profesional,” tuturnya.

Menurut Kombes Desman, penanganan kasus terkait kimia, biologi, dan radioaktif tidak hanya berdampak skala nasional, namun juga global.

“Dampak dari kasus kimia, biologi, dan radioaktif, seperti kasus mewabahnya virus COVID-19, tidak hanya nasional tetapi juga gangguan ekonomi secara internasional,” urainya.

Ia berpesan kepada 15 peserta yang mengikuti pelatihan proteksi radiasi ini untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

“Tidak semua anggota kepolisian mengerti, tetapi kalianlah yang dipercaya untuk memahami kimia, biologi, dan radioaktif. Maka, galilah ilmu sebanyak-banyaknya, pelajari peraturan perundang-undangan karena ilmu pengetahuan dan teknologi bisa cepat berubah,” pungkasnya.

Pelatihan proteksi radiasi bagi personel KBR POLRI kali ini merupakan kali ketiga, setelah sebelumnya pelatihan serupa pernah diselenggarakan pada tahun 2018 dan 2019.

Peserta Unit KBR yang mengikuti pelatihan ini berjumlah 15 orang, berasal dari beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Bali dan Sumatra Utara, yang terdiri dari kepala unit, petugas safety, spesialis teknis, tim entri, petugas akses kontrol, dan tim dekontaminasi. Pelatihan akan dilaksanakan hingga 20 Maret mendatang (tnt).