HUTRI75
Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 02/07/15). BATAN meluncurkan 2 varietas varu kedelai hitam yang diberi nama Mutiara 2 dan Mutiara 3.  Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan kedua varietas ini memiliki potensi hasil 3 ton per hektare dengan rata-rata hasil 2,4 ton per hektar, tahan hama dan lezat untuk dijadikan kecap.

Secara nasional rata-rata kedelai (biasa) produkt‎ivitasnya hanya 1,4 ton per hektar.

Tujuan dihasilkannya varietas-varietas unggul menurut Djarot, guna membenahi persoalan kurangnya pasokan kacang kedelai di dalam negeri. Sebab, kebutuhan kedelai nasional hingga saat ini 70%-nya masih ditutupi lewat jalan impor.

Namun persoalannya bukan cuma sekedar benih. Meski kebutuhan sudah mendesak untuk meningkatkan produksi, di tingkat petani, menanam kedelai sama sekali tidak menggiurkan. Makanya, keuntungan di tingkat penanam perlu juga dinaikkan.

“Sekarang dicitrakan lebih baik tanam padi ketimbang kedelai. Kalau sudah begitu, lebih baik impor,” ucap Djarot saat konferensi pers di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Jakarta.

Menurutnya, BATAN sudah melaksanakan kewajiban dengan menambah jumlah variasi benih yang bisa dipakai guna mendongkrak jumlah produksi. Yang terpenting adalah tata niaga perlu diperbaiki. Kementerian Pertanian juga perlu menangkap sinyal agar ada perbaikan pada sistem pengadaan kedelai.

“Dalam upaya berkontribusi pada program kemandirian nasional, BATAN  terus memfokuskan kegiatan litbang nuklir untuk menghasilkan bibit unggul kedelai dengan teknik mutasi radiasi,” tambahnya.

Awalnya, Peneliti Bidang Pertanian, PAIR BATAN, Hari Is Mulyana bersama rekan-rekannya di Kelompok Pemuliaan Tanaman melakukan penelitian dari benih kedelai Cikurai sehingga menghasilkan Mutiara 2 dan Mutiara 3. Hari mengatakan, untuk ‎melakukan penelitian 1 varietas, membutuhkan biaya hingga Rp 100 juta per tahun. 


"Kita lakukan penelitian dari 2008, di 2014 kita baru bisa presentasi ke Kementerian Pertanian, dan diumumkan baru bisa dilepas (ke pasar)," tutur Hari.

Mutiara adalah kepanjangan dari Mutan Unggul Teknologi Isotop dan Radiasi, karena secara teknis, kedelai ini diproses dari benih Cikurai dengan menggunakan tekonologi nuklir dengan radiasi sinar gama.


Selain itu, lanjut Hari, ‎kedelai hitam ini memiliki kandungan protein yang tinggi dibanding yang lain.

"Varietas ini juga adaptif terhadap lingkungan, kandungan protein 3%, standarnya 2%, kental dan tahan terhadap penyakit karat daun," imbuhnya.

Sebelumnya, sampai dengan tahun 2014, BATAN juga  telah menghasilkan 8 varietas unggul kedelai kuning, yaitu  Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa, Mitani, Mutiara 1, Gamasugen 1 dan 2

Dengan dilepasnya 2 varietas baru unggul kedelai hitam  Mutiara 2 dan Mutiara 3, diharapkan akan dapat berkontribusi dalam meningkatkan produksi kedelai nasional  untuk menuju swasembada kedelai pada tahun mendatang. Hal ini juga untuk kesekian kalinya BATAN ingin menyampaikan bahwa teknologi nuklir dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat yang berujung pada kemandirian dan kesejahteraan rakyat (tnt).