HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Denpasar, 26/10/2015) Bertempat di Hotel Citadines, Kuta Beach, Denpasar, Bali, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menggelar pertemuan perwakilan negara anggota International Atomic Energy Agency (IAEA) yang tergabung dalam proyek kerja sama regional RAS/7/024, yaitu sebuah kegiatan penelitian dan pengembangan aplikasi teknologi nuklir yang dikerjakan secara bersama oleh negara anggota IAEA. Pertemuan yang bertajuk IAEA/RCA RAS/7/024 Final Assessment Meeting on Supporting Nuclear and Isotopic Techniques to Assess Climate Change for Sustainable Marine Ecosystem Management”, digelar mulai 26 sd. 30 Oktober 2015, dihadiri oleh 12 peserta luar negeri yang terdiri dari 11 negara, 8 peserta dalam negeri, dan Programme Management Officer (PMO) IAEA untuk kegiatan RAS/7/024 .

Deputi Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir BATAN, Ferhat Aziz selaku Regional Cooperation Agreement (RCA) National Representative of Indonesia dalam sambutannya mengatakan bahwa isu besar yang dihadapi saat ini adalah berkaitan dengan marine environment yaitu perubahan iklim dan pemanasan air laut.

Perubahan iklim berdampak secara signifikan terhadap ekosistem laut dan pesisir yang mengakibatkan naiknya air laut, meningkatnya frekuensi, dan intensitas kejadian cuaca ekstrim seperti banjir, musim kering, dan angin topan.

Lebih lanjut, Ferhat Aziz menyampaikan bahwa salah satu kontribusi teknologi nuklir untuk penelitian perubahan iklim yang dilakukan di Indonesia adalah paleo-climate dengan menggunakan rasio Sr/Ca untuk merekonstruksi suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature – SST) dan Keasinan Permukaan Laut (Sea Surface Salinity – SSS) menggunakan koral besar yang dikumpulkan dari Kepulauan Seribu pada tahun 2011 dan juga dari area Coral Triangle Initiative (CTI) seperti Bali pada tahun 2013, Bunaken pada tahun 2014, dan Lombok pada tahun 2015 dengan tujuan untuk mempelajari hubungan antara lautan Pacific dan lautan India.

Di samping kegiatan tersebut BATAN bekerja sama dengan LIPI melakukan analisis koral menggunakan teknik Neutron Activation Analysis (NAA) untuk mempelajari sejarah polusi inorganik di area pesisir, melacak kontaminasi logam pada beberapa biota laut seperti kerang, ikan, dan jaringan koral.

Dengan dukungan IAEA melalui proyek kerja sama teknik baik nasional maupun regional (RAS/7/024), hasil kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh stakeholder terkait untuk mengembangkan praktek mitigasi perubahan iklim.

Dalam presentasinya, PMO IAEA untuk RAS/7/024, Mr. Massoud Malik, memaparkan mengenai proyek-proyek RCA dan mekanisme pengajuan proyek dalam kerangka RCA TC project. Sementara itu, Lead Country Coordinator (LCC) RAS/7/024, Ms. Adelina Bulos, menyampaikan overview aktivitas dan output yang dicapai oleh setiap negara anggota IAEA yang tergabung dalam kegiatan RAS/7/024.

Kegiatan Regional TC Project RCA RAS/7/024 dimulai pada tahun 2012 dan akan berakhir pada tahun 2015, dengan tujuan meningkatkan kemampuan regional dalam pemanfaatan teknik isotop dalam kajian dampak perubahan iklim terhadap sumber daya laut dan pesisir. Proyek ini diharapkan dapat berlanjut ke siklus 2016-2017 mengingat pentingnya isu perubahan iklim, terlebih selama ini beberapa negara anggota yang menjalankan proyek RAS/7/024 membutuhkan keahlian negara anggota lainnya dalam transfer ilmu dan teknologi dalam penanganan perubahan iklim. (intan/pur)