HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 04/02/2016), Kunci keberhasilan dalam pencapaian kinerja organisasi dimulai dari perencanaan yang baik dan dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan yang konsisten, efektif dan efisien, serta evaluasi dan pelaporan yang akuntabel. Sebagai langkah perencanaan yang baik di awal tahun, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR)-Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan penelahaan terhadap usulan kegiatan dan usulan penelitian tahun 2016 di Pasar Jumat, 3-4 Februari 2016.

PAIR sebagai salah satu Unit Kerja terbesar di BATAN yang juga mengemban tugas sebagai IAEA-Collaborating Center di bidang NDE, sebagai Pusat Unggulan Iptek dan NSTP-ATP, PAIR memiliki 20 (dua puluh) judul kegiatan (output) dan terdiri dari 51 judul penelitian.

Diantara 20 (dua puluh) output tersebut, 4 (empat) diantaranya merupakan prioritas nasional, yaitu Galur Mutan Harapan / Varietas Tanaman Pangan; Teknologi Pengelolaan Lahan Sub-Optimal; Pengembangan National Science Techno Park (NSTP) di Pasar Jumat-Jakarta; dan Pengembangan Agro Techno Park di Kabupaten Musi Rawas, Klaten, dan Polewali Mandar. Selain itu Juga terdapat 3 (tiga) output merupakan prioritas BATAN, yaitu Pengembangan Teknik Perunut Isotop Stabil untuk Mengetahui Status Gizi Anak; Prototipe Biomaterial Steril untuk Aplikasi Klinis Tersertifikasi; Pengembangan Metode Advanced Non Destructive Evaluation (NDE) dan sisanya merupakan prioritas Unit Kerja. Kegiatan tersebut lebih dari 90% bekerjasama dengan IAEA, FNCA Japan, maupun lembaga riset dalam negeri.

Kepala PAIR Hendig Winarno menekankan kepada para Penanggung jawab output dan para Peneliti bahwa semua output PAIR dipertanggungjawabkan sebagai Perjanjian Kinerja (PK) PAIR 2016 sehingga setiap individu harus mengambil peran dan tanggung jawab sesuai dengan kompetensi masing-masing. Kepala PAIR juga mengingatkan agar sejak awal tertanam kedisiplinan untuk membuat laporan kegiatan, mulai dari laporan realisasi fisik bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan, dan laporan teknis, serta harus tepat waktu, tidak perlu harus diingatkan. Jika hal ini bisa dilakukan tepat waktu, maka setiap permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan akan diketahui sedini mungkin dan segera dapat dicarikan solusi atau penanggulangannya sehingga capaian output dapat terkontrol dengan baik. (sroji)