HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 07/03/16). Pemerintah baru – baru ini mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar sebagai upaya mengurangi penggunaan kantong plastik bagi konsumen yang berbelanja di supermarket atau department store. Indonesia menduduki peringkat terbesar kedua penghasil sampah plastik yang dibuang ke laut setelah Tiongkok. Kebijakan plastik berbayar dianggap sebagai salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Namun Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menilai, kebijakan ini masih “banci”, karena niai rupiah yang dikeluarkan konsumen untuk membeli kantong plastik tidak sebanding dengan dampak buruk lingkungan yang ditimbulkan.

“Kebijakan plastik berbayar di satu sisi bagus, tapi di satu sisi agak “banci”, karena sangat murah dibandingkan upaya menyelamatkan lingkungan,” ungkap Tulus, saat Konferensi Pers di Kantor Pusat BATAN, Jakarta.

Konteks kebijakan plastik berbayar menurutnya, bukan pada nilai rupiah yang harus dikeluarkan konsumen untuk membeli plastik. Namun industri retail (dagang) harus aktif melakukan kampanye agar konsumen tidak menggunakan plastik dalam transaksinya, atau pilihan lain, yaitu menggunakan plastik ramah lingkungan.

 “Industri harus membuat plastik yang seramah mungkin untuk lingkungan. “Saya minta pemerintah memberikan perhatian terhadap penelitian BATAN yang punya plastik ramah lingkungan, agar dapat diproduksi secara massal,” sambungnya.

Sementara Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Hendig Winarno menjelaskan, BATAN punya teknologi radiasi yang bisa digunakan untuk membuat plastik ramah lingkungan, dengan menggunakan komposit limbah tapioka atau limbah sekam. Prosesnya dimulai dengan membuat biji plastik berbasis limbah tapioka dan beberapa bahan polimer lainnya agar mudah terurai secara alami. Selanjutnya, bahan tersebut diproses menjadi kopolimer (membentuk senyawa ikatan kompleks) dengan menggunakan teknologi radiasi, dengan penyinaran radiasi gamma yang memerlukan waktu dua sampai tiga jam, dengan dosis 10 kilo gray.

Plastik ini diklaim ramah lingkungan karena dapat terurai oleh mikroba tanah hanya dalam waktu dua sampai 6 bulan saja.

“Jika plastik biasa butuh ratusan tahun, plastik hasil penelitian kami bisa terdegradasi (mudah diurai) oleh mikroba daam waktu dua sampai enam bulan,” jelas Hendig.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto menambahkan, BATAN sudah lama berupaya menarik industri agar melirik teknologi ini, namun masih enggan karena nilai investasi yang besar dan keraguan akan keuntungan yang diperoleh.

“Butuh biaya 70 hingga 90 miliar untuk membangun satu iradiator. Investor masih ragu kapan balik modalnya, karena tanpa ini pun mereka sudah untung,” ungkap Djarot.

Padahal untuk memenuhi kebutuhan plastik, lanjutnya, Indonesia butuh setidaknya lima iradiator yang hanya khusus memproduksi plastik. Sementara Indonesia baru punya dua iradiator, yaitu iradiator non komersial milik BATAN untuk kegiatan riset, dan iradiator komersial yang berlokasi di Cikarang untuk kegiatan iradiasi produk lainnya.

“Pola pikir bahwa bukan hanya uang saja, tapi keberlanjutan lingkungan inilah yang harus terus kita perbaiki,” tukas Djarot.

BATAN telah bekerja sama dengan PT. Sarana Tunggal Optima dan PT. Tirta Marta untuk mengoptimalkan teknologi radiasi untuk memproduksi plastik ramah lingkungan skala industri. Namun keraguan akan investasi iradiator menjadi tantangan BATAN dalam hilirisasi produk ini (tnt)