HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 23/05/2016) Indonesia melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) ditunjuk oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai Lead Country Coordinator (LCC) untuk kawasan Asia Tenggara di bidang pengembangan tanaman bioenergi. Sebagai LCC, indonesia dijadikan pusat pelatihan bagi para peneliti khususnya peneliti muda untuk belajar mengembangkan bibit unggul tanaman bioenergi. 

Dipilihnya Indonesia sebagai LCC karena Indonesia memiliki lahan marginal sangat luas yang belum termanfaatkan dengan baik dan memiliki program pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mendukung ketahanan energi nasional. Dalam rangka  itulah, BATAN menggelar Regional Training Course on the Applications of In-Vitro Techniques in Mutation breeding of Bioenergy Crops di Hotel Mercure, Jakarta Selatan, 23 – 27 Mei. Pelatihan ini diikuti oleh 14 negara di Asia antara lain Bangladesh, Cambodia, China, India, Indonesia, Republic of Korea, Laos, Malaysia, Mongolia, Pakistan, Philipina, Sri Lanka dan Vietnam.

Kegiatan ini menurut peneliti BATAN bidang tanaman pangan sekaligus ketua LCC, Soeranto Human, berawal dari keresahan negara-negara asia khususnya asia tenggara terhadap peningkatan kebutuhan energi listrik. “Kebutuhan terhadap energi terus meningkat, sedangkan cadangan sumber energi fosil semakin menipis. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis energi. Kenapa kita tidak berfikir untuk mendapatkan energi melalui tanaman bioenergi?,” ujarnya.

Tanaman bioenergi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tanaman penghasil minyak (biodiesel), karbohidrat atau gula (bioetanol) dan biomasa (bagasse). Tanaman penghasil minyak diantaranya adalah sawit, jarak pagar dan bunga matahari, sedangkan penghasil karbohidrat/gula diantaranya adalah sorgum manis, tebu dan singkong. Telah disepakati bahwa tanaman bioenergi yang diteliti dan dikembangkan harus tanaman yang tidak berkompetisi dengan pangan, baik dalam pemanfaatan hasilnya maupun lahan yang digunakan, dan harus memanfatkan lahan marginal/sub optimal.

Di Indonesia tanaman bioenergi yang dikembangkan adalah sorghum. “Sorghum merupakan tanaman yang bandel, bisa hidup di lahan kering dengan curah hujan yang sangat rendah, sehingga daripada kosong tanahnya dapat menghasilkan produk,” lanjut Soeranto.

Selain itu, menurut Soeranto, manfaat tanaman sorghum sangat banyak. Bijinya mengandung karbohidrat, lemak dan protein tinggi sebagai bahan pangan. Batang dan daunya dapat dijadikan pakan ternak numinansia, sedangkan batangnya mengandung cairan gula cukup tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk membuat gula cair, sirup atau diproses menjadi bioetanol. Bioetanol inilah nantinya dijadikan sebagai bioenergi.

BATAN yang sejak tahun 1996 melakukan penelitian perbaikan varietas sorghum dengan memanfaatkan teknologi nuklir, sampai saat ini telah menghasilkan 3 varietas unggul tanaman sorghum yang diberi nama Pahat, Samurai 1 dan Samurai 2. (pur)