Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 18/03/2019). Director of the Joint FAO/IAEA Division of Nuclear Techniques in Food and Agriculture (NAFA), Mr. Qu Liang melaksanakan kunjungan kerja ke Indonesia dalam rangka membahas perkembangan kerjasama di bidang pemuliaan tanaman, dalam kaitan status BATAN sebagai Pusat Kolaborasi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dan program pertanian ramah iklim (climate-smart agriculture) dalam kaitan antara program pemuliaan tanaman dan program manajemen air dan tanah. Selain itu, Liang akan bertemu dengan pemangku kepentingan nasional guna mendorong perluasan kontribusi varietas nuklir yang dapat meningkatkan dampak sosial dan ekonomi bagi petani daerah.

Pada hari pertama, Senin (18/03), Liang berkunjung ke Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta. Salah satu pembahasan diskusi adalah mengenai proyek tempe yang melibatkan 3 organisasi internasional sekaligus, yakni IAEA, Organisasi  Pangan dan Pertanian(FAO), dan Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO), serta Kementerian/Lembaga tingkat nasional, yakni BATAN yang berada dalam koordinasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Perindustrian.

Proyek Technical Cooperation Indonesia dengan tema “Mengintensifkan Kualitas Produksi Kedelai di Indonesia untuk Mencapai Swasembada”, diarahkan pada peningkatan kualitas kedelai dan hilirisasi produksi antara lain tempe oleh pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). Proyek ini sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan impor kedelai. Proyek ini sudah dimulai sejak tahun 2017 yang diawali dengan kolaborasi untuk pematangan proposal proyek tempe.

“Proyek ini melibatkan banyak Kementerian/Lembaga dan organisasi internasional karena diharapkan dapat berjalan dari hulu hingga ke hilir,” ucap Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Totti Tjiptosumirat saat menerima kedatangan Liang.

Ia mengatakan, BATAN berada di posisi hulu sebagai penghasil benih unggul kedelai. Kemudian Kementerian Pertanian yang menyebarkan benih ke produsen benih,  dan Kementerian Perindustrian yang bertanggung jawab dalam hilirisasi ke UKM ataupun start-up company.

Pada tahun 2018, BATAN telah menyerahkan 2,5 ton benih padi unggul Mutiara 1 label kuning kepada Kementerian Pertanian untuk disebar ke produsen benih, yang kemudian akan diturunkan menjadi level benih di bawahnya.

“Kita memberikan 2.5 ton Mutiara 1 label kuning ke Kementan, nanti 2.5 ton itu akan diturunkan oleh produsen-produsen benih menjadi level benih di bawahnya, kalau sudah diturunkan itu kuantitasnya akan lebih besar, kan harapannya akan disebar  di sentra kedelai yang ada di Indonesia”, tambah Peneliti BATAN yang juga sebagai Co – National Project Coordinator, Azri Kusuma Dewi.

Selain itu, masa tunggu kedelai yang pendek membuat kedelai membutuhkan tempat penyimanan (cold storage) untuk memperpanjang masa simpan sebelum siap di gunakan oleh petani. Saat ini tinggal menunggu proses pengadaan cold storage oleh IAEA.

“Kita juga menyiapkan spesifikasi cold storage yang sesuai dengan kondisi di Indonesia, sejalan dengan itu, pada tahun 2019 untuk hilirisasi, Kemenperin juga mendampingi UKM untuk terus memperbaiki Standard Operasional Procedur (SOP) agar dapat menghasilkan kualitas tempe yang dapat diterima masyarakat, selain bahan baku tempe  yang baik juga diperhatikan higienisnya” tambahnya.

Kunjungan hari ini diakhiri dengan meninjau fasilitas National Science Techno Park (NSTP), Fasilitas Pusat Kolaborasi Pemuliaan Tanaman, dan Fasilitas Iradiator. Esok hari, Selasa (19/03), Liang dijadwalkan akan bertemu dengan perwakilan FAO Indonesia, Kementerian Pertanian, dan pemangku kepentingan terkait. Dilanjutkan dengan kunjungan ke Serang, Banten pada Rabu (20/03) untuk berdiskusi dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten, yang mana BATAN telah berhasil memperbaiki varietas padi lokal Banten yang diberi nama Mustaban (Mutasi Radiasi Varietas Banten). Kunjungan lapangan terakhir akan dilaksanakan pada Kamis (21/03) ke Agro Techno Park (ATP) di Klaten, Jawa Tengah (tnt).