Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 14/06/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) kembali menghasilkan 2 varietas unggul kedelai yang diberi nama Kemuning 1 dan Kemuning 2. Kedua varietas ini menambah jumlah varietas kedelai yang telah dihasilkan BATAN menjadi 12 varietas. Kemuning 1 dan Kemuning 2 memiliki keunggulan cocok ditanam di lahan yang kering.

“Kemuning merupakan singkatan dari Kedelai Mutan Tahan Kering,” jelas Pemulia Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Yuliasti, saat diwawancara di Gedung Pertanian, PAIR BATAN, Jumat, (14/06).

Kondisi lahan optimal (subur) yang semakin terbatas, ditambah banyaknya daerah lahan kering di Indonesia membuat Yuliasti dan timnya fokus melakukan penelitian kedelai yang toleran terhadap kekeringan. Terlebih, 50 hingga 60 persen ketersediaan kedelai dalam negeri saat ini masih mengandalkan impor.

“Jadi saya termotivasi untuk memperoleh varietas kedelai yang berbiji besar, tapi toleran terhadap lahan kekeringan, karena yang berbiji besar disukai oleh industri tempe,” ungkapnya.

Kemuning 1 dan Kemuning 2 berasal dari varietas kedelai Panderman sebagai tetua, yang merupakan varietas dari Kementerian Pertanian. Dengan menggunakan teknik mutasi radiasi, yakni dengan melakukan penyinaran radiasi gamma cobalt 60 sebesar 300 gray terhadap varietas kedelai Panderman maka dihasilkan varietas kedelai yang diinginkan. Ia menjelaskan, beberapa keunggulan kedelai Kemuning yang dihasilkan antara lain produktivitas tinggi, toleran kekeringan, cocok ditanam di lahan kering tegalan, ukuran biji yang besar, serta rasa yang gurih.

“Kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2 dapat beradaptasi dengan baik di lahan kering di Indonesia. Dengan ukuran biji yang lebih besar dan dapat bersaing  dengan kedelai impor, kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2 menghasilkan tempe yang lebih gurih dibandingkan dengan kedelai impor,” jelasnya.

Kemuning 1 dan Kemuning 2 memiliki kemiripan fisik antara lain ukuran biji yang besar dan berbentuk oval. Bobot 100 biji Kemuning 1 mencapai 19 hingga 23 gram, sedangkan Kemuning 2 mencapai 18 hingga 22 gram. Tinggi tanaman lebih pendek 5 cm dari varietas induknya sehingga tidak mudah rebah. Tinggi tanaman Kemuning 1 berkisar 59,34 cm, sedangkan Kemuning 2 berkisar, 59,47 cm.

Rata-rata hasilnya pun tinggi, diatas 2,5 ton per hektar. Kemuning 1 mencapai 2,87 ton per hektar dan Kemuning 2 mencapai 2,92 ton per hektar, masing-masing pada kadar air 12%. Kandungan protein Kemuning 1 mencapai 39, 40 persen Berat Kering (BK) dan Kemuning 2 mencapai 38,86% BK.

Sebelumnya, BATAN juga telah menghasilkan varietas kedelai berbiji super besar, yakni Mutiara, yang cocok ditanam di lahan optimal. Sementara untuk Kemuning, tambah Yuliasti, termasuk berukuran biji besar dan merupakan varietas kedelai BATAN pertama yang toleran di lahan kekeringan.

Ia berharap, kedepan, Kemuning 1 dan Kemuning 2 dapat berkontribusi menyokong ketahanan kedelai Indonesia. “Perlu kerja sama dengan pihak swasta, Pemerintah Daerah, maupun industri tempe agar Kemuning 1 dan Kemuning 2 bisa dikembangkan dan dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia,” harapnya.

Deskripsi lengkap mengenai varietas kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2 dapat diunduh pada tautan berikut: