Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 04/07/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk pertama kalinya menghasilkan varietas unggul pisang yang diberi nama Pirama 1. "Pirama adalah singkatan dari Pisang Radiasi Gamma," jelas Pemulia Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Ishak, saat ditemui di Gedung Pertanian, PAIR BATAN, Jakarta, Kamis (04/07).

Pisang hasil penelitiannya ini toleran terhadap penyakit layu Fusarium, penyakit yang sering melanda pada tanaman pisang. Padahal, pisang kaya akan vitamin C dan kandungan nutrisi lainnya seperti karbohidrat, protein, dan kalium yang sangat baik untuk kesehatan.

Karena itu, ia melakukan penelitian terhadap pisang ambon sebagai bibit induk. Penelitiannya telah ia lakukan sejak tahun 2014. “Pisang ambon pada umumnya tidak toleran terhadap penyakit layu Fusarium, penyakit yang paling ditakuti petani. Karena kalau sudah menyerang satu tanaman, Fusarium bisa menyerang tanaman lainnya secara serentak pada satu lokasi. Daunnya jadi menguning, tidak berbuah, lama-lama mati,” jelas Ishak.

Ia melakukan penelitian dengan teknik mutasi radiasi, yakni dengan melakukan penyinaran radiasi gamma terhadap bibit pisang ambon sebesar 20 hingga 30 gray. Radiasi digunakan untuk mendapatkan keragaman genetik sehingga dipilih galur mutan pisang yang paling toleran terhadap penyakit layu Fusarium.

Beberapa keunggulan pemuliaan tanaman pisang perdananya ini antara lain tahan penyakit layu Fusarium dan kandungan vitamin C yang lebih tinggi dibandingkan induknya. “Kandungan vitamin C - nya antara 30 hingga 50 persen lebih tinggi daripada pisang ambon biasa,” tambahnya.

Ia optimis, Pirama 1 dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk memberikan keuntungan yang lebih banyak, serta petani untuk meningkatkan pendapatannya. Menurutnya, Pirama 1 akan menjadi intangible factor, artinya faktor yang tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan manfaatnya baik dari sisi komersialisasi maupun perbaikan gizi masyarakat Indonesia.

“Pengusaha bisa memperoleh keuntungan yang lebih karena terbebas dari masalah penyakit Fusarium, dia (pengusaha) juga bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja. Selain itu, mengonsumsi Pirama 1 dapat membantu memperbaiki gizi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di pedesaan yang kekurangan vitamin C,” tuturnya.

Selain Pirama 1, masih ada 5 calon galur mutan lain yang siap dilepas. Ishak berharap, penelitiannya dapat terus dilanjutkan sehingga menambah keragaman pilihan varietas pisang asli Indonesia.

Deskripsi lengkap mengenai varietas pisang Pirama 1 dapat diunduh pada tautan berikut:  

(tnt).