Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Klaten, 22/10/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) berhasil memperbaiki varietas padi Rojolele khas Kabupaten Klaten. Keberhasilan ini diwujudkan dengan panen perdana varietas Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar di Kawasan Agro Techno Park (ATP), Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/10).

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Klaten, Sunarno, mengatakan, Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar merupakan salah satu perwujudan inovasi penelitian dan pengembangan yang mendekatkan pada budaya masyarakat lokal setempat.

Penamaan "Rojolele Srinuk", lanjut Sunarno, berasal dari kata "Rojolele" yang merupakan varietas induk, "Sri" yang bermakna dewi padi, dan Inuk yang bermakna enak sekali. Sedangkan penamaan "Rojolele Srinar" juga berasal dari kata "Rojolele"  dan "Sri", serta "Srinar" yang diambil dari slogan Kabupaten Klaten, yakni Klaten Bersinar (bersih, sehat, indah, nyaman, aman, rapi).

"Atau bisa diartikan Srinuk, singkatan dari Inovasi Nuklir Klaten, dan Srinar, singkatan dari Beras Sehat Inovasi Radiasi", ucap Sunarno.

Peneliti PAIR BATAN, Sobrizal, menceritakan awal mula penelitian terhadap varietas Rojolele dimulai sejak tahun 2013. Pemerintah Kabupaten Klaten dan DPRD Kabupaten Klaten meminta BATAN memperbaiki varietas Rojolele yang sangat disukai oleh masyarakat.

Kendati disukai masyarakat, Rojolele mulai jarang ditanam karena memiliki beberapa kelemahan, diantaranya umur tanam yang panjang hingga 155 hari, tinggi tanaman mencapai 155 cm sehingga mudah rebah bahkan sebelum panen, dan tidak tahan terhadap hama penyakit.

Perbaikan lantas dilakukan terhadap varietas Rojolele dengan radiasi sinar gamma pada dosis 200 grey. Setelah melalui berbagai tahapan uji yang disyaratkan oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu 6 tahun, dihasilkan varietas baru yakni Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar yang lebih unggul.

Keunggulan kedua varietas ini dibandingkan dengan induknya antara lain mempunyai umur lebih pendek yakni kurang dari 120 hari, tinggi tanaman sekitar 105 cm sehingga tidak mudah rebah.

Kedua varietas ini juga memiliki keunggulan tahan hama penyakit lebih baik dan produksinya lebih tinggi mencapai 9 ton per hektar bila dibandingkan dengan induknya yang hanya mencapai 7 ton per hektar.

"Selain itu, mutu fisik beras dan mutu organoleptik (rasa nasi, aroma, dll) setidaknya sama dan bahkan cenderung lebih baik dibandingkan induknya," jelas Sobrizal.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengaku bangga dengan hasil kerja keras dari semua pihak yang berhasil mewujudkan inovasi varietas Rojolele yang lebih unggul.

Menurutnya, inovasi ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa yang utama itu bukan prosesnya, tetapi hasilnya, seperti mengirim pesan atau whatsapp, ada sent, artinya terkirim, dan delivered, artinya telah diterima.

"Sesuai arahan Presiden inilah, hari ini kita membuktikan bahwa inovasi bukan hanya pengetahuan, tetapi budaya, apa yang kita lakukan adalah bukti nyata inovasi dari kita untuk kita, padi khas masyarakat Klaten, Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar," ucapnya.

Ia berharap kedua varietas ini dapat memutar roda perekonomian Kabupaten Klaten, dan ia menegaskan agar hilirasasi harus tetap berlanjut.

"Saya akan menginstruksikan semua aparatur sipil negara Kabupaten Klaten untuk membeli beras Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar, supaya kita bisa mengangkat roda perekonomian Kabupaten Klaten. Masyarakat Klaten harus menikmati, baru selanjutnya kita jual ke daerah lain," pungkasnya. (tnt).