Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Klaten, 03/12/2019). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) bersama mitranya yang tergabung dalam pengembangan Science Techno Park (STP) dan Agro Techno Park (ATP) menggelar pertemuan bersama untuk membahas capaian dan evaluasi kegiatannya selama tahun 2015 hingga 2019. Dalam pertemuan yang diselenggarakan di Kabupaten Klaten selama 2 hari mulai tanggal 2 Desember 2019 dibahas capaian hasil dan evaluasi kegiatan selama 5 tahun terakhir dari Nasional STP (PAIR) dan ketiga ATP yakni, ATP Musi Rawas, ATP Polewali Mandar, dan ATP Klaten.

Kepala PAIR Totti Tjiptosumirat dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ATP yang awalnya merupakan kegiatan hilirisasi hasil litbang BATAN, di akhir tahun 2019 ini sudah terlihat capaian yang cukup signifikan dari masing-masing STP maupun ATP. “Diantaranya seperti di ATP Klaten kita sudah memiliki varietas baru padi Rojolele yang sudah tersertifikasi dengan nama baru Srinar dan Srinuk, kemudian di ATP Polewali Mandar kita sudah memiliki 15 Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi atau PPTB, dan yang segera menyusul dalam waktu dekat dari ATP Musi Rawas diharapkan pelepasan varietas baru padi Dayang Rindu,” ujarnya.

Totti mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan BATAN dalam penerapan teknologi nuklir hasil litbangnya ke daerah-daerah di Indonesia, pada awalnya dilakukan melalui kerja sama antara BATAN dengan pemerintah daerah. “Yaitu dimulai dengan kerja sama dalam kegiatan inkubasi teknologi, penerapan teknologi yang dimiliki BATAN, dan kemudian diadopsi menjadi kegiatan STP - ATP, sesuai program pemerintah saat itu,” tuturnya. “Selanjutnya melalui BATAN, dengan anggaran APBN dilakukan pembangunan infrastruktur dan fasilitas lainnya yang memang diperlukan untuk kegiatan ATP di masing-masing daerah,” katanya.

Dalam kesempatan ini Deputi Bidang Sains dan Teknolgi Nuklir (SATN) BATAN Efrizon Umar dalam sambutannya menyampaikan perlunya dilakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan ATP selama 5 tahun ini, sehingga bisa diketahui seberapa jauh hasil teknologi BATAN bisa ditransfer ke masing-masing ATP. “Evaluasi tuntas akan dapat dijadikan pijakan untuk perencanaan kegiatan 5 tahun ke depan,” kata Efrizon. “Masih banyak teknologi tepat guna hasil litbang BATAN di luar bidang pertanian dan peternakan, seperti di bidang kesehatan maupun industri yang bisa diterapkan dan direkomendasikan untuk tiap-tiap daerah ATP,” lanjutnya.

Deputi SATN Efrizon menekankan perlunya kerja sama antara BATAN dengan pemerintah daerah dalam pelaksanaan STP dan ATP. “ Saya yakin dengan bekerjasama semua bisa kita lakukan. Karena sekarang ini  bukan saatnya bagi ke tiga ATP ini untuk berkompetisi, tapi justru yang lebih penting kita harus berkolaborasi, dengan berkolaborasi kita bisa maju,” katanya.

“Kemudian dengan bantuan teknis yang memungkinan dari BATAN,  karena secara program BATAN merasa bertanggungjawab, mudah-mudahan ketiga ATP ini tetap bisa berjalan terus di masa mendatang,” punkasnya.

Selanjutnya sebagai arahan untuk penyusunan program yang akan datang, dalam kesempatan ini Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama - Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kementrian PMK), R. Agus Sartono menyampaikan paparannya tentang Program Pembangunan Science and Technopark Menuju Indonesia Maju. Disampaikan oleh Agus bahwa program STP dibuat untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional. “Target STP adalah untuk mengejar daya saing bangsa Indonesia, khususnya dalam 3 hal  yaitu dalam kemampuan di bidang inovasi, kemampuan research dan kemampuan dalam pendidikan tinggi,” ujarnya.

“Oleh karena itu, pengembangan STP dan ATP harus mengacu pada perspektif upaya pengurangan ketergantungan pada import, pengurangan angka kemiskinan dan penciptaan lapangan pekerjaan,” katanya.

Dalam pertemuan pembahasan capaian dan evaluasi kegiatan STP pada tanggal 2 hingga 3 Desember 2019 ini telah dilakukan pula kegiatan lainnya seperti Sarasehan dan Pameran hasil kegiatan ATP tahun 2015-2019 yang dilakukan di Pendopo Kantor Bupati Klaten, Kunjungan ke lapangan ATP Klaten serta presentasi dan diskusi capaian STP BATAN dan ATP dari Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Polewali Mandar serta Kabupaten Klaten di Ball Room Hotel Grand Tjokro Klaten. (my)