HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 17/07/2020). Perbaikan varietas padi lokal saat ini menjadi salah satu fokus kegiatan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Hal ini bertujuan untuk memperbaiki varietas padi lokal yang umumnya memiliki umur tanam yang panjang dan bentuk padi yang tinggi sehingga mudah rebah, namun memiliki aroma dan rasa yang disukai masyarakat setempat. Salah satu varietas terbaru yang telah berhasil dilepas bernama Lampai Sirandah, yang merupakan perbaikan varietas lokal padi Lampai Kuniang dari Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Kepala Seksi Pemerintahan dan Kependudukan Kec. IV Nagari, Kabupaten Sijunjung, Hendra, mengatakan, kerjasama antara BATAN dengan Pemda Sijunjung dirintis sejak tahun 2015, ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara BATAN dengan Kabupaten Sijunjung. Ia mengatakan, padi lokal Lampai Kuniang disukai masyarakat setempat dengan tekstur nasi yang pera, namun dalam pengembangannya terkendala umur tanam yang panjang dan mudah rebah.

“Perbaikan kedua kelemahan ini kami lakukan bersama dengan BATAN melalui pemuliaan mutasi,” ungkapnya dalam Seminar Daring yang bertajuk “Perbaikan Varietas Padi Lokal dengan Teknik Mutasi Radiasi”, yang disiarkan melalui video konferensi zoom dan live di Youtube, Jumat (17/07).

Perbaikan ini, menurutnya, bertujuan untuk mendapatkan varietas keturunan Lampai Kuniang dengan umur genjah, tahan rebah, namun tidak menghilangkan rasa nasi khas Lampai Kuniang. Perbaikan ini membuahkan hasil dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 849/HK.540/C/06/2020 pada tanggal 17 Juni 2020 tentang pelepasan calon varietas padi sawah LK-05 sebagai varietas unggul dengan nama Lampai Sirandah. 

Lampai Sirandah memiliki potensi hasil 9,77 ton per hektar gabah kering giling, dengan rata-rata hasil mencapai 8,66 ton per hektar gabah kering giling, yang memiliki tekstur nasi pera dan aroma wangi.

Peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN Sobrizal mengatakan, padi lokal pada umumnya memiliki ciri khas aroma dan rasa yang disukai masyarakat setempat namun terkendala umur tanam yang panjang dan bentuk tanaman yang tinggi sehingga mudah rebah sebelum panen.

“Umumnya padi lokal berumur tanam hingga 120 hari, kemudian kita lakukan perbaikan dengan mutasi radiasi. Seperti di Kabupaten Sijunjung (Lampai Sirandah: Red) dapat diperpendek umurnya hingga umur 105 hari,” jelasnya.

BATAN juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi lainnya, diantaranya Kabupaten Klaten-Jawa Tengah, Kabupaten Musi Rawas-Sumatera Selatan, Kabupaten Landak-Kalimantan Barat, Kabupaten Kota Baru-Kalimantan Selatan, dan sebagainya. Kerja sama dengan Kabupaten Klaten telah dimulai sejak tahun 2013 untuk perbaikan varietas padi lokal Rojolele dan telah menghasilkan varietas hasil perbaikan dengan mutasi radiasi yang diberi nama Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk.

Baca juga: Rojolele Srinuk dan Srinar Panen di Klaten

“Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk telah dilepas oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2019 lalu. Saat  ini kami sedang melakukan upaya hilirisasi kedua varietas tersebut,” ungkap Kepala Bidang Litbang Dalev Bappeda Kabupaten Klaten, Umar Said.

Upaya hilirisasi ini, lanjut Umar, antara lain akan dilakukan rencana kegiatan penanaman serentak di seluruh wilayah Kabupaten Klaten.

“Selain itu, kami sedang merencanakan penerbitan regulasi untuk mengarahkan Aparatur Sipil Negara (ASN), staf-staf non ASN, dan karyawan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk wajib membeli dan mengonsumsi beras Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk,” lanjutnya.

Pemkab Klaten juga berencana akan membangun pasar beras. Adanya pasar terpusat ini diharapkan memberikan jaminan sisi permintaan bagi petani, sehingga dapat meningkatkan volume produksi. Hal ini merupakan wujud aksi nyata Kabupaten Klaten sebagai lumbung pangan Jawa Tengah dan juga nasional. Namun menurut Umar, pengembangan padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk hanya boleh dilakukan di wilayah Klaten.

“Kedua varietas ini akan menjadi varietas padi premium, dan kami fokus mengembangkan mulai dari sisi hulu hingga hilir, namun yang kami ekspansi keluar Klaten hanya berasnya saja, sedangkan pengembangan padinya tetap di Klaten untuk mempertahankan ekslusifitas dan ciri khas dari padi lokal, karena memang pengembangan kedua padi ini untuk lokal saja,” jelasnya.

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pemuliaan tanaman dengan mutasi radiasi, dapat menghubungi Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi.

Baca juga: Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN

(tnt).