HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 24/07/2020). Aplikasi teknologi nuklir, dalam hal ini isotop dan radiasi, telah dimanfaatkan di bidang pertanian, salah satunya teknik perunutan isotop dalam penentuan dinamika unsur hara. Seperti diketahui, terdapat 16 unsur hara yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, diantaranya karbon, hidrogen, dan oksigen yang berasal dari udara dan air, serta nitrogen, fosfor, kalsium dan 10 unsur lainnya yang dipasok oleh mineral tanah dan bahan organik tanah, juga dari penambahan pupuk organik dan anorganik.

Teknik perunutan isotop diperlukan agar adanya efisiensi sumber daya bagi produktivitas lahan dan produksi tanaman. Hal ini disampaikan peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Ania Citraresmini, pada Seminar Daring yang bertajuk Teknik Perunutan Isotop dalam Penentuan Dinamika Unsur Hara, yang disiarkan live melalui video konferensi Zoom dan Youtube, Jumat (24/07).

Lebih lanjut Ania mengatakan, secara kuantitatif, teknik perunutan isotop mampu menghitung presentase keberadaan unsur hara di dalam tanaman, dari berbagai sumber unsur hara yang berkontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Sedangkan secara kualitatif, teknik perunutan isotop mampu memberikan informasi dinamika atau pergerakan unsur hara, dari sumber hara di dalam tanah sampai ke penyimpanan unsur hara di dalam tanaman.

“Yang sering ditanyakan, berapa jumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman? Berapa yang diserap tanaman? Berapa jumlah unsur hara yang tersedia di dalam tanah? Dosis dan jenis pupuk apa yang mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman?” Maka untuk menjawab ini, teknik perunutan diperlukan,” ujar Ania.

Menurutnya, efisiensi tidak hanya berfokus pada produktivitas tanamannya saja, tetapi efisiensi tingkat produktivitas lahan agar tetap terjaga, sehingga produksi tanaman akan tetap baik dan berkelanjutan.

Efisiensi dari penggunaan pupuk atau unsur hara (EPP), tutur Ania, mengindikasikan perbandingan antara jumlah unsur tertentu yang diserap oleh tanaman, dengan jumlah pupuk yang berisi unsur tertentu yang diberikan pada tanaman tersebut. Penghitungan EPP ini, dapat dilakukan dengan metode non isotop ataupun metode isotop, namun keduanya saling berdampingan.

Ania memberikan gambaran, dalam suatu penelitian metode non isotop, dapat diperoleh data berapa total unsur nitrogen yang diserap oleh tanaman. Namun, metode non isotop tidak dapat membedakan nitrogen tersebut berasal dari sumber nitrogen pupuk yang diberikan atau yang terkandung di dalam tanah.

“Maka, disinilah peran dari teknik perunut dengan isotop tersebut. Kita bisa mengetahui berapa persen kandungan nitrogen pada tanaman yang berasal dari pupuk yang kita berikan, dan berapa persen yang dari tanah atau teknik budidaya yang kita lakukan,” lanjut Ania.

Karena itu, penggunaan isotop baik stabil maupun radioaktif memberikan hasil yang tepat dan akurat. “Hasil penelitian ini menjadi rekomendasi dalam efektivitas pemberian pupuk atau teknologi pemupukan,” tambahnya.

Teknik aplikasi isotop ini, diaplikasikan dalam bentuk pupuk bertanda, misalnya urea 15N yang diaplikasikan selayaknya mengaplikasikan pupuk urea ke dalam tanah, atau dalam bentuk carrier free yang diaplikasikan selayaknya menginkubasi pupuk cair ke dalam tanah.

Terkait aspek keselamatan, Ania menekankan bahwa teknik perunutan isotop mengutamakan keselamatan sesuai prosedur yang berlaku.“Lingkungan aplikasi isotop baik stabil maupun radioisotop harus terisolir untuk mencegah kontaminasi ke luar. Di sini saya tekankan bahwa teknik perunutan ini mengutamakan prisnip keselamatan dan keamanan, baik isotop stabil maupun radioisotop,” ujarnya.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawasan mengatakan, informasi terkait aplikasi iptek nuklir untuk manajemen sumber daya lahan dan air ini belum banyak diketahui masyarakat, Ia berharap, aplikasi iptek nuklir bisa diterapkan secara terintegrasi, dimulai dari pertanian, peternakan, hingga manajemen sumber daya lahan dan air menjadi integrated farming secara berkelanjutan. Menurutnya, upaya integrated farming perlu memperhatikan kajian teknoekonomi yang menguntungkan masyarakat.

“Upaya ini sebetulnya sudah pernah kita lakukan di beberapa tempat, hanya saja keberlanjutannya yang belum terjamin. Ini menjadi tantangan bagi BATAN melalui Pusat Diseminasi dan Kemitraan, bagaimana membuat model-model bisnis yang kompetitif dengan teknologi lain, yang dilihat tidak hanya bagus dari sisi ilmiahnya, namun juga kajian teknoekonominya, sehingga nuklir menjadi teknologi yang bukan hanya maju namun juga menguntungkan,” ucap Anhar.

Isotop adalah unsur yang sama namun memiliki nomor massa yang berbeda. Nomor massa adalah jumlah proton dan neutron. Perbedaan nomor massa disebabkan jumlah neutron yang tidak sama. Sifat kimia dari semua isotop dari suatu unsur adalah sama dengan “induk”nya, tidak dipengaruhi oleh nomor massanya. Isotop dapat bersifat radioaktif atau stabil. Isotop stabil tidak melakukan peluruhan, sedangkan isotop radioaktif melakukan peluruhan, dan dalam proses peluruhan ini melepaskan radiasi (tnt).