HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 06/08/2020). Material Fungsional adalah material atau bahan yang mempunyai sifat material itu sendiri namun dapat memberikan suatu fungsi yang spesifik. Untuk membahas material fungsional tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) menggelar seminar daring  dengan tema “Aplikasi Teknologi Nuklir untuk Pembuatan Material Fungsional” melalui aplikasi video conference dan disiarkan secara langsung melalui Youtube Humas BATAN, Rabu (05/08).

Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN) BATAN, Efrizon Umar dalam sambutannya mengatakan, aplikasi teknologi nuklir, khususnya dalam pemanfaatan teknologi isotop dan radiasi untuk material fungsional saat ini sudah mencapai seluruh lapisan masyarakat.

“Banyak sekali material-material fungsional yang sudah beredar di pasaran yang sebenarnya tanpa diketahui oleh masyarakat dalam prosesnya terlibat peran teknologi nuklir. Sebagai contoh misalnya, pemanfaatan aplikasi isotop dan radiasi pada material oligo kitosan, polimer, plastik mudah urai dan juga material penyerap air,” kata Efrizon.

Efrizon mencontohkan pemanfaatan teknologi nuklir untuk pembuatan material oligo kitosan yang dimanfaatkan di bidang pertanian yaitu sebagai promotor pada tumbuhan. “Misalnya di Bangka untuk memperbaiki kualitas tanaman lada, selain itu juga di daerah Kerinci untuk memperbaiki kualitas tanaman cabai,” lanjutnya.

Contoh lain penerapan teknologi isotop dan radiasi yakni pada pembuatan material penyerap air, dimana kita dapat menciptakan material fungsional yang dapat menyerap air. “Indonesia memiliki banyak sekali daerah-daerah sub optimal yang pada musim hujan airnya mengalir deras, tidak terserap dan tersimpan oleh tanahnya, sehingga tanahnya tidak produktif. Dengan menggunakan teknologi aplikasi isotop dan radiasi kita bisa menciptakan material fungsional penyerap air yang kemudian dapat ditaburkan di tanah-tanah tersebut sehingga tanah di daerah tersebut bisa menyerap air dan menjadi lebih produktif,” jelasnya.

Banyak contoh lain disampaikan oleh Efrizon tentang pemanfaatan teknologi nuklir pada pembuatan material fungsional yang dimanfaatkan di banyak bidang. Selanjutnya Efrizon berharap ke depan pemanfaatan teknologi nuklir, khususnya dalam pembuatan material fungsional ini akan lebih besar lagi.

“Yang perlu kita sadari juga, jangan sampai teknik isotop dan radiasi, lebih luasnya teknik nuklir menjadi semacam mistik modern, asal mendengar nuklir, orang menjadi apriori. Jangan sampai demikian,” ujar Efrizon.

“Karena teknik nuklir merupakan rahmat Alloh yang bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala PAIR-BATAN, Totti Tjiptosumirat selaku ketua penyelenggara menyampaikan bahwa tujuan seminar ini adalah sebagai ajang tukar informasi hasil-hasil pemanfaatan teknologi nuklir terkait dengan aplikasi isotop dan radiasi, khususnya yang berhubungan dengan material fungsional. “Selain itu agar ke depannya kita bisa lebih melestarikan pemanfaatan teknologi isotop dan radiasi, khususnya di bidang proses radiasi yang berkenaan dengan pembuatan material fungsional,” kata Totti.

“Dengan demikian kita terus dapat mengundang para pemangku kepentingan untuk dapat bekerja sama memanfaatkan teknologi aplikasi isotop dan radiasi,” lanjutnya.

Menurutnya, teknologi isotop dan radiasi atau lebih luasnya teknologi nuklir adalah teknologi yang ramah dan dapat dikendalikan. “Teknologi nuklir itu seperti pisau, tergantung kita, mau digunakan untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Bisa untuk merampok, tapi juga bisa kita  gunakan untuk memasak,” ujar Totti.

“Tentunya kita harus menggunakan metode-metode atau cara-cara tertentu yang aman, baik bagi si pelaksana maupun bagi pengguna,” lanjutnya.

Totti menjelaskan, pemanfaatan material fungsional dengan teknologi nuklir mencakup material atau bahan pangan dan non pangan. Untuk non pangan Totti memberi contoh material atau bahan fungsional yang bisa digunakan untuk melakukan modifikasi, misalnya material fungsional yang digunakan untuk melakukan pelapisan sebagai anti gores, material fungsional untuk mengisi sela-sela terkecil suatu materi atau sebagai filler, atau juga bisa berfungsi sebagai bahan additif.

“Dengan demikian material atau bahan yang dihasilkan akan berfungsi dengan lebih baik,” kata Totti.

Selanjutnya Totti juga menyampaikan bahwa banyak yang sudah dilakukan BATAN terkait aplikasi teknologi isotop dan radiasi untuk material fungsional yang ke depan dapat lebih dikembangkan bersama dengan para pemangku kepentingan, baik dari Perguruan Tinggi, Industri maupun lembaga litbang lain. “Menjadi tekad bulat kita bersama, seperti yang disampaikan presiden RI,  tancap gas, agar Indonesia dapat bertahan dan kemudian bangkit kembali dengan adanya pandemi Covid-19. Industri dan roda ekonomi harus segera pulih, dengan lebih memanfaatkan hasil aplikasi teknologi nuklir untuk pembuatan bahan fungsional,” pungkas Totti. (my)