HUTRI75
hani2020

International Day Against Drug

26 June 2020

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
Slide7

Keberhasilan BATAN dalam membuat pakan suplemen untuk ternak UMMB sangat menguntungkan peternak dan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) mempercepat masa panen

Slide8

Pengawetan bidang pangan mampu tidak menanggulangi kerusakan bahan pangan akibat pengaruh cuaca, serangan serangga, hingga rusak oleh mikroba."

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Collaborating Centre – Sebuah Pengakuan IAEA

Penetapan BATAN sebagai IAEA Collaborating Centre didasar pada dua hal yaitu (1) capaian signifikan oleh BATAN dalam bidang

Selengkapnya...

(Jakarta, 12 Agustus 2020). Sterilisasi adalah proses yang sangat krusial dan urgent untuk kesehatan kita semua, terutama pada masa pandemi covid sekarang ini. Sterilisasi dengan metode radiasi adalah teknik yang sudah sangat matang dan establish di berbagai negara termasuk Indonesia. Untuk membahas hal tersebut Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) menyelenggarakan seminar daring  dengan tema “Aplikasi Isotop dan Radiasi untuk Sterilisasi Produk Kesehatan dan Herbal” yang disiarkan live melalui konferensi video Zoom dan Youtube Humas BATAN, Rabu (12/08).

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan dalam sambutannya menyampaikan bahwa aplikasi iptek nuklir untuk sterilisasi produk kesehatan dan herbal di Indonesia memiliki prospek yang sangat bagus, namun masih terkendala dengan ketersediaan fasilitas iradiasi yang saat ini dirasa masih kurang.

“Iradiasi untuk sterilisasi produk kesehatan dan herbal sebetulnya punya prospek sangat bagus, tapi kesempatan untuk semua produk kesehatan dan produk herbal itu bisa diiradiasi agar steril, itu masih sangat sedikit. Kenapa? Karena memang fasilitas iradiasi yang ada di Indonesia juga sangat sedikit,” kata Anhar.

Menurut Anhar fasilitas iradiator di Indonesia jumlahnya masih sangat terbatas, baik yang bersumber dari bahan radioaktif dengan sinar gamma maupun akselerator elektron. Indonesia hanya memiliki dua iradiator gamma, satu yang dimiliki oleh BATAN dan satu lagi dimiliki oleh pihak swasta. Selain itu ada 4 buah iradiator dengan kapasitas yang lebih kecil di BATAN yang lebih banyak digunakan untuk kegiatan penelitian.

“Untuk ukuran Indonesia yang sedemikian besar dan sedemikian banyak produk yang dihasilkan, itu masih kurang,” ujar Anhar. “Bandingkan dengan Vietnam yang punya 8 fasilitas iradiator, 5 iradiator gamma dan sisanya akselerator elektron, lebih banyak dari pada Indonesia,” lanjutnya.

Anhar menyampaikan bahwa sejak beberapa tahun yang lalu BATAN telah mengembangkan fasilitas iradiasi, yang terkini adalah Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP). IGMP adalah suatu fasilitas iradiasi yang dirancang oleh para insinyur di BATAN bersama para stakeholders. Sejak diresmikan pada tahun 2017 oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, IGMP telah beroperasi melayani kebutuhan masyarakat untuk melakukan iradiasi berbagai macam produk, dari produk kesehatan, produk herbal dan juga produk makanan. 

“Ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah bisa membuat fasilitas iradiator yang kinerjanya bagus seperti yang diharapkan dan pemanfaatannya jelas, ini yang kita buktikan,” kata Anhar. “Selain itu juga saat ini banyak sekali produk-produk yang kita iradiasi di IGMP adalah produk-produk yang digunakan untuk ekspor,  sehingga iradiator ini bisa berkontribusi untuk meningkatkan ekspor kita,” lanjutnya.

Anhar berharap ke depan Indonesia  bisa lebih banyak lagi memiliki fasilitas iradiasi ini, karena kita bisa memanfaatkan dan kita sangat butuh. Terkait dengan hal tersebut, menurut Anhar,  BATAN telah mendapatkan banyak dukungan, seperti dari Menristek dan dari beberapa menteri yang lain dan juga bahkan dari Wakil Presiden RI.

Dijelaskan oleh Anhar bahwa saat ini BATAN sedang membuat beberapa desain iradiator yang nantinya akan ditawarkan pada para investor dengan harapan ada investor yang berminat dan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun iradiator tersebut. “Kita berharap bukan BATAN yang akan membangun, namun BATAN siap menyediakan para engineernya untuk membantu menyiapkan desain serta membantu melakukan study kelayakannya,” katanya.

Di akhir sambutannya Anhar mengutip salah satu penggalan pidato presiden pertama RI, Ir. Soekarno saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan reaktor riset nuklir pertama Indonesia yang dibangun di Bandung, yaitu Masjarakat adil dan makmur jang diselenggarakan dengan bantuan atomic energy. “Jadi  harapan bahwa atomic energy atau tenaga atom, atau energi nuklir, atau iptek nuklir secara umum agar bisa berkontribusi dalam pembangunan masyarakat dan menjadikan masyarakat adil dan makmur adalah cita-cita founding father Indonesia,“ kata Anhar. “Tahun ini 62 tahun BATAN, kita punya visi nuklir untuk Indonesia, mudah-mudahan bisa kita realisasikan, “ pungkasnya.  (my)