Gedung STTN dan Fasilitas
Sertifikasi Mahasiswa STTN
Pembelajaran di STTN
Kerjasama
Wisuda dan Alumni
Pengabdian Masyarakat

(15/10/21). “Semoga pada tahun ini Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) bisa segera bertransformasi menjadi Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia,” ungkap Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc, selaku kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara daring dalam acara wisuda mahasiswa STTN, Rabu, 13 Oktober 2021. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk mengikuti regulasi dan perkembangan zaman di era Pendidikan vokasi saat ini. Handoko berharap dengan transformasi menjadi Politeknik, STTN akan semakin dikenal masyarakat luas, semakin memiliki masa depan, dan seluruh lulusannya dapat diterima dengan lebih baik, khususnya di industri, masyarakat dan pemakai tenaga ahli teknologi nuklir.

(Yogyakarta, 14/10/21). Hendi Septian Cahyadi, mahasiswa Program Studi Elektro Mekanika ini mengenal Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), berawal dari keinginannya untuk melanjutkan jenjang pendidikan tinggi dengan jurusan yang langka di Indonesia. Hendi berharap, dengan pilihannya untuk melanjutkan pendidikan pada jurusan yang masih langka tersebut, akan memudahkan dirinya mendapatkan lowongan pekerjaan setelah lulus nantinya. Dan, harapannya tersebut kini menjadi kenyataan. Sebelum wisuda dilaksanakan, Hendi telah dinyatakan diterima bekerja di PT. AusNDT, Jakarta Utara pada divisi Teknisi Kalibrasi dengan memakai lisensi OR dan UT yang dimilikinya.

(Yogyakarta, 14/10/21). Pada hari Senin, 11 Oktober 2021, Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) secara daring menyelenggarakan kuliah umum etika profesi bagi calon wisudawan. Menghadirkan narasumber Dr. Yuli Fajar Susetyo, M. Si, Psikolog, dari Fakultas Psikologi UGM, kegiatan ini berjalan dengan baik dan lancar.

Dr. Sukarman, M. Eng selaku plt. Ketua STTN dalam sambutannya menekankan akan pentingnya etika dalam berprofesi bagi calon wisudawan yang sebentar lagi akan terjun ke dunia kerja. “Seorang lulusan, IPK bukanlah segala-galanya. Hal tersebut harus diimbangi dengan attitude serta kemampuan spiritual yang baik. Hardskill dan soft skill harus dilaksanakan dengan seimbang,” ungkapnya.

Sukarman berharap, penyelenggaraan kuliah etika profesi ini dapat memberikan bekal kepada calon wisudawan yang akan kembali ke masyarakat, masuk ke dunia kerja, sehingga perlu untuk memahami pentingnya sebuah etika.

(Yogyakarta, 13/10/21). Retnaning Setyorini, gadis kelahiran Nganjuk Jawa Timur ini mengawali langkahnya di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN-BATAN) karena kesukaannya dengan mata pelajaran Kimia pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Berhasil memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87 yang merupakan IPK tertinggi sebagai wisudawan Sarjana Terapan Teknik (S.Tr.T) STTN tahun 2021, bukan merupakan perjalanan yang mudah bagi Retna, panggilan dari Retnaning.

(Yogyakarta, 15/8/21). Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) sebagai lembaga pendidikan tinggi vokasi bidang kenukliran, kembali melaksanakan pengabdian masyarakat kepada salah satu perusahaan migas di Surabaya dalam bentuk inspeksi. Inspeksi dilakukan dalam rangka perawatan rutin, untuk menjamin keamanan instalasi dengan mengetahui kondisi instalasi dari hasil inspeksi menggunakan Detector Digital Radiografi (DDR) metode Profiling. Hal ini dilakukan karena metode Profiling dirasa sangat efektif untuk memastikan kondisi instalasi pipa migas, selain cepat prosesnya juga bisa mengetahui ukuran thicknes dari pipa instalasi secara lebih akurat.  Kegiatan dilaksanakan dari tanggal 24 – 28 Agustus 2021 dan 7 – 9 September 2021 dengan melibatkan 2 pegawai STTN yang telah memiliki sertifikasi radiografi, yaitu Tasih Mulyono, SST (Radiografi L-2) dan Haerul Ahmadi, M. Sc (Radiografi L-1).