Slide item 1

PKSEN melaksanakan pengkajian, pengembangan teknologi sistem PLTN dan pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkitan listrik, serta studi pemanfaatan thorium sebagai bahan bakar PLTN

Slide item 2

PKSEN melaksanakan tugas manajemen pembangunan PLTN (MPP) anatara lain pengkajian potensi kemampuan industri nasional, alih teknologi PLTN dan manajemen pembangunan PLTN dan kesiapan SDM.

Slide item 3

PKSEN juga bertugas untuk melaksanakan pengembangan perencanaan sistem energi nasional dan kelistrikan khususnya skenario dengan adanya pembangkit PLTN

Slide item 4

PKSEN mempunyai tugas dan fungsi menyiapkan data teknis aspek tapak dan lingkungan calon tapak PLTN yang memadai sebagai bagian dari insentif pemerintah untuk mendukung proses perijinan PLTN

(Jakarta, 12/9/2019). Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi menghimbau pemerintah untuk memasukkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam sistem kelistrikan nasional. Menurut Kurtubi Indonesia perlu mempercepat pertumbuhan ekonominya agar tidak terjebak dalam Middle Income Trap, berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah  tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.

“Namanya negara industri maju,  maka industrinyalah yang banyak,  industri yang berperan secara signifikan dalam pertumbuhan perokonomian negara. Untuk itu perlu didukung oleh adanya ketersediaan listrik yang mampu mendorong industrialisasi,” demikian disampaikan Kurtubi pada Focus Group Discussion (FGD) yang bertema Menyongsong Industri Nuklir di Indonesia, di Hotel Grand Zuri BSD, Tangerang Selatan, Selasa (10/9).

“Listrik menjadi kata kunci,  listrik yang cukup, yang reliable stabil 24 jam, biaya kompetitif, bersih dan aman. Semua industri butuh listrik, industri bekerja 24 jam, kecuali industri-industri tertentu, pabrik 24 jam, maka butuh ketersediaan listrik stabil 24 jam,” lanjut Kurtubi.

Menurut Kurtubi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih relatif rendah, stagnant di level sekitar 4, 5 hingga 6%. Selain keterbatasan infrastruktur dan pengelolaan SDA (migas dan tambang) yang belum optimal, faktor pentig lainnya adalah ketersediaan listrik yang belum bisa mendukung terjadinya industrialisasi secara masif.  “Itulah mengapa ekonomi Indonesia tidak pernah bisa tumbuh tinggi di atas 8%, apalagi tumbuh double-digit sebagai prasyarat agar bisa menuju menjadi negara industri maju,” ujarnya.

“Semua negara maju, yang terakhir Cina, pasti ada melewati periode dimana pertumbuhan ekonominya mencapai double-digit, pasti. Kemudian setelah itu menjadi negara established,” tambah Kurtubi.

Disampaikan oleh Kurtubi bahwa konsumsi listrik perkapita merupakan indikator utama yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam sebuah negara. “Kita melihat kemakmuran suatu bangsa, kalau konsumsi listrik perkapitanya tinggi, itu artinya konsumsi listrik di rumahnya tinggi. Ada AC, TV, komputer, mesin cuci dan lain-lain,” katanya.

“Konsumsi listrik perkapita masyarakat Indonesia terendah di Asia Tenggara.  Sekitar ¼ nya Malaysia, 1/3 nya Thailand dan sekitar ½ nya Vietnam,” lanjutnya.

Selain itu, menurut Kurtubi produk listrik di Indonesia sekitar 70% dikonsumsi untuk rumah tangga dan hanya sekitar 30% untuk industri dan komersial. “Saat ini Industri cina keluar dari negara Philipina. Kenapa migrasi industri Cina bukan ke indonesia, tapi ke Vietnam, Malaysia dan Thailand? Karena tidak cukup tersedia listrik untuk industri di Indonesia,” ujar Kurtubi.

Selanjutnya Kurtubi menyampaikan bahwa tambahan pembangkit yang diperlukan untuk menjadikan Indonesia negara industri maju setidaknya sekitar 400.000 MW. Sumber energi dari batubara dan geothermal maximal 24.000 MW. Sedangkan sumber energi hydro juga terbatas karena kemampuan air sungai juga terbatas dan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) dari tenaga surya, angin, biogas maupun mikrohidro bersifat intermittent.

“Jadi..., dari sumber energi primer manakah tambahan pembangkit ini akan dibangun? Akankah Indonesia terjebak menjadi negara kelas menengah untuk seterusnya? Idonesia tidak bisa menghindar untuk memanfaatkan kemajuan iptek PLTN. GO nuklir!,” pungkas Kurtubi. (my)