Slide item 1

PKSEN melaksanakan pengkajian, pengembangan teknologi sistem PLTN dan pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkitan listrik, serta studi pemanfaatan thorium sebagai bahan bakar PLTN

Slide item 2

PKSEN melaksanakan tugas manajemen pembangunan PLTN (MPP) anatara lain pengkajian potensi kemampuan industri nasional, alih teknologi PLTN dan manajemen pembangunan PLTN dan kesiapan SDM.

Slide item 3

PKSEN juga bertugas untuk melaksanakan pengembangan perencanaan sistem energi nasional dan kelistrikan khususnya skenario dengan adanya pembangkit PLTN

Slide item 4

PKSEN mempunyai tugas dan fungsi menyiapkan data teknis aspek tapak dan lingkungan calon tapak PLTN yang memadai sebagai bagian dari insentif pemerintah untuk mendukung proses perijinan PLTN

(Tangerang Selatan, 16/01/2020). Pemerintah saat ini tengah menyiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 - 2024 yang akan ditetapkan 20 Januari mendatang. Dalam RPJMN itu, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) ditugaskan menjadi koordinator 3 Prioritas Riset Nasional (PRN), yakni terkait Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), radioisotop dan radiofarmaka, dan Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan untuk Keselamatan dan Keamanan (SPRKK). Hal ini disampaikan Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan, saat bertemu dengan media lokal Tangerang Selatan, Kamis (16/01).

Isu PLTN selalu menarik untuk diperbincangkan. Kendati PLTN menjadi salah satu PRN, tidak berarti lantas segera dibangun.

Secara umum, jelas Anhar, pembangunan PLTN di suatu negara, dan juga sesuai rekomendasi Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA), dibagi menjadi 3 fase dan setiap fase melalui milestone (batu loncatan).

Fase pertama adalah pra project, utamanya adalah studi kelayakan dan studi tapak.

"Termasuk tempatnya dimana, PLTN jenis apa, kapasitasnya berapa, jadi menyiapkan  dokumen saja. Kemudian baru milestone pertamanya pemerintah bisa memutuskan go nuclear atau tidak, " lanjut Anhar.

Fase kedua masuk kepada formulasi project, dimana hasil studi kelayakan dan studi tapak, serta desain akan didetailkan kembali. Kemudian masuk ke milestone ke 2, yakni siap melakukan tender. Masuk ke fase 3, proyek pembangunan fisik, dan milestone ke - 3 siap untuk dioperasikan.

Dalam konteks PRN ini, BATAN akan memfokuskan pada fase pra project studi kelayakan dan studi tapak di Kalimantan Barat (Kalbar).

Alasannya, Kalimantan termasuk daerah yang dinilai relatif lebih aman dari gempa. Menurut Anhar, hampir semua pemerintah daerah di Kalimantan ingin daerahnya dilakukan studi terkait PLTN. Selain itu,  Kalbar membutuhkan pasokan listrik yang besar untuk mengolah sumber daya alam mineral bauksit agar lebih bernilai ekonomi.

“Kami sudah pernah pra survei di 6 lokasi. Kapasitas daya yang diharapkan terbangun prototipe PLTN  minimal 100 MWe. Untuk tahun ini kami akan melakukan survei lebih mendalam dengan target waktu 2  hingga 3 tahun. Memang harus diakui, lead time membangun PLTN butuh waktu yang lama,” tutur Anhar.

Selain bekerja sama dengan pemerintah daerah, BATAN juga bekerja sama dengan PT. Indonesia Power untuk studi kelayakan. “Kami tidak bekerja sendirian, karena membangun PLTN tidak melulu soal teknis, di dalamnya juga termasuk sosialisasi dengan masyarakat setempat yang tentu butuh banyak koordinasi,” terangnya (tnt).