WBK

.....

Slide item 8

.....

Slide Stop

.....

Slide item 1

Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN.....

Selengkapnya...
Slide item 2

Instalasi Elemen Bakar Eksperimental PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Elemen Bakar Eksperimental .....

Selengkapnya...
Slide item 3

.....

Slide item 4

.....

Slide item 6

.....

WBS

.....

(Tangerang Selatan, 12/10/2021), Spektrometer gamma merupakan salah satu metode pengujian tidak merusak (Non Destructive Test/NDT) yang dapat digunakan untuk menganalisis/mengidentifikasi jenis radionuklida pemancar gamma di dalam sampel/bahan secara kualitatif dan kuantitatif. Pengukuran radionuklida dalam sampel lingkungan dan hasil fisi dalam bahan bakar merupakan kegiatan untuk mendukung litbangjirap bahan bakar di PRTBBN, mahasiswa dan industri. Metode spektrometer gamma mempunyai kelebihan karena tidak membutuhkan preparasi sampel yang rumit. Pengamatan radiasi gamma yang dipancarkan oleh inti atom dari radionuklida hasil peluruhan dapat bersifat radioaktif maupun stabil. Sinar gamma memiliki daya tembus yang tinggi serta merupakan gelombang elektromagnet dan relatif mudah dideteksi. Pengukuran radionuklida atau isotop-isotop radioaktif menggunakan spektrometer gamma dalam bahan bakar nuklir baik untuk reaktor riset dan daya dilakukan untuk mendukung kegiatan litbangjirap bahan bakar nuklir di PRTBBN.

(Tangerang Selatan, 15/09/2021) Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) melaksanakan kegiatan workshop kompetensi laboratorium kalibrasi pada hari Rabu, 15 September 2021 dengan narasumber Bpk. Wenda Permana, beliau merupakan pakar kalibrasi dari CV. Metrology Global Services dan merupakan pegawai purnabakti dari PUSLIT KIM LIPI. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga serta meningkatkan kompetensi personil laboratorium kalibrasi, dimana laboratorium kalibrasi PTBBN telah memperoleh akreditasi ISO/IEC 17025 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN).

(Tangerang Selatan, 09/09/2021) Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) sebagai salah satu unit kerja di BATAN mempunyai tugas pokok dan fungsi melaksanakan perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pelaksanaan, dan pembinaan serta bimbingan di bidang pengembangan teknologi fabrikasi bahan bakar nuklir reaktor riset dan reaktor daya.

Sebagaimana diamanahkan dalam UU No 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, pelaksanaan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) serta invensi dan inovasi di lembaga pemerintah dituntut harus terintegrasi, dan melibatkan interaksi, kemitraaan, dan sinergi antarunsur Pemangku Kepentingan Iptek dalam rangka mendorong kemandirian, daya saing bangsa, dan daya tarik bangsa dalam rangka memajukan peradaban bangsa melalui pergaulan internasional.

(Tangerang Selatan, 08/09/2021), Gagasan pembangunan PLTN di Indonesia didasari oleh pertimbangan bahwa sumber energi fosil yang selama ini menjadi penopang utama dalam pembangkitan listrik di Indonesia mulai menipis. Peningkatan kebutuhan listrik dari berbagai sektor mengalami peningkatan sekitar 7% per tahun. Hal ini akan sulit dipenuhi jika hanya mengandalkan bahan fosil. Tuntutan pemenuhan kebutuhan listrik dan kualitas lingkungan yang bersih juga menjadi persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembangkitan listrik di masa mendatang. Pada Perpres Nomor 5 Tahun 2006 ditetapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga tahun 2025 dibutuhkan kontribusi sumber energi terbarukan biofuel di atas 5%, panas bumi di atas 5%, nuklir, surya, angin dan biomassa di atas 5% dan batubara yang dicairkan di atas 2%. Pengalaman beberapa negara yang sudah lebih dulu mengoperasikan PLTN, seiring dengan meningkatnya kebutuhan listrik, maka pembangunan PLTN yang pertama seringkali akan diikuti dengan pembangunan PLTN berikutnya. Demikian juga di Indonesia, apabila nanti akan dibangun dan dioperasikan PLTN maka harus disiapkan penguasaan teknologi fabrikasi dan uji pasca iradiasi bahan bakar nuklir baik teknologi maupun sumber daya manusianya.

(Tangerang Selatan, 18/08/2021), Manajemen Penuaan Instalasi Nuklir Non Reaktor seperti Instalasi Radiometalurgi (IRM) dilakukan guna melengkapi persyaratan perolehan izin operasi. Penapisan terhadap Struktur, Sistem dan Komponen (SSK) di IRM, telah ditentukan bahwa SSK Kritis yang perlu dikenakan manajemen penuaan adalah struktur pengungkung material radioaktif, yaitu hot cell. Struktur pengungkung selain dinding, lantai dan atap hot cell, juga komponen seperti ball-lock, wall/roof/floor plug, lead glass serta struktur pendukung utama seperti balok-balok beton sebagai penopang utama steel cell yang berada di basement juga dikenakan manajemen penuaan. Dengan demikian, maka SSK Kritis IRM sangat terkait dengan struktur hot cell. Oleh karena itu, struktur bangunan hot cell perlu dipahami agar penerapan manajemen penuaannya lebih tepat dan umur sisa dapat lebih tepat untuk diprediksi. Dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi pegawai, terutama yang terlibat dalam pelaksanaan maupun evaluasi penuaan SSK Kritis IRM maupun IEBE, maka dipandang perlu mengelenggarakan Workshop Kajian Penuaan Struktur Bangunan.