WBK

.....

Slide item 8

.....

Slide Stop

.....

Slide item 1

Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN.....

Selengkapnya...
Slide item 2

Instalasi Elemen Bakar Eksperimental PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Elemen Bakar Eksperimental .....

Selengkapnya...
Slide item 3

.....

Slide item 4

.....

Slide item 6

.....

WBS

.....

(Tangerang Selatan, 21/07/2020) PTBBN tetap produktif dalam meningkatkan kompetensi SDM ditengah masa pandemik Covid-19. Pada bulan Juli s.d Agustus 2020, PTBBN menyelenggarakan serangkaian Nuclear Knowledge Sharing dalam berbagai bidang kompetensi secara daring melalui aplikasi zoom, kegiatan ini adalah yang ketiga dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2020 dangan tema “Pengantar Forensik Nuklir; Pengalaman Pembelajaran dari Kejadian Keamanan Nuklir” yang disampaikan oleh Dr. Jan Setiawan, M.Si selaku Peneliti Madya di bidang Forensik Nuklir. Kegiatan ini diikuti oleh para fungsional Peneliti dan Pranata Nuklir di lingkungan Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir.

Jan Setiawan memaparkan bahwa jika berbicara mengenai insiden keamanan nuklir akan sangat sulit menemukan berita-berita di media digital dan rata-rata kasus tersebut tertutup karena bersifat confidential, namun untuk pembelajaran kali ini dibahas mengenai penemuan sumber Cs-137 di Perumahan Batan Indah dari sisi manajemen keamanan nuklir yang seharusnya dibangun di Indonesia. Keamanan Nuklir mempunyai prinsip dasar untuk melekatkan budaya keamanan nuklir ke seluruh organisasi yang terlibat. Semua organisasi atau industri yang memanfaatkan bahan nuklir harus menerapkan budaya keamanan nuklir hingga pada tahap individu-individu terbangun sikap kebutuhan akan kebudayaan keamanan nuklir menjadi prioritas. Kegiatan keamanan nuklir meliputi kegiatan preventif atau pencegahan, mendeteksi kemungkinan penyalahgunaan bahan nuklir, dan merespon jika terjadi insiden kemanan nuklir. Forensik Nuklir merupakan salah satu bagian dari Keamanan Nuklir yang berfungsi untuk pemeriksaan bahan nuklir atau barang radioaktif lainnya atau barang bukti yang terkontaminasi oleh radionuklida dalam konteks penegakan hukum terkait keamanan nuklir. Capaian ilmu forensik adalah menemukan keterkaitan antara orang, tempat, benda, dan kejadian.

Lebih lanjut Jan Setiawan menyampaikan bahwa pembelajaran yang dapat diambil dari kejadian penemuan sumber Cs-137 di Perumahan Batan Indah adalah internalisasi budaya keamanan nuklir dalam organisasi ke tingkat individu perlu ditingkatkan, perlu adanya koordinator untuk rezim keamanan nuklir, perlu koordinasi intensif lembaga/badan rezim keamanan nuklir (infrastruktur yang terkait), perlu meningkatkan pembelajaran manajemen TKP radiologi dan forensik nuklir, meningkatkan sinergi lembaga/badan yang mempunyai kemampuan analisis forensik nuklir, pengembangan kompetensi forensik nuklir yang sejalan dengan ilmu forensik, dan pengembangan metode uji dengan peralatan yang ada serta meningkatkan kemampuan analisis hasil uji.

Pada akhir kegiatan, Kepala Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir Ir. Agus Sumaryanto, M.S.M berharap BATAN mampu menjadi tempat belajar negara-negara lain dalam bidang forensik nuklir karena BATAN khususnya PTBBN mempunyai SDM dan alat-alat yang mumpuni untuk analisis forensik nuklir. (Nisa)