WBK

.....

Slide item 8

.....

Slide Stop

.....

Slide item 1

Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN.....

Selengkapnya...
Slide item 2

Instalasi Elemen Bakar Eksperimental PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Elemen Bakar Eksperimental .....

Selengkapnya...
Slide item 3

.....

Slide item 4

.....

Slide item 6

.....

WBS

.....

(Tangerang Selatan, 24/07/2020) Sharing Knowledge yang dilakukan oleh Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) masih terus berlanjut. Pada tanggal 24 Juli 2020 dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting telah diberlangsungkan sharing knowledge yang disampaikan oleh Ir. Aslina Br Ginting seorang Ahli Peneliti Utama dari Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) di Bidang Uji Radiometalurgi (BUR). Tema dari acara tersebut adalah Perhitungan burn up PEB U3Si2/Al densitas 4,8 gU/cm3 Potongan Middle. Kegiatan ini dimoderatori oleh Arif Nugroho, ST dan sekretaris Anditania Sari Dwi Putri, A.Md. Acara yang diikuti oleh seluruh karyawan PTBBN baik bidang teknis maupun non teknis ini, merupakan wahana tukar menukar informasi dan ilmu antar fungsional dan bidang mengenai pekerjaan yang telah dilakukan ataupun sedang dikembangkan, seperti yang diungkapkan oleh Ir. Sungkono, MT selaku Kepala Bidang Uji Radiometalurgi dalam sambutannya.

Pada masa pandemik ini, selain kita harus selalu menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan, tentunya kita harus tetap memaksimalkan kinerja serta mengurangi adanya pertemuan di kantor, sehingga salah satunya kegiatan seperti sharing knowledge ini lah yang dapat kita lakukan, ujar Ir. Agus Sumaryanto, M.S.M selaku Kepala PTBBN dalam sambutannya.

Ir. Aslina Br Ginting memaparkan bahwa tugas dan fungsi PTBBN itu sendiri merupakan pusat yang melakukan penelitian dan pengembangan bahan bakar reaktor daya ataupun reaktor riset. Aslina sebagai penanggung jawab utama dari kegiatan uji paska iradiasi Bahan Bakar Reaktor Riset memaparkan bahwa renstra PTBBN mengenai uji paska iradiasi bahan bakar reaktor riset dari tahun 2020-2024 yang dilakukan yaitu meliputi uji paska iradiasi Non Destructive Test (NDT) dan Destructive Test (DT) pada PEB U3SI2/Al densitas 4,8 gU/cm3. Pada tahun 2020-2022 dilakukan uji paska iradiasi NDT dan DT pada PEB U3SI2/Al burn up 40% (2020), 60% (2021), dan 20% (2022). Pengujian NDT yang dilakukan meliputi data cacat, dimensi, mest, ketebalan kelongsong, dan distribusi hasil fisi. Pengujian DT meliputi analisis metalografi, mekanik, dan fisikokimia. Pada tahun 2023 kegiatan yang dilakukan adalah melengkapi data yang belum lengkap dan dilakukan verifikasi uji paska iradiasi. Pada tahun 2024 dilakukan uji paska iradiasi PEB U-Mo/Al, dimana pada tahun sebelumnya telah dilakukan pembakuan metode terhadap uji pra iradiasi terhadap PEB U-Mo/Al.

Penelitian mengenai PEB dengan densitas 4,8 gU/cm3 ini dilakukan dengan cara mengiradiasi Elemen Bakar Uji (EBU), dimana dari 21 pelat dalam bahan bakar dummy disisipkan 3 EBU berisi 235U yang diselipkan pada alur ke 3, 7, dan 19, sedangkan pelat sisanya adalah dummy. Pelat nomer 3 merupakan untuk burn up 20%, 7 untuk 60%, dan 19 untuk 40%. Penetapan burn up ini didasarkan pada pemodelan yang dilakukan oleh PRSG menggunakan Origen Code. Parameter ditentukan sedemikian rupa sehingga dihasilkan burn up tertentu. Fenomena yang terjadi ketika iradiasi di dalam reaktor adalah adanya reaksi fisi. 235U yang ditembak neutron selanjutnya akan bereaksi menghasilkan radionuklida pemancar alpha, beta, dan gamma. Banyak sekali isotop yang terbentuk dari proses iradiasi tersebut,  isotop yang lebih stabil adalah Sr dan Cs. Dimana Sr adalah pemancar beta dan Cs adalah pemancar gamma. Keterbatasan alat yang terdapat  di laboratorium kami sendiri sehingga isotop yang digunakan untuk indikator burn up adalah cesium, ujar Ir. Aslina dalam pemaparannya.

Lebih lanjut Aslina menjelaskan, untuk memperoleh data hasil burn up itu tidak sulit, namun karena keterbatasan alat tersebut proses penyiapan sampel menjadi sulit. Proses penyiapan sampel dimulai pemotongan, penimbangan, pelarutan, pencuplikan, dan penimbangan kembali harus dilakukan di dalam Hot Cell karena bahan bakar paska iradiasi ini memancarkan radiasi gamma yang sangat tinggi. Setelah dicuplik barulah sampel dibawa ke laboratorium uji dengan tetap menggunakan shielding untuk mengurangi paparan radiasi gamma. Proses penyiapan sampel pun belum selesai sampai disitu, dari cuplikan sampel tersebut masih harus dilakukan pengenceran, pencuplikan, dan penimbangan kembali. Proses yang paling lama adalah proses pemisahan radionuklida pemancar gamma dan alpha. Mengapa harus dipisahkan? Seperti yang telah disebutkan, keterbatasan alat itu yang membuat proses penyiapan lebih panjang. Maka dari itu, beliau berharap kedepannya laboratorium di Instalasi Radiometalurgi (IRM) dapat membeli alat Mass Spektrometer sebagai alat utama yang digunakan untuk mengukur indikator burn up yang banyak digunakan pada penelitian di luar. Namun dengan keterbatasan tersebut, pekerjaan masih dapat dilakukan dengan hasil yang cukup baik. Dari pemaparan beliau, perhitungan burn up pada potongan middle yang diperoleh dengan proses pemisahan sampel yang cukup panjang dapat diperoleh nilai burn up  sebesar 41,656%. Data yang dihasilkan tersebut, akan digunakan untuk verifikasi hasil burn up yang diperoleh dari software origen code di Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG), dan sebagai umpan balik pada fabrikator mengenai unjuk kerja bahan bakarnya di reaktor. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan sementara bahawa nilai yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan perhitungan menggunakan software origen code di PRSG. Namun perhitungan tersbut belum dapat mewakili bahan bakar secara keseluruhan, masih terdapat potongan sampel posisi lainnya yang harus dilakukan perhitungan sehingga diperoleh nilai rata-rata yang dapat mewakili satu bahan bakar.

Pada sesi tanya jawab, cukup banyak pegawai yang tertarik menanyakan mengenai proses perhitungan burn up itu sendiri, mengenai proses penyiapan sampel, mengenai pengembangan bahan bakar yang terus berlanjut, dan mengenai penggunaan data hasil perhitungan burn up. Pada akhir acara sharing knowledge ini, Kepala PTBBN memaparkan bahwa penelitian dan pengembangan dari kegiatan ini tentu masih banyak yang dapat dikembangkan. Maka dari itu, beliau berharap kepada seluruh pegawai PTBBN untuk tetap semangat dan terus berinovasi dalam penelitian dan pengembangan yang menjadi tugas dan fungsi PTBBN. Beliau terus memberikan motivasi pada pegawai pegawai muda agar dapat memberikan inovasi pada kegiatan PTBBN. (Tari)