WBK

.....

Slide item 8

.....

Slide Stop

.....

Slide item 1

Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN.....

Selengkapnya...
Slide item 2

Instalasi Elemen Bakar Eksperimental PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Elemen Bakar Eksperimental .....

Selengkapnya...
Slide item 3

.....

Slide item 4

.....

Slide item 6

.....

WBS

.....

(Jakarta, 05/08/2020). Berbicara tentang pemanfaatan energi nuklir tak lepas dari penguasaan teknologi bahan bakarnya. Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Anhar Riza Antariksawan mengatakan, tugas BATAN adalah melakukan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan di bidang ketenaganukliran, di antaranya penyiapan bahan bakar nuklir untuk kepentingan non komersial.

Ia menuturkan, menurut Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, energi nuklir masuk ke dalam kategori Energi Baru dan Terbarukan (EBT), dimana Pemerintah menetapkan 23 persen EBT dalam bauran energi pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050. Namun hingga saat ini, porsi EBT baru mencapai 9,15 persen.

“Peran EBT semakin sangat penting bahkan dominan. Nuklir bagian dari EBT, maka nuklir dapat bersinergi dengan EBT yang lain,” ucap Anhar dalam Webinar bertajuk Domestifikasi Bahan Bakar Nuklir Menuju Kemandirian Energi Nasional, yang disiarkan live melalui konferensi video Zoom dan Youtube Humas BATAN, Rabu, 5 Agustus 2020.

Sebagai bagian dari EBT, lanjut Anhar, seharusnya tidak ada “diskriminasi” untuk nuklir, tetapi sebaliknya, harus disiapkan dengan baik, termasuk domestifikasi bahan bakar.

“Saat ini Indonesia sudah mandiri, BUMN yang bergerak di bidang ketenaganukliran, PT. Industri Nuklir Indonesia (INUKI), sudah bisa membuat fabrikasi bahan bakar reaktor nuklir G.A Siwabessy di Serpong (Tangerang Selatan),“ tambah Anhar.

Deputi Teknologi Energi Nuklir, Suryantoro mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi uranium dan torium, di antaranya terdapat di Kalimantan, dengan potensi uranium mencapai 45 ribu ton dan torium 7 ribu ton. Di Bangka Belitung potensi uranium mencapai 31 ribu ton dan torium 126 ribu ton. Sedangkan di Sulawesi potensi uranium dan torium masing-masing mencapai 3 ribu ton.

Pada rencana strategis 2020 – 2024, BATAN melalui PTBBN akan melakukan litbang fabrikasi dan uji pascairadiasi bahan bakar reaktor daya dan reaktor riset serta menjamin mutu bahan bakar nuklir produk PTBBN.

Ia menuturkan, tahapan pengembangan teknologi bahan bakar nuklir untuk reaktor daya, dimulai dari penelitian dan pengembangan, desain, teknologi fabrikasi, iradiasi, uji pascairadiasi, dan prototipe bahan bakar reaktor daya.

“Setelah bahan bakar terfabrikasi, harus diiradiasi di dalam reaktor, kemudian disana dia (bahan bakar) akan terjadi reaksi fisi, mirip persis yang ada di PLTN, setelah itu dikeluarkan dari reaktor. Setelah itu diuji pascairadiasi untuk uji rusak dan uji tak rusak, jadi akan dilihat karakternya, keunggulan dan kelemahan, dilakukan perbaikan-perbaikan. Kalau sudah optimal, baru ke tahap prototipe bahan bakar reaktor daya, “ jelas Suryantoro.

Ia merinci, pada tahun 2020 ini akan dilakukan data riset proses, fabrikasi dan uji pascairadiasi, kemudian pada tahun 2021 akan dilakukan conseptual design bahan bakar reaktor generasi III atau III+.

Pada tahun 2022 hingga 2024 akan dilakukan basic atau detail design spesifikasi bahan bakar, optimasi proses fabrikasi dan uji pascairadiasi. Kemudian tahun 2024 akan dilakukan prototipe bahan bakar reaktor daya meliputi fabrikasi dan dokumen uji lengkap.

Teknologi bahan bakar nuklir yang telah dihasilkan anak bangsa hingga saat ini di antaranya bahan bakar U3Si2/Al densitas 2,96 gU/cm3, yang telah di gunakan di reaktor nuklir G.A Siwabessy sejak tahun 1997 hingga sekarang. Kemudian bahan bakar U3Si2/Al densitas tinggi (4,8 gU/cm3) yang saat ini dalam proses post irradiation examination di hot cell Instalasi Radiometalurgi.

PTBBN BATAN juga telah mengembangkan batang kendali yang digunakan di reaktor nuklir G.A Siwabessy dan reaktor nuklir TRIGA di Bandung, dan produksi serbuk UO2 berderajat nuklir.

Suryantoro mengakui, banyak pihak yang mempertanyakan kemampuan Indonesia dalam mengelola PLTN, termasuk kesiapan bahan bakarnya. “Saya ingin tekankan disini, bahwa Indonesia siap mandiri energi nuklir melalui bahan bakar nuklir produk anak bangsa”, tegas Suryantoro.

Direktur Utama PT. Indonesia Power, M. Ahsin Sidqi, mengatakan, PT. Indonesia Power (IP) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah menyiapkan pegawai dengan latar belakang dan kompetensi PLTN sejak tahun 1993. “Tim PLTN di PT.IP dan PLN siap jika Pemerintah go nuclear,” katanya.

Ia mendorong agar domestifikasi bahan bakar nuklir harus segera dilakukan untuk mendukung terwujudnya PLTN di Indonesia.

Deputi Bidang Perizinan dan Inspeksi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Khoirul Huda mengungkapkan, saat ini terdapat 440 PLTN yang menyumbang 10 persen listrik dunia.

Terkait pengawasan, Ia menjelaskan, pembangunan PLTN melibatkan beberapa lembaga karena pembangunan PLTN mencakup aspek keselamatan nuklir, keselamatan lingkungan, pembangkitan listrik, dan sebagainya.

“Karena itu, BAPETEN mengawasi terkait nuclear island, sedangkan yang non nuclear island-nya melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Pemerintah Daerah setempat. BAPETEN siap mengawal dan mengawasi PLTN,” pungkasnya (tnt).