WBK

.....

Slide item 8

.....

Slide Stop

.....

Slide item 1

Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Radiometalurgi PTBBN-BATAN.....

Selengkapnya...
Slide item 2

Instalasi Elemen Bakar Eksperimental PTBBN-BATAN

PTBBN BATAN memiliki fasilitas Instalasi Elemen Bakar Eksperimental .....

Selengkapnya...
Slide item 3

.....

Slide item 4

.....

Slide item 6

.....

WBS

.....

(Tangerang Selatan, 18/01/2021) Dalam menghadapi situasi seperti saat ini, dimana terjadi pandemi covid-19 dalam kehidupan kita, protokol kesehatan menjadi sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua masyarakat. Ditengah segala keterbatasan yang ada, tidak lantas menjadikan kegiatan pegawai terhenti terutama dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM dilingkungan BATAN, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT) sebagai satuan administrasi pangkalan (satminkal) BATAN bekerjasama dengan Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN) menyelenggarakan Pelatihan Pengurus Inventori Bahan Nuklir mulai tanggal 18 Januari 2021 sampai dengan 04 Februari 2021. Adapun pembukaan acara pelatihan dilakukan oleh Pusdiklat pada tanggal 18 Januari 2021 secara daring.

Pelatihan ini diikuti oleh 19 pegawai terdiri dari 1 orang dari Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT), 8 orang dari Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA), dan 7 orang dari PTBBN serta 3 orang dari PT. INUKI.

Latar belakang diadakannya pelatihan ini karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memanfaatkan bahan nuklir untuk kepentingan damai, selain itu pada September 1980 Indonesia telah melakukan perjanjian seifgard dengan IAEA yang tertuang dalam IAEA INFCIRC/283. Implementasi seifgard di Indonesia diatur dalam Peraturan Kepala (Perka) BAPETEN No. 04 Tahun 2011 tentang Sistem Seifgard. Perka tersebut mewajibkan pembentukan organisasi Pertanggungjawaban dan Pengendalian Bahan Nuklir (PPBN) untuk setiap instalasi nuklir yang mempunyai Material Balance Area (MBA). Organisasi PPBN paling sedikit terdiri dari Pemegang Izin (PI), pengawas dan pengurus inventori bahan nuklir.

Setiap pengurus dan pengawas inventori bahan nuklir wajib memiliki Surat Izin Bekerja (SIB) sesuai dengan Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Republik Indonesia No. 7 Tahun 2019 tentang Izin Bekerja Petugas Instalasi dan Bahan Nuklir. Untuk mendapatkan dan memperpanjang SIB, pengurus dan pengawas inventori bahan nuklir harus memenuhi persyaratan dan lulus ujian kualifikasi yang diselenggarakan oleh BAPETEN. Salah satu syarat umum untuk mendapatkan SIB adalah telah lulus pelatihan inventori bahan nuklir. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan untuk para pengurus dan pengawas inventori bahan nuklir.

Berdasarkan latar belakang tersebut, pelatihan ini menjadi sangat penting untuk diadakan diantaranya agar dapat memenuhi persyaratan pengajuan dan perpanjangan SIB pengurus dan pengawas inventori bahan nuklir; meningkatkan kompetensi sehingga dapat lulus ujian kualifikasi dengan baik; meningkatkan kehandalan pengurus inventori bahan nuklir baru dalam pertanggungjawaban dan pengendalian dalam pemanfaatan bahan nuklir; mempertahankan kompetensi pengurus dan pengawas inventori bahan nuklir senior dengan cara sharing knowledge ilmu dan pengalaman mengenai akuntansi bahan nuklir; dan menjaga kualitas inventori fisik, rekaman dan laporan bahan nuklir yang dikerjakan sehingga mendekati zero finding ketika diverifikasi oleh inspektur BAPETEN maupun IAEA.

Ir. Fatmuanis Basuki, M.Si. selaku Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan dalam sambutannya menyampaikan, “Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bertekad mewujudkan birokrasi kelas dunia di tahun 2024 sekaligus menjadi organisasi pembelajar. Hal ini merupakan upaya BATAN dalam menyikapi cepatnya perubahan yang terjadi di dunia dan menghadapi persaingan global,” ujarnya.

Lebih lanjut Fatmuanis menyampaikan, sebagai langkah awal untuk mewujudkan tekad itu, BATAN melalui Pusdiklat akan membentuk corporate university yang merupakan amanat PP Nomor 17 Tahun 2020. Di dalam corporate university, konsep pelatihan diubah menjadi konsep pembelajaran, sedangkan pelatihan dipandang sebagai bagian integral dari manajemen human capital. Konsep ini selaras dan terintegrasi dengan rencana karir, suksesi, manajemen pengetahuan, budaya perubahan, peningkatan kinerja individu dan organisasi, serta dirancang khusus untuk membantu setiap unit kerja teknis untuk mencapai tujuan/sasaran/target kinerja, jelasnya.

Fatmuanis juga menjelaskan pengembangan kompetensi ini didesain dengan mengedepankan sistem pembelajaran yang terintegrasi dengan konsep 10:20:70. Angka ini menunjukkan 10% pembelajaran terstruktur (melalui webinar, e-learning, klasikal), 20 % pembelajaran dikomunitas (melalui coaching, mentoring, feedback dan komunitas belajar) dan 70% pembelajaran terintegrasi ditempat kerja melalui penugasan, problem solving, on the job training, magang, shadowing, dan keterlibatan dalam tim.

Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan dapat tersedia SDM yang memiliki kompetensi tinggi, sehingga dapat diperoleh manfaat dan output yang telah ditentukan, antara lain: (1) terjaminnya pemanfaatan bahan nuklir hanya untuk maksud damai oleh pengurus dan pengawas inventori bahan nuklir yang mempunyai SIB; (2) nuclear knowledge management sebagai salah satu strategi BATAN untuk lebih menghadirkan nuklir di tengah masyarakat; (3) meningkatkan inovasi para pengurus dan pengawas inventori bahan nuklir sehingga BATAN unggul pada bidang pertanggungjawaban dan pengendalian dalam pemanfaatan bahan nuklir. (rachma)