Slide item 1

PTLR-BATAN Menerima Pengelolaan Limbah Radioaktif dari Seluruh Indonesia

Di Indonesia zat radioaktif dimanfaatkan khususnya oleh industri dan rumah sakit. .....

Selengkapnya...
Slide item 2

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam Pengelolaan Limbah Radioaktif

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam kegiatan fasilitas nuklir di Serpong .....

Selengkapnya...
Slide item 3

Tugas dan Tanggung Jawab Pengelolaan Limbah Radioaktif di Indonesia adalah PTLR-BATAN

Dalam UU No.10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, bahwa Pengelolaan Limbah Radioaktif dilaksanakan oleh Badan Pelaksana .....

Selengkapnya...
Slide WBS
Slide LRA

Layanan Pengelolaan Limbah Radioaktif PTLR Langsung "panas" di Awal Tahun 2020

Layanan pengelolaan limbah radioaktif PTLR langsung "panas" di awal tahun 2020, tidak perlu menunggu waktu hingga tengah tahun. .....

Selengkapnya...

(Tangerang Selatan, 11/11/2019) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mmenugaskan peneliti seniornya yaitu Prof. Dr. DJarot Sulistio W dari unit kerja Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) untuk menghadiri acara "Technical  Meeting on Strengthening National Regulatory Infrastructure " yang diselenggarakan International Atomic Energy Agency (IAEA) pada tanggal 28-30 Oktober 2019 di Tokyo, Jepang. Jumlah peserta yang hadir ada 22 peserta dari 9 negara dan 1 dari IAEA. 

         Acara kegiatan ini selenggarakan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) bekerjasama dengan National Regulatory Authority (NRA) Jepang. Tujuannya untuk mengenalkan pengembangan Infrstruktur peraturan pasca terjadinya kecelakaan Fukhusima Daiichi pada tahun 2011 yang silam. Diharapkan dengan pengenalan tersebut, maka peserta dapat mengevaluasi peraturan di negaranya masing-masing, dan memperbaiki serta mengacu pada pengalaman penanganan kecelakaan yang terjadi di Fukushima. Kegiatan ini mengundang beberapa pembicara untuk menjelaskan status terakhir penanganan kecelakaan Fukushima daiichi, baik yang terkait dengan penanganan evakuasi, penanganan limbah, tanah dan air yang terkontaminasi.

           Terdapat sekitar 1,7 juta m3 hasil dekontaminasi terimpan di interim storage, dan ada pemikiran bahwa tanah-tanah tersebut dapat dimanfaatkan untuk bahan dasar strtuktur jalan atau bangunan, akan tetapi tetap dikontrol, dan berbeda dengan konsep “kliren”.  Di masa depan, fasilitas disposal akan dibangun dalam 30 tahun setelah penyimpanan sementara di luar prefektur Fukushima. Dalam pertemuan juga disampaikan dampak dari Typhoon Hagibis terhadap Large Container Bags di Temporary Storage Sites (TSS) yang menyerang Jepang pertengahan sampai 20 Oktober, ada beberapa kontainer yang berisi tanah hasil dekontaminasi terhanyut namun dari pengukuran dosis radiasi di udara dan air tak ada pengaruh yang signifikan. Dalam pengelolaan air tanah, untuk meminimalisir air tanah masuk ke gedung reaktor maka diciptakan dinding tanah beku (frozen-soilwall) sekeliling 4 unit gedung reaktor dengan panjang dinding 1500 m dan kedalaman 30 m.  Di samping itu dibuat impermeablewall untuk mencegah air tanah yang terkontaminasi untuk mengalir ke laut. Saat ini proses pengambilan bahan bakar nuklir berlangsung, dan khusus untuk reaktor unit 4 telah selesai, di unit 1 masih terdapat 392 bbn, unit 2, 615 bbn, dan unit 3, 538 bbn.  Tantangan berikutnya untuk pemindahan bbn ini adalah adanya debris bbn di dasar reaktor yang harus ditangani termasuk menggunakan robot.  

           Peserta juga diajak berkujung ke Fukushima melihat langsung penanganan pasca kecelakaan, dan dibawa sampai di bawa ke reaktor unit 4 yang bahan bakarnya sudah dikeluarkan dan dipindahkan ke lokasi yang berbeda. Impresi yang nampak adalah : budaya keselamatan yang sangat bagus, tertata, meskipun pekerjaan penanganan melibatkan sekitar 4000 pekerja dengan berbagai latar belakang dengan kompleksitas luarbiasa, namun sepertinya semuanya berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan. Pada hari terakhir, peserta dikenalkan pada penggunaan peraturan “back-fitting”.  Filosofi dasar aturan back-fitting adalah : faktor keselamatan yang secara kontinyu terus diperbaiki berdasar pada pengetahuan atau info terbaru yang diintegrasikan dalam peraturan yang sudah ada, dan hal itu diberlakukan meskipun fasilitas nuklir sudah mendapat ijin dan otorisasi dari badan pengawas. Sebagai contoh: pada bulan Desember 2018, terjadi tsunami yang lalu di selat Sunda akiba letusan gunung berapi, dan sifat tsunami tersebut tanpa peringatan (tsunami without warning). Maka Badan Pengawas Jepang (NRA) memutuskan bahwa PLTN Takahama harus melakukan tindakan terkait tsunami tanpa peringatan, karena mereka masih menggunakan sistem berbasis “tsunami warning”. Kemudian pengelola PLTN Takahama secara suka rela mengajukan amandemen ijin, sehingga perintah aturan “back-fitting” tidak diberlakukan. Kesimpulan dari acara tsb adalah, apabila kelak akan membangun PLTN, maka untuk antisipasi kecelakaan seperti di Fukushima, Indonesia wajib memperbanyak pemangku kepentingan yang tahu mengenai keselamatan nuklir, keselamatan radiasi dan pemanfaatan nuklir secara keseluruhan. (rk)

 

LAPORKAN GRATIFIKASI, SUAP, KORUPSI MELALUI ANDROID





Layanan Limbah Radioaktif



Pengaduan Masyarakat



Portal Sistem Informasi



Statistik Pengunjung

Live Visitors Counter

Hubungi Kami

Pusat Teknologi Limbah Radioaktif - Badan Tenaga Nuklir Nasional

Gedung 50 Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang Selatan 15310 INDONESIA

Telp. (021) 7563142 , Fax. (021)7560927

website: www.batan.go.id/ptlr

email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. 

atau Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.