Slide Hut RI 76
Slide WBS
Slide item 1

PTLR-BATAN Menerima Pengelolaan Limbah Radioaktif dari Seluruh Indonesia

Di Indonesia zat radioaktif dimanfaatkan khususnya oleh industri dan rumah sakit. .....

Selengkapnya...
Slide item 2

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam Pengelolaan Limbah Radioaktif

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam kegiatan fasilitas nuklir di Serpong .....

Selengkapnya...
Slide item 3

Tugas dan Tanggung Jawab Pengelolaan Limbah Radioaktif di Indonesia adalah PTLR-BATAN

Dalam UU No.10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, bahwa Pengelolaan Limbah Radioaktif dilaksanakan oleh Badan Pelaksana .....

Selengkapnya...
Slide LRA

Layanan Pengelolaan Limbah Radioaktif PTLR Langsung "panas" di Awal Tahun 2020

Layanan pengelolaan limbah radioaktif PTLR langsung "panas" di awal tahun 2020, tidak perlu menunggu waktu hingga tengah tahun. .....

Selengkapnya...

(Tangsel 11/02/2020) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menugaskan Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto peneliti senior  untuk menghadiri Conference on Applications for SMRs And Advanced Reactors to Promote Clean Growth yang diselenggarakan pada tanggal 5-6 Februari 2020 di Abu Dhabi. Pertemuan ini dihadiri dari 7 negara dan 1 dari IAEA jumlah peserta ada 20 orang.

Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk share perkembangan kondisi yang terkini dari berbagai negara yaitu: tentang pemanfaatan Small and Modular Reactors.  Pertemuan ini diadakan di Abu Dhabi dengan alasan bahwa UEA melakukan kemajuan yang berarti dengan pembangunan 4 PLTNnya, dan direncakan salah satunya akan beroperasi pada tahun 2020.

Dari hasil  pertemuan ini ada beberapa poin yang  sangat penting antara lain : 

  1. banyak negara tertarik dengan SMR hanya saja tantangan utamanya adalah : a. belum ada yang proven, artinya : dibangun dan belum dioperasikan. b.  Biayanya mahal, karena lebih ekonomis PLTN berukuran besar. c. meskipun berukuran lebih kecil namun proses perjanjian, apalagi kalau memakai teknologi lebih baru, dan membutuhkan waktu yang lama. d. Biasanya Badan Pengawas menggunakan dokumen untuk PLTN besar sehingga perlu waktu untuk mengadaptasi perubahan teknologi.
  1. Indonesia mempunyai 3 program besar untuk PLTN dan SMTR yaitu : a. Program studi kelayakan di Kalimantan Barat, dengan kemungkinan menggunakan PLTN besar atau  SMR berbasis PWR. b. Program Reaktor Daya Eksperimental (RDE) BATAN berdaya 10 MWth berbasis High Temperature Gas Cooled Reactor (HGTR). c. Program Molten Salt Reactor yang dilaksanakan oleh pihak Thorcon Indonesia.
  2. Kecenderungan program pembangunan PTLN tertunda karena biasanya faktor perijinan yang lama, dan atau biaya yang membengkak. Beberapa pembangunan SMR seperti HTR-PM Tiongkok dan CAREM Argentina yang menurut jadwal awal seharusnya sudah beroperasi, tetapi sampai saat ini belum ada kejelasan kapan dioperasikan
  3. Harus mulai di pikirkan tentang keamanan SMR (nuclear security), karena selama ini nuclear security lebih kearah PLTN besar dan juga pemanfaatan sumber radioaktif. Perlu sistem security by design  untuk SMR dengan sifatnya yang bisa ditambah dalam bentuk modul, bisa ditempatkan didaerah yang terisolasi ataupun padat penduduknya, dan juga variasi teknologinya yang banyak.
  4. Seharusnya ada suatu jembatan komunikasi antara badan pengawas yang independen dengan pengembang teknologi SMR, sehingga proses pembangunan SMR bisa lebih cepat. (rk)

           

LAPORKAN GRATIFIKASI, SUAP, KORUPSI MELALUI ANDROID



Layanan Limbah Radioaktif



Pengaduan Masyarakat



Portal Sistem Informasi



Statistik Pengunjung

Live Visitors Counter

Hubungi Kami

Pusat Teknologi Limbah Radioaktif - Badan Tenaga Nuklir Nasional

Gedung 50 Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang Selatan 15310 INDONESIA

Telp. (021) 7563142 , Fax. (021)7560927

website: www.batan.go.id/ptlr

email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. 

atau Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.