Slide item 12
korupsi

Korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa yang menjadi penghambat utama tercapainya tujuan pembangunan Nasional. Upaya untuk mensinergikan kegiatan pencegahan korupsi, pelaksanaan reformasi birokrasi, dan peningkatan kualitas pelayanan publik, maka PSTNT menetapkan kebijakan pembangunan Zona Integritas (ZI) dengan mambangun Wilayah Bebas dari Korupsi

reaktor kartini menuju era kemandirian

REAKTOR NUKLIR BANDUNG
Menuju era kemandirian  teknologi nuklir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat"

Peresmian

Pada tanggal 24 Juni 2000 Megawati Soekarno Putri meresmikan pengoperasikan "Reaktor TRIGA 2000" di Kawasan nuklir Bandung

analisis

Peran Teknis Analisis Nuklir dalam pemantauan kualitas udara di Indonesia

Litbang

Litbang sediaan radioisotop pemancar sinar beta untuk diaplikasikan di bidang kesehatan sebagai prekursor dalam pembuatan radiofarmaka

srikandi

Setelah 52 tahun, ternyata ada wanita-wanita muda yang berprofesi sebagai operator Reaktor Nuklir di Reaktor TRIGA 2000. Mereka lah para penerus cita2 Kartini... Selamat Hari Kartini, 21 April 2017.

(Bandung, 07/08/2020) Badan Tenaga Atom Internasional / International Atomic Energy Agency (IAEA) melakukan inspeksi rutin ke Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) di Bandung, Jumat (07/08). Kegiatan inspeksi atau Physical Inventory Verification (PIV) merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk mengetahui akutansi bahan nuklir yang ada di PSTNT.

Kepala Bidang Reaktor PSTNT, A. R. Iso Suwarso mengatakan, kegiatan PIV untuk mengetahui pengelolaan dan pemanfaatan bahan nuklir di Indonesia. “Kegiatan PIV ini sebagai bentuk komitmen BATAN dalam pengelolaan dan pemanfaatan bahan nuklir karena Indonesia telah menandatangi perjanjian NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty), dimana nuklir di Indonesia ini digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk pembuatan senjata nuklir atau hal yang merusak orang banyak,”, jelas Iso Suwarso.

Secara rutin, kegiatan PIV ini diadakan setiap 4 tahun sekali sedangkan inspeksi bahan nuklir yang dilakukan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dilakukan 2 kali dalam setahun untuk memastikan neraca bahan nuklir yang ada di fasilitas PSTNT. Setiap kegiatan yang terkait bahan nuklir harus tertelusur baik secara administrasi maupun secara fisiknya di lapangan.

Kepala Subdirektorat Inspeksi Bahan Nuklir, Bapeten, Kusbandono mengatakan, berdasarkan undang-undang, Bapeten mempunyai tugas untuk melakukan pengawasan tenaga nuklir di Indonesia. “Sesuai dengan UU No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, Bapeten mendapatkan mandat sebagai pengawas tenaga nuklir, dimana salah satu tujuannya adalah menjamin penggunaan bahan nuklir untuk tujuan damai. Tidak ada penyimpangan, Bapeten mendampingi BATAN sebagai bentuk tanggung jawab bahwa yang dilaporkan oleh Bapeten setiap ada perubahan bahan nuklir sesuai dengan kenyataan di lapangan,” jelas Kusbandono.

Kusbandono menambahkan, setiap laporan yang disampaikan termasuk perubahan bahan nuklir dan aktivitas yang berkaitan dengan bahan nuklir di PSTNT, harus sesuai dengan kondisi di lapangan. Bapeten juga menjaga status integrated safeguard artinya Indonesia sudah dipercaya untuk melakukan inspeksi secara mandiri.

Petugas Inspeksi IAEA, Emil Farkas menjelaskan bahwa PIV yang dilakukan oleh IAEA setiap 4 tahun sekali ini adalah untuk memverifikasi jumlah bahan nuklir yang tertera pada deklarasi telah sesuai dengan kondisi di lapangan. Untuk memastikan hal tersebut, petugas dari IAEA datang langsung ke PSTNT, menghitung, menginspeksi dan membandingan kondisi di lapangan dengan yang tertulis di deklarasi.

Emil Farkas akan melakukan pengecekan terhadap laporan yang disiapkan untuk IAEA baik dokumen dari Bapeten maupun BATAN dan itu harus sesuai. Pihaknya juga melakukan verifikasi terhadap Design Information bahwa fasilitas reaktor di PSTNT masih sesuai dengan Design Information Questionnaire.

Menurut Emil, inspeksi terdiri dari beberapa tahapan yakni, persiapan, inspeksi di lapangan dan analisis data yang didapatkan di lapangan dan penulisan laporan. Hasil Inspeksi di BATAN secara keseluruhan akan disampaikan di General Conference IAEA, terkait Indonesia di mata internasional dalam pemanfaatan tenaga nuklir apakah Indonesia transparan dan dapat meyakinkan tidak ada upaya penyalahgunaan bahan nuklir. (kpv)