Menuju Wilayah Bebas Korupsi
Slide item 1

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 2

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 3

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama dalam pelaksanaan kegiatan produksi radioisotop dan radiofarmaka

Keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama dalam setiap kegiatan di PTRR

Selengkapnya....
Slide item 4
Slide item 5

DESKRPSI PENGUJIAN RADIOISOTOP

Setelah melalui proses pemisahan dan pemurnian, terhadap radioisotop yang dihasilkan dilakukan pemeriksaan kualitas melalui serangkaian pengujian meliputi konsentrasi radioaktivitas, radioaktivitas jenis, kemumian kimia, kemumian radiokimia, kemurnian radionuklida dan pH.

A. Pengujian konsentrasi radioaktivitas
Konsentrasi radioaktivitas adalah tingkat keradioaktifan suatu radionuklida dalam volume tertentu. Penentuan keradioaktifan suatu radionuklida biasanya dilakukan dengan melakukan pengukuran radioaktivitas menggunakan alat GIC (gamma ionization chamber) / Dose calibrator. Konsentrasi radioaktivitas biasa dinyatakan dalam satuan µCi/ml, mCi/ml atau Ci/ml.

B. Pengujian radioaktivitas Jenis
Radioaktivitas jenis adalah tingkat keradioaktifan suatu radionuklida dalam berat tertentu. Penentuan radioaktivitas jenis suatu radionuklida biasanya dilakukan dengan melakukan pengukuran radioaktivitas menggunakan alat GIC/ Radioaktivitas jenis biasa dinyatakan dalam satuan µCi/mg, mCi/mg, Ci/mg atau Ci/g.

C. Penentuan kemurnian radionuklida
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya nuklida lain selain nuklida yang dimaksud, misalnya dalam radionuklida 99mTc dari hasil elusi generator 99Mo/99mTc adanya radionuklida 99Mo yang merupakan nuklida induk dari 99mTc tidak boleh melebihi dari 0,15 Ci/mCi 99mTc. Pemeriksaan kemurnian radionuklida dilakukan menggunakan alat spektrometer gamma dengan detektor HPGe/NaI(Tl) yang sudah dikalibrasi baik terhadap energi maupun effisiensinya.

D. Penentuan kemurnian radiokimia
Kemurnian radiokimia menunjukkan fraksi radionuklida yang berada dalam bentuk kimia yang dimaksud. Ketidakmurnian radiokimia biasanya disebabkan karena peruraian oleh pelarut, perubahan temperatur atau pH, cahaya, adanya zat pengoksidasi atau pereduksi dan akibat radiolisa. Kemurnian radiokimia dapat ditentukan dengan kromatografi kolom, kromatografi kertas dan lapis tipis, kromatografi gel, pertukaran ion, HPLC dan pengendapan. Kromatogram hasil kemurnian radiokimia dilakukan dengan menggunakan alat thin layer chromatography (TLC) scanner / radiochromatography scanner atau dicacah secara manual menggunakan alat gamma counter.

E. Pengukuran pH
Pengukuran pH dari radionuklida/radioisotop yang dihasilkan dari suatu proses pelarutan/pemurnian/pemisahan baik yang akan diproses lebih lanjut sebagai radiofarmaka ataupun dalam bentuk larutan induk penting sekali terutama untuk menjaga kestabilan komplek yang terbentuk. Sebagai contoh, larutan induk 131/125I sebaiknya disimpan dalam pH basa dimaksudkan untuk mengurangi penguapan yang terjadi jika larutan pHnya asam. Jumlah larutan radioisotop/radiofarmaka biasanya dalam volume kecil sehingga untuk pengukuran pH lebih umum digunakan kertas pH dengan rentang pH tertentu.

DESKRPSI PENGUJIAN RADIOFARMAKA

Kendali kualitas dalam produksi radiofarmaka dilaksanakan lebih ketat dari kendali kualitas produksi radioisotop, terutama dari segi keamanan (sterilitas, pirogenitas dan toksisitas), karena sediaan radiofarmaka digunakan dalam kedokteran dan menyangkut keselamatan manusia. Sediaan radiofarmaka yang memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan, dijamin akan aman dan berkhasiat dalam penggunaannya.

Produk radiofarmaka diklasifikasikan dalam beberapa katagori antara lain berupa :

  1. Kit kering/cair untuk di label/ ditandai dengan radionuklida seperti DTPA, MDP, HMPAO, MIBI, EC, ECD, MAA, Hynic TOC dsb.
  2. Generator radioisotop seperti 99Mo/99mTc, 188W/188Re , 113Sn/113mIn dsb.
  3. Larutan injeksi seperti 131I-Hipuran, 153Sm-EDTMP, 131I-MIBG, 201Tl dsb.

Produk radiofarmaka yang banyak sekali digunakan pada saat ini adalah bentuk kit kering, karena sediaan ini sangat mudah dan praktis sekali penandaannya hanya dengan menambahkan radionuklida langsung bias digunakan. Disamping itu juga kit kering cukup stabil untuk jangka waktu penyimpanan yang lama (3 bulan – 1 tahun) dibanding dengan larutan injeksi yang hanya bisa digunakan dalam beberapa jam saja karena terbatasnya waktu paro radionuklida yang digunakan. Secara garis besar jenis pengujian yang dilakukan untuk kendali kualitas dalam produksi radiofarmaka atau senyawa bertanda meliputi :

  1. Pemeriksaan fisika-kimia meliputi pemeriksaan visual (kejernihan), kemurnian radionuklida, pH, konsentrasi radioaktif, kemurnian kimia, kemurnian radiokimia, kadar zat aktif, kadar air dan penghitungan jumlah partikel untuk MAA.
  2. Pemeriksaan biologis meliputi pemeriksaan sterilitas, pirogenitas, toksisitas, biodistribusi dan penyidikan dengan kamera gamma.

Untuk suatu sediaan baru dalam tahap pengembangan perlu adanya pemeriksaan farmakologis yang meliputi blood clearance, renal clearance, bile excretion test dan pemeriksaan hipersensitivitas.

1. Pemeriksaan Fisika-kimia radiofarmaka
A. Pemeriksaan visual
Untuk sediaan radiofarmaka yang diberikan secara intravena, maka pemeriksaan visual harus dilakukan untuk menjamin tidak adanya partikel lain dalam larutan. Pemeriksaan visual untuk kit radiofarmaka terutama dilakukan setelah dilarutkan dengan pelarut yang sesuai, larutan sediaan diperiksa dari kemungkinan adanya pengotor yang secara jelas kelihatan dengan pengamatan mata biasa.

B. Kemurnian radionuklida
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya nuklida lain selain  nuklida yang dimaksud dalam suatu sediaan radiofarmaka/senyawa bertanda, misalnya dalam radiofarmaka 99mTc-HMPAO adanya radionuklida 99Mo yang merupakan nuklida induk dari 99mTc tidak boleh melebihi dari 0,15 Ci/mCi 99mTc (Lampiran 1). Ketidakmurnian radionuklida dalam sediaan radiofarmaka pada umumnya disebabkan oleh adanya ketidakmurnian isotopik dalam bahan target. Pemeriksaan kemurnian radionuklida dilakukan menggunakan alat Spektrometer gamma dengan detektor HPGe/NaI(Tl) yang sudah dikalibrasi baik terhadap enerji maupun effisiensinya. Dari hasil pemeriksaan kemurnian akan dapat diidentifikasi dan dihitung aktivitas setiap radionuklida yang terdapat didalam sediaan tersebut.

C. pH
pH dalam sediaan radiofarmaka penting sekali terutama untuk menjaga kestabilan komplek yang terbentuk. pH yang ideal untuk radiofarmaka adalah 7,4 yaitu sesuai dengan pH cairan tubuh, tetapi meskipun demikian dapat bervariasi dari 2 sampai 9 karena adanya pengenceran oleh darah yang juga berfungsi sebagai buffer. Pengukuran pH radiofarmaka dapat dilakukan dengan menggunakan pH-meter atau kertas pH yang telah diverifikasi menggunakan larutan standar pH.

D. Konsentrasi Radioaktivitas
Penentuan konsentrasi radioaktivitas dalam sediaan radiofarmaka penting untuk menentukan dosis yang akan disuntikkan dari radiofarmaka tersebut. Aktifitas terukur dari suatu sediaan radiofarmaka tidak boleh lebih/kurang 10 % dari aktifitas yang diperlukan untuk pemakaian setelah dikalibrasi terhadap waktu peluruhan radionuklida yang dimaksud. Pengukuran aktivitasnya dapat dilakukan dengan menggunakan gamma ionization chamber (GIC) atau spektrometer gamma. Satuan untuk konsentrasi radioaktivitas adalah MBq/ml, mCi/ml dan lain-lain.

E. Kemurnian Kimia
Pengujian kemurnian kemurnian kimia dari sediaan radiofarmaka dimaksudkan untuk menentukan zat aktif dan memeriksa adanya pengotor non radioaktif lain dalam sediaan tersebut, misal : adanya alumina pada larutan 99mTc merupakan pengotor kimia. Pengujian kemurnian kimia dapat dilakukan menggunakan alat HPLC, spektrofoptometer UV/Vis, Infra Merah dan lain-lain.
Secara umum, ketidakmurnian kimia dalam pembuatan sediaan radiofarmasi yang dapat menimbulkan keracunan atau dapat mempengaruhi proses fisiologis atau jika dapat menghasilkan interaksi yang tidak diinginkan (misalnya aluminium dapat menginduksi flokulasi Tc-99m sulfur koloid).

F. Kemurnian radiokimia
Kemurnian radiokimia sediaan radiofarmaka menunjukkan fraksi radionuklida yang berada dalam bentuk kimia yang dimaksud. Ketidakmurnian radiokimia akan bertambah disebabkan karena peruraian oleh pelarut, perubahan temperatur atau pH, cahaya, adanya zat pengoksidasi atau pereduksi dan akibat radiolisa. Kemurnian radiokimia radiofarmaka dapat ditentukan dengan kromatografi kolom, kromatografi kertas dan lapis tipis, kromatografi gel, pertukaran ion, HPLC dan pengendapan. Contoh pengotor radiokimia misalnya: adanya 99mTcO4- bebas dalam komplek 99mTc-MDP.

G. Kadar zat aktif
Kadar zat aktif (ligand) dapat ditentukan dengan spektofotometri, titrasi, HPLC, Kyeldahl dsb. Misalnya: penentuan kadar HMPAO dapat dilakukan dengan spektrofotometri UV/Visible.

H. Kadar air
Adanya molekul air bebas dalam sediaan radiofarmaka akan mempengaruhi terutama pada kestabilan sediaan tersebut, karena molekul air akan menyebabkan terurainya Sn2+ menjadi Sn(OH)2. Kadar air dalam sediaan radiofarmaka ditentukan dengan menggunakan alat Karl Fisher (Aquatest IV). Metode ini dilakukan dengan titrasi sample dalam methanol bebas air dengan pereaksi Karl Fisher yang dibuat dari Iodine, sulfur dioksid dan piridin dalam methanol bebas air. Titik akhir titrasi dapat ditentukan secara visual atau menggunakan peralatan elektronik yang sesuai.

I. Penghitungan Ukuran dan Jumlah Partikel (untuk MAA dsb.)

Selain dari pemeriksaan umum untuk sediaan radiofarmaka, pada kit MAA (makro agregat albumin) yang digunakan untuk penyidikan paru-paru perlu dilakukan penentuan ukuran dan jumlah partikel , karena besar atau kecilnya partikel akan mempengaruhi keberadaannya di dalam organ/jaringan. Penentuan ukuran dan jumlah partikel dilakukan menggunakan mikroskop dengan pertolongan Hemacytometer , partikel ukuran 15-90 m harus diatas 90 % (Medi Physics) dari jumlah total partikel dan jumlah partikel untuk dosis tunggal adalah 5 x 105 – 1,0 x 106 sedangkan untuk dosis ganda adalah 1,5 x 106 – 2,5 x 106partikel per vial (lampiran 2).

2. Pemeriksaan Biologis
Pemeriksaan biologis terhadap radiofarmaka sangat diperlukan terutama sekali untuk menjamin keamanan pemakaian dan khasiat sediaan tersebut. Pemeriksaan biologis terdiri dari uji biodistribusi, uji pirogenitas , uji sterilitas dan uji toksisitas.

A. Uji Biodistribusi

Untuk mengevaluasi secara rutin dan non-rutin senyawa radiofarmaka, percobaan in vivo dengan binatang percobaan telah memainkan suatu peranan penting sebagai transisi kepada pasien. Jika senyawa radioaktif dimasukkan pada makhluk hidup , baik secara injeksi atau oral, maka senyawa tersebut akan terdistribusi di dalam tubuh. Kecepatan distribusi dan eliminasi senyawa tersebut tergantung pada cara pemberian, bentuk senyawa kimia dan proses metabolismenya.

Uji biodistribusi pada hewan percobaan merupakan salah satu pengujian yang perlu dilakukan untuk mengetahui pola penyebaran dalam tubuh dari radiofarmaka setelah pemberian (oral, i.m, i.v, dsb.), waktu yang diperlukan untuk lokalisasi pada organ yang diharapkan, pelepasan dari organ tubuh, ekskresi dan dapat pula dipakai untuk menentukan waktu paro biologis sediaan tersebut pada setiap organ.

Hewan percobaan yang biasa digunakan dalam uji biodistribusi adalah mencit, tikus putih, kera dan kelinci. Biosdistribusi pada hewan percobaan dapat dilakukan berdasarkan 3 cara yaitu pembedahan organ, pencitraan/penyidikan tubuh hewan dan menggunakan autoradiografi.

B. Pemeriksaan Sterilitas
Steril diartikan dengan tidak adanya mikroorganisme (bakteri, jamur atau ragi) yang hidup dalam suatu sediaan atau bahan. Untuk mendapatkan suatu sediaan/bahan yang bebas sama sekali dari mikroorganisme sangatlah sukar, sehingga batasan sterilitas dinyatakan sebagai suatu tingkat kemungkinan terjadinya kontaminasi 1 x 10–6 untuk produk yang menggunakan sterilisasi akhir dan 1 x 10–3 untuk produk yang dibuat secara aseptis.

Uji sterilitas untuk sediaan farmasi tercantum dalam USP dan juga farmakope lain, sedangkan untuk sediaan radiofarmaka, uji sterilitas yang tercantum dalam USP tersebut tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan atau dipenuhi, mengingat adanya keterbatasan dalam beberapa hal seperti :

  1. Sebagian besar radiofarmaka mempunyai waktu paro fisik yang pendek, sehingga pemakaiannya tidak mungkin menunggu pengujian selesai yang memerlukan waktu cukup lama (7-14 hari).
  2. Volume sediaan terbatas, sehingga pencuplikan tidak memenuhi aturan dalam USP.
  3. Adanya masalah resiko radiasi
  4. Adanya masalah stabilitas radiokimia.

Dengan mempertimbangkan beberapa hal tersebut diatas, maka sediaan dapat dikirim terlebih dahulu sebelum pengujian sterilitas selesai. Pemeriksaan terhadap sterilitas radiofarmaka menurut USP dilakukan dengan menggunakan media tioglikolat cair (FTG) untuk bakteri aerob dan anaerob dan media sabourod cair (TSB) untuk jamur dan ragi. Perbenihan diinkubasikan selama 7-14 hari pada 36 - 37o C untuk FTG dan 22-25o C untuk TSB. Ada 2 cara inokulasi yang biasa dilakukan yaitu :

  1. Cara inokulasi langsung
  2. Cuplikan langsung dimasukkan ke media secara aseptis dan inkubasi dilakukan selama 14 hari.
  3. Cara inokulasi membran
  4. Larutan cuplikan disaring dengan saringan membran 0.22 m, kemudian membran dibagi 2 dan masing-masing dimasukkan ke media FTG dan TSB. inkubasi dilakukan selama 7 hari.

C. Pemeriksaan Pirogenitas
Pirogen merupakan hasil pertumbuhan dan metabolisme dari mikroba patogen yang berupa polipeptida, polisakharida dan nukleotida yang dalam jumlah sangat kecil (kurang dari 10 ng/kg berat badan) dapat menyebabkan demam, muntah dan menggigil. Reaksi pirogenik pada pasien dapat terjadi setelah pemberian sediaan 30 menit sampai dengan 2 jam. Sampai saat ini substansi pirogenik yang paling potensial adalah endotoksin yang merupakan hasil metabolisme terutama dari bakteri gram negatif. Substansi lain yang juga bersifat pirogenik adalah bakteri, virus, fungi, DNA, RNA dsb. Kontaminasi pirogen (endotoksin) dapat terjadi dari bakteri hidup maupun mati dan relatif resisten terhadap panas.

Dalam hubungannya dengan pengujian pirogen terhadap sediaan radiofarmaka, terdapat 2 cara pengujian pirogen ada 2 cara yaitu : secara in vivo menggunakan kelinci dan secara in vitro menggunakan LAL (Lymulus Amaebocyte Lysate)

D. Pemeriksaan Toksisitas
Pemeriksaan toksisitas dimaksudkan untuk mengetahui tingkat atau kemungkinan keracunan yang dapat ditimbulkan oleh suatu sediaan. Untuk sediaan radiofarmaka uji toksisitas tidak dilakukan untuk setiap batch produksi ,karena radiofarmaka digunakan dengan dosis yang rendah dan umumnya untuk keperluan diagnosis, sehingga pengujian radiotoksisitasnya tidak begitu perlu dilakukan. Pemeriksaan toksisitas sediaan radiofarmaka lebih ditekankan untuk mengetahui toksis/tidaknya bahan kimia yang digunakan untuk membuat sediaan tersebut. Cara pengujian terhadap toksisitas bermacam-macam, tergantung dari jenis toksisitas yang akan diperiksa.
Secara garis besar ada 2 jenis toksisitas yang diuji yaitu :

  1. Toksisitas akut
  2. diuji dengan cara menentukan nilai LD50 (dosis yang mematikan 50 % hewan yang diinjeksi dengan sediaan). LD50 biasanya dinyatakan dalam mg/kg berat badan.
  3. Toksisitas kronik
  4. Dalam hal ini hewan diinjeksi dengan dosis sub-lethal dose dan efeknya diamati dari penurunan berat badan, ketahanan hidup dsb. Pengujian toksisitas sederhana yang umumnya dilakukan terhadap sediaan radiofarmaka baru yaitu dengan menyuntikkan sediaan secara intravena pada 5 ekor mencit (berat 18-25 gram). Pengamatan terhadap mencit dilakukan sampai dengan 24 jam setelah penyuntikan, sediaan dinyatakan bebas uji bila tidak seekorpun dari mencit tersebut mati. Apabila ada 1 ekor yang menunjukkan kelainan/mati,percobaan diulang dengan mencit yang baru. Bila masih ada mencit yang mati, sediaan tidak memenuhi syarat.

E. Pemeriksaan Farmakologi
Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk sediaan radiofarmaka yang baru dikembangkan atau sediaan yang baru dipasarkan.Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan adalah uji pencucian darah (blood clearance test), uji pencucian dari ginjal (renal clearance test), bile excretion test dan uji hipersensitivitas.

Blood clearance test dilakukan dengan cara menyuntikkan radiofarmaka secara iv dan kadar dalam darah pada saat-saat tertentu diperiksa. Dari hasil pemeriksaan akan kelihatan gambaran penurunan kadar darah karena sediaan tersebut tertahan pada organ atau beberapa organ tertentu, atau telah dikeluarkan melalui saluran pembuangan. Pengujian blood clearance biasanya dilakukan dengan menggunakan binatang percobaan kelinci.

Renal clearance test dilakukan untuk mengetahui apakah jalur pembuangan suatu sediaan radiofarmaka melalui ginjal seluruhnya atau sebagian, serta kecepatan pembuangannya. Pada umumnya suatu sediaan radioaktif makin cepat dibuang dari tubuh akan makin baik, karena untuk mengurangi dosis radiasi pada tubuh. Saluran pembuangan lainnya adalah saluran empedu, kelenjar keringat, kelenjar ludah, dinding perut besar. Hewan yang digunakan untuk pemeriksaan ini adalah tikus atau kelinci.
Bile excretion test pembuangan radiofarmaka bisa juga melalui saluran empedu ke usus, sehingga bila terdapat perkiraan dibuang melalui empedu, dapat dilakukan pemeriksaan cairan empedu sekaligus dihitung kecepatan pembuangannya. Hewan yang digunakan untuk test ini adalah tikus, marmut atau kelinci.

Visitor Counter

 

Kontak PTRR

Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Gedung 11, Setu, Tangerang Selatan 15314

Telp: (021) 756-3141, 758-72031
Fax: (021) 756-3141

http//: www.batan.go.id
http//:www.batan.go.id/ptrr

Email : prr[at]batan.go.id